kamus

Rabu, 30 Mei 2018

Jangan rindu, itu sebuah kesalahan bung!

Kata Dilan, rindu itu berat
Kata orang, rindu itu indah
Tapi bagiku, rindu adalah sebuah kesalahan

Jangan tanya mengapa dan kenapa
Karena rindu itu menyiksa, terlebih jika orang yang kita cintai tak merindukan kita juga
Kesalahan bukan?

Rindu sebenarnya tak pernah ada
Karena rindu hanyalah sebuah jarak yang tersampaikan lewat imajinasi
Imajinasi saat mengingat, masa dimana kita bersama orang yang kita sayangi terlebih kita cintai

Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkan kerinduan
Berkomunikasi lewat telephone, bercerita dengan kerabat terdekat, bahkan hanya dapat menangis secaranya nyata atau dalam hati saja

Dan saat ini, aku sedang membuat kesalahan
Karena aku telah merindukan seseorang
Orang yang paling aku sayang dan cintai
Mungkin terlalu berlebihan jika kukatakan aku selalu merindukannya sepanjang waktu
Tapi benar, itu yang kurasakan sekarang
aku mencoba menyadarkan diri telah berbuat kesalahan karena aku memaksakan rinduku padanya hanya untuk diriku sendiri
Sedangkan orang yang kurindukan, tidak benar tahu betapa besarnya rinduku padanya

Aku melupakan apa yang pernah ku ucapkan
Bahwa jika kita menyayangi atau mencintai seseorang, berilah setengah hatimu
Karena jika suatu hari nanti kau terluka, kau masih punya setengahnya lagi
Dan kini kutahu, saat aku merindu yang begitu besar, aku terluka saat dia tidak merasakan betapa besar rindumu padanya
Terlebih karena hati yang pernah kusimpan setengahnya telah kuberikan semua untuknya

Jadi, masihkah pantas kita merindukan seseorang?
Entahlah.

Rabu, 11 April 2018

Mlayu Sak Kesele, Kekancan Sak Lawase "Komunitas Semarang Runners"


Semarang Runners merupakan komunitas yang memiliki kegiatan olahraga lari di malam hari. Meski begitu, komunitas ini memiliki banyak anggota dari berbagai kalangan. Seperti apa? 
 
Memiliki tubuh yang sehat adalah dambaan setiap orang. Untuk mendapatkan tubuh sehat, memang perlu berbagai usaha, diantaranya olahraga rutin dan istirahat cukup. Meski begitu, bagi sebagian orang, olahraga dianggap kegiatan yang sulit untuk dilakukan. Karena banyak yang menganggap, olah raga hanya dilakukan bagi mereka yang tidak memiliki kegiatan, dilakukan pada waktu senggang serta harus memakai berbagai peralatan agar terlihat lebih maksimal.

Dari pemikiran tersebut, sekumpulan anak muda menggagas Komunitas Semarang Runners yang menjadi wadah untuk berolahraga tanpa mengenal waktu dan menggunakan berbagai peralatan. Dengan memanfaatkan fasilitas publik yang ada (trotoar) maupun tepi jalan, Semarang Runners mengajak masyarakat untuk hidup sehat. Selain juga bertujuan untuk memasyaratkan olahraga lari di Semarang.


Komunitas yang berdiri sejak empat tahun yang lalu, awalnya bernama Indorunners dan saat ini berganti menjadi Semarang Runners. Hal tersebut untuk memudahkan orang mengingat komunitas lari tersebut lantaran di setiap kota memiliki komunitas yang serupa. Selain lari, agenda lain yang diadakan oleh komunitas tersebut diantaranya, bakti sosial serta choaching clinic untuk menarik minat masyarakat yang ingin bergabung.

Terbentuknya komunitas Semarang Runners sendiri, lantaran para anggota memiliki hobi yang sama dalam hal olahraga lari. Selain menjadikan badan sehat dan memperluas jaringan, lari dapat menjadi gaya hidup yang dibilanh kekinian khususnya masyarakat Semarang. komunitas tersebut memiliki agenda lari yang selalu terjadwal secara rutin setiap minggunya.

Semarang Runners memiliki agenda rutin untuk lari minimal tiga kali dalam seminggu. Setiap agenda memiliki rute, sebutan serta camp yang berbeda, seperti Playon Selasa Bengi (PSB) yang dimulai di halaman Grapari Telkomsel Pahlawan dengan rute 10k, lalu ada Playon Kemis Bengi (PKB) yang dimulai dari Balaikota Semarang dengan rute segitiga emas 5k dan Playon Minggu Isuk (PMI) dengan rute kawasan CFD. Untuk agenda lari malam, dimulai pukul 7. Khusus Hari Minggu, sifatnya tentatif. Kegiatan lari dapat dilaksanakan sesuai kesepakatan para anggota, dapat dilakukan pada pagi atau sore hari. 

Diceritakan oleh salah satu anggota Semarang Runners, pemilihan lari dengan agenda malam hari lantaran kebanyakan anggota merupakan pekerja hanya memiliki waktu luang di malam hari. Meski sibuk bekerja dan beraktifitas di pagi hari, mereka dapat berlari untuk menjaga kesehatan tubuh. Ini yang menjadi keunikan dari komunitas Semarang Runners.

Saat ini, keanggotaan aktif setiap agenda kurang lebih 50 orang yang terdiri dari berbagai profesi seperti pelajar, mahasiswa, TNI, Polri, karyawan, dokter, dan dosen. Tidak ada syarat khusus untuk menjadi anggota. Bagi pemula, biasanya didampingi oleh marshal sampe finish. Tidak perlu kuat, yang penting niat. Untuk menjadi anggota dari Semarang Runnerspun mudah, tinggal datang saat komunitas memiliki agenda, lalu mendaftar tanpa dipungut biaya dan peralatan olahraga seadanya.

Selain itu, agenda rutin yang dilakukan Semarang Runners dalam menarik minat anggota adalah bakti sosial yang bekerjasama dengan dompet dhuafa, program coaching klinik minimal sebulan sekali serta berkolaborasi dengan komunitas lain dalam balutan event.

Meski sudah lama berdiri, tentu berbagai hambatanpun ditemui oleh para anggota. Hambatan terbesar bagi Semarang Runners adalah cuaca, mengingat hampir di setiap kegiatan diadakan pada malam hari. Saat musim penghujan tiba, beberapa kegiatan lari terkadang ditiadakan karena kondisi yang tidak memungkinkan.

“Kalau hujan sebelum jamnya biasanya cancel, tapi kalau pas lari hujan ya kita tetep lari sampai finish soalnya udah terlanjur. Disitu kadang kita merasakan sensasi yang berbeda”, tutur Subhkan salah satu anggota dari Semarang Runners.

Pihaknya berharap, dengan adanya kegiatan ini, banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya menjaga kesehatan dengan cara berolah raga yang cuma-cuma tanpa mengenal batasan waktu, umur, maupun profesi. Selain itu, semoga banyak masyarakat yang lebih mengenal Komunitas Semarang Runner agar jumlah anggota yang bergabung semakin bertambah dan semakin solid.

Beberapa anggota menuturkan alasan bergabung dengan komunitas lari malam Semarang Runners lantaran mereka telah jatuh hati dengan olahraga lari. Selain tidak membutuhkan peralatan dan budget besar, olahraga tersebut dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Selain itu juga untuk memanfaatkan ruang publik, menambah pertemanan, dan yang terpenting menjaga badan tetap sehat dan bugar.

Jumat, 09 Maret 2018

Pengayuh Itu Bernama "Mbah Getek"

"Semarang Kaline Banjir"
Merupakan tagline yang sering kita dengar dan tidak asing lagi di telinga kita. Tagline yang memiliki arti "Semarang Sungainya Banjir /Meluap" memang terkesan negatif, akan tetapi tagline tersebut memiliki arti tersendiri bagi warganya. Tidak seperti yang dibayangkan pada tagline tersebut, kini Kota Semarang memiliki sungai yang selalu bersih dan nyaman untuk kita kunjungi seraya menikmati Kota Atlas yang penuh cinta tersebut.

Semarang sendiri memiliki beberapa sungai, salah satu yang terbesar adalah sungai "Banjir Kanal". Oleh sebab itu banjir kanal merupakan sungai yang paling tersohor dibanding yang lain. Banjir kanal sendiri memiliki dua aliran yaitu "Banjir Kanal Barat dan Timur". Dan kali mata saya tertuju pada pemandangan yang tak biasa ketika saya melewati sungai "Banjir Kanal Barat".

Memasuki pintu gerbang daerah Semarang Indah, kita disuguhkan pemandangan sungai di sepanjang kawasan Banjir Kanal Barat. Pepohonan yang tumbuh di sekelilingnya menambah asri suasana. Angin sepoi-sepoi seraya menyapa kita pada suguhan keindahan di salah satu sudut Kota Semarang.

Tak disangka, dari kejuahuan terlihat satu pemandangan unik dan tak biasa. Orang-orang berkerumun di pinggir sungai, mengayun-ayunkan tangannya seraya memanggil perahu kayu untuk segera berlabuh menghampiri. Sebut saja perahu getek. Benar saja, sebuah perahu kayu usang dengan warna cat yang mulai memudar itu menghampiri gerombolan orang di tepi sungai Banjir Kanal Barat. Lucunya, perahu tersebut berjalan sambil ditarik seutas tali tambang dari kiri ke kanan.

Perlahan tapi pasti, perahu mulai melaju mengikuti irama tangan sang nahkoda. Tampak pria setengah baya berkulit coklat gelap menarik-narik tali hingga ke tempat tujuan.
Karena penasaran, saya hidupkan mesin kendaran bermotor dan mencoba mendekati perahu yang dimaksud. Dengan ramah, sang nahkoda mempersilahkan naik dan kamipun berbincang santai di atas perahu kayu tersebut.

Ditemani dengan gemuruh angin kencang, membuat perbincangan kami semakin hangat. Mbah Getek, begitu orang-orang menyebutnya.
Pria yang disapa Sulistyono ini memulai pekerjaan sebagai pengemudi perahu seberang hampir 12 tahun, semenjak tahun 1995 silam. Pria kelahiran Semarang, 6 November 1983 menuturkan, sebelum menggunakan perahu seberang yang ditarik tali, ia terlebih dahulu menggunakan perahu getek. Itu mengapa orang-orang menyebutnya "Mbah Getek" hingga kini.

“Dulu masih perahu yang terbuat dari pring biasanya disebut getek, sekarang terbuat dari kayu terus ditarik tambang”, tuturnya.

Perahu seberang tersebut adalah buah pemikiran lantaran banyak anak sekolah serta para pekerja yang harus berputar dulu untuk sampai ke jalan yang sebelah (kokrosono). Karena tidak tersedianya akses jembatan yang dekat, akhirnya ia berinisiatif menciptakan perahu sebagai transportasi (menyebrang) masyarakat sekitar. Perahu tersebut sengaja dipesannya langsung dari pengrajin di daerah Demak.

Perahu seberang dapat ditemui setiap hari mulai pukul setengah 6 pagi hingga pukul setengah 6 sore dengan tarif sebesar Rp. 1000 untuk anak sekolah dan Rp. 2000 untuk umum. Jika ada barang yang diangkut seperti sepeda, tidak dikenakan biaya tambahan. Perahu dapat mengangkut sedikitnya 15 orang sekali jalan. Masih menurut penuturan sang nahkoda,  Ramaianya penumpang perahu tersebut pada jam-jam tertentu, sekitar jam 6 sampai 8 pagi dan jam 3 sampai 5 sore.

Banyak suka duka yang ia alami selama menjadi pengemudi perahu seberang. Tanpa kenal lelah, Mbah Getek tetap berjuang untuk menghidupi diri dan anak semata wayangnya. Baginya, bekerja adalah sebuah keharusan, meski pasang surut, ia tetap ikhlas dalam menjalaninya.

“Sukanya karena bisa mendapatkan uang. Kerjanya juga santai sambil menikmati pemandangan. Dukanya kalau musim hujan airnya meluap, kalau udah gitu kadang gak narik. Kalau air surut, lumpurnya mengendap di tengah, air tidak bisa mengalir lancar otomatis kapal juga gak bisa jalan", tutur Mbah Getek kepada saya.
Saat sang nahkoda mencoba menceritakan kisahnya selama menjadi penarik perahu seberang, ada semburat kesedihan yang terlihat jelas dari wajah sayunya. Meski tampak tegar saat bercerita, kesedihannya tak dapat tertutupi. Saya memahami getirnya kehidupan yang dialami Mbah Getek, meski tak dapat merasakan kesedihanya.

Sebenarnya, ada perasaan takut ketika saya mencoba menaiki kapal tersebut, karena tidak ada alat pengaman khusus yang digunakan untuk menjaga keselamatan penumpang. Tetapi Mbah Getek dapat menjamin keselamatan penumpangnya selama perjalanan.

“Tidak perlu ada yang ditakutkan karena saya dapat membaca situasi air di sungai ini”, tutur Mbah Getek mencoba meyakinkan.

Mbah Getek juga menjelaskan, jika hujan mulai turun, ia akan menarik perahunya ke pinggir sungai dan menaikkan tali yang menghubungkan antara dua jalan. Hal tersebut sebagai antisipasi jika air meluap, kapalnya tidak hanyut terbawa air.
Ia juga menuturkan bahwa selama ini tidak ada perhatian dari pemerintah. Dengan adanya proyek pelebaran sungai Banjir Kanal Barat serta pembuatan jembatan bagi pejalan kaki di dekat rel kereta api, penghasilannya kini berkurang. Yang semula mencapai Rp. 250.000/ hari kini hanya Rp. 130.000/ hari. Mbah Getek berharap semoga pemerintah memberikan tempat baginya untuk lebih berkreasi, seperti menjadikan Banjir Kanal Barat sebagai objek wisata air.

“Lebih di tata lagi, sampahnya dibersihkan. Selain itu, tepi sungai dipercantik, terus bisa untuk jualan. Tempatnya makin ramai, kan lumayan bisa tambah-tambah penghasilan masyarakat setempat”.

Tak terasa, hari mulai gelap. Sayapun bergegas untuk berpamitan. Dengan mengulas senyum dan melambaikan tangan, saya segera pergi meninggalkan Mbah Getek. Mungkin, itu sebuah pertemuan yang luar biasa. Dimana saya bisa belajar untuk lebih membuka mata, menghargai apa yang saya miliki saat ini dan tak lupa untuk selalu mengucap syukur.

Meski pertemuan saya dengan Mbah Getek tanpa disengaja, tapi saya yakini bahwa ini bukan sebuah kebetulan semata. Ini merupakan cara Tuhan memberikan pemahaman dan nasehat kepada saya melalui Mbah Getek.

Dan sebuah pelajaran yang dapat saya ambil adalah, bagaimanapun kehidupan kita saat ini, tetaplah bersyukur dan jangan berhenti untuk selalu bersyukur. Karena dari rasa syukur tersebut, kita akan mengetahui apa arti ikhlas yang sesungguhnya.

Selasa, 13 Februari 2018

Tangan Terampil, Wadah Berkreasi Masa Kini

Semarang merupakan kota komoditas terbesar karena merupakan Ibukota provinsi Jawa Tengah
Melihat mobilitas yang tinggi, membuat beberapa  UMKM mencoba memanfaatkan peluang tersebut

Salah satu UMKM yang berada di Semarang adalah Tangan Terampil yang merupakan kelompok usaha bersama yang bergerak di bidang pemberdayaan usaha kecil menengah khusunya bagi para pelaku bisnis.

Franssisca Nugraheni yang merupakan Project Officer Komunitas Tangan Terampil menuturkan alasan bergabung dengan komunitas tersebut lantaran tertarik dengan dunia bisnis.

Menurut penuturannya, Tangan Terampil berdiri lantar sang founder Bernadeta Natalia Pujiastuti merasa bahwa Usaha Kecil Menengah (UKM) di Kota Semarang tidak berkembang. Artinya para pelaku bisnis hanya dirumah, menunggu orderan datang. Oleh sebab itu, Tangan Terampil menjembatani mereka dalam upaya mengembangkan hasil produksi tidak hanya berjualan di rumah atau di gerainya saja, tetapi juga muncul di sawalayan, toko oleh-oleh serta melalui media online.

Cara kerja dari Tangan Terampil yaitu, merekrut orang yang mau menjadi member dengan memberikan kontribusi sebesar  Rp. 100.000/orang selama 1 tahun. Tujuan dari kontribusi tersebut sebagai pengikat agar orang tertarik.  Banyak feedback yang di dapatkan, seperti pelatihan, pendampingan, serta mengikutkan bazar-bazar produk member di setiap kegiatan.
Berbagai program ditawarkan oleh Tangan Terampil, diantaranya student preneurship yang merupakan kegiatan semacam ekstrakulikuler dan dilaksanakan pada sekolaha-sekolahan yang ditunjuk. Salah satunya di SMK Ignasius Semarang. Pemilihan dari sekolah tersebut lantaran memiliki jurusan akutansi dan pemasaran, sehingga suatu kesempatan untuk mengajarkan serta mengenalkan dunia bisnis sejak muda, terutama bagi mereka yang pintar membuat produk tetapi tidak pandai memasarkannya.

Program selanjutnya adalah pemberdayaan masyarakat yang mengarah pada wanita. Sasaran dari program tersebut, mereka yang berada di  Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A daerah bulu serta ibu-ibu penggendong barang serta pengupas bawang di Pasar Johar.
“Programnya kayak memberikan pelatihan membuat produk menggunakan limbah kain perca. Setelah memberikan pelatihan, kita tidak meninggalkan begitu saja, kita akan memberikan order kepada mereka untuk menjual. Ibaratnya adalah karyawan lepas dari Tangan Terampil.

Program yang terakhir dari Tangan Terampil yaitu adanya kelompok diskusi (gathering) yang  dilakukan setiap satu bulan sekali di hari Sabtu Legi. Diikuti oleh masyarakat umum dan member. Kegiatan tersebut diisi dengan materi dan evaluasi supaya pelaku bisnis lebih matang dalam berwirausaha.

“Goals dari Tangan Terampil adalah mengurangi jumlah pengangguran di Kota Semarang. Untuk membuktikan  bahwa mereka memiliki kreatifitas yang lebih, bisa menjadi pengusaha, menciptakan lapangan pekerjaan dan itu bisa dimulai sejak muda. Apabila sudah menjadi pebisnis, mereka dapat mengembangkan bisnisnya tidak hanya di Kota Semarang tetapi di seluruh Indonesia, tuturnya.

Sejauh ini, Tangan Terampil memiliki member sebanyak 40 orang yang tersebar di beberapa Kota seperti Semarang, Boyolali, Solo dan Jogjakarta. Untuk hasil binaan dari Tangan Terampilpun sudah menyebar di seluruh outlet-outlet di Indonesia. Tidak hanya di Semarang tetapi juga Jakarta, bali, Surabaya, Kalimantan dan masih banyak lagi.

“Harapan dari Komunitas Tangan Terampil adalah produknya dapat di terima oleh seluruh lapisan masyarakat terutama di Kota Semarang. Selain itu, memberikan dampak positif bagi ibu-ibu rumah rumah tangga, mereka bisa lebih produktif dan bagi anak muda setelah lulus kuliah mereka bisa berwirausaha dan bisa di hasilkan dari kemampuan diri sendiri".

Mimpi Itu Perlu Diperjuangkan Bukan?

Kamu percaya mimpi?
Kamu punya harapan?
Dan kamu perlu memperjuangkan?

Aku percaya dan sangat percaya
Tapi itu dulu..dulu saat aku masih menjadi orang yang kuat dan percaya diri
Dulu sebelum aku mengerti dan memahami apa itu tertekan dan depresi

Aku gak tahu
Kata apa yang tepat untuk menggambarkan jawaban itu sekarang

Mungkin, aku adalah orang yang idealis dan ambisius
Banyak yang mengatakan jika itu positif
Positif saat kita masih mencari jati diri
Tapi bagiku, itu adalah beban

Orang melihat, hidupku baik-baik saja
Selalu ceria, senang, gembira dan aku terlihat menikmatinya

Tapi apakah kamu tahu?
Sejauh mata memandang, ada hati yang selalu gelisah
Gelisah karena apa?
Akupun tidak tahu, apa yang aku khawatirkan sekarang

Masa depan?
Impian?
Cita-cita?
Akupun juga tidak tahu

Mungkin itu bukan pertanyaan dan bukan pula jawaban
Karna akupun tidak tahu apa yang menjadi kegelisahanku

Tapi aku tahu saat ini aku bingung, dan mungkin aku khawatir dengan hidupku
Mungkin juga saat ini, aku berada pada sebuah kulminasi kehidupan
Antara khawatir atau aku harus mencoba keluar dari rasa khawatir itu
Mencoba bangkit dan mencari apa yang harus aku cari
Mencari apa yang harus aku perjuangkan
Dan ya akupun tidak tahu

Aku tidak tahu, kemana lagi Tuhan akan membawa jalan hidupku
Meski Tuhan percaya, aku mampu untuk menempuh jalan itu

Luar biasanya, Tuhan memberikan aku jawaban melalui nang
Sekali lagi, kamu mencoba membawaku untuk menempuh jalan itu
Mencoba membangkitkanku meraih apa yang aku impikan
Mencoba menyadarkanku apa yang seharusnya aku lakukan, menghilangakan semua kegelisahan, ketakutan dan kekhawatiran

Dan sekali lagi, kamu mencoba meyakinkanku untuk terus berusaha, dan berjuang meraih apa yang aku impikan
"Karna proses tidak akan menghianati hasil dan kamu harus nikmati itu"
Sepnggal kata dengan beragam makna dan cerita yang akan selalu membekas

Aku janji, aku akan berjuang bersamamu
Aku janji, aku akan mencoba meraih mimpi itu
Brother.....trimakasih untuk segalanya
Mungkin ini adalah ungkapan terimakasihku yang kesekian kalinya tanpa kamu tahu
Dari lubuk terdalam hatiku, kamu selalu ada.
Karna mimpi perlu diperjuangkan bukan?
Dan sekali lagi, TERIMAKASIH NANG!!!!

Minggu, 16 Juli 2017

Melawan Stigma Ganda Lewat VCT

Oleh: Sheila Giza* 

             Dewasa ini, banyak yang masih menganggap kaum LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) adalah mereka yang memiliki kelainan seksual dan perilaku. Meski pada 15 Desember 1973 Asosisasi Psikiater Amerika (APA) menghapus homoseksual dari daftar resmi kekacauan jiwa dan emosional. Di tingkat internasional serta para ahli jiwa di Indonesia juga ikut mengeluarkan perilaku homoseksual dari gangguan kejiwaan yang tercantum pada Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III tahun 1993, namun kelompok LGBT masih menuai banyak permasalahan terlebih pada mereka yang homofobia (Arus Pelangi, 2008: 23).
            Tidak sedikit, kelompok minoritas tersebut mengalami stigma, diskriminasi bahkan kekerasan secara simbolik. Media massa memiliki andil mengkonstruksi hal itu. Media menyuguhkan berita mengenai isu LGBT dengan pembahasan permasalahan yang tidak sesuai dengan konteksnya. Menurut riset Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) periode 15 Juli 2015 sampai 20 Agustus 2015 melaporkan, media online menempati urutan tertinggi dalam menyuguhkan pemberitaan terkait isu LGBT yang sering mengupas isu ekonomi serta identitas seksual pada urutan tertinggi dan isu kekerasan seksual kelompok LGBT berada pada urutan terendah. Ini membuktikan bahwa kekerasan seksual yang mengarah pada pelanggaran HAM yang dialami kelompok LGBT terkesan ditutupi dan dibiarkan menguap tanpa adanya penyelesaian yang jelas. Di sisi lain, cara memandang kelompok LGBT tersebut memunculkan ekses berupa mengentalkan kekerasan dalam bentuk lain yang dikenal sebagai stigma ganda.
Data yang diperoleh dari penelitian Arus Pelangi tahun 2013, kelompok LGBT mengaku sering mengalami kekerasan pada tiga tahun terakhir. Kelompok lesbian sebanyak 84 orang (89,4%), kelompok gay sebanyak 68 orang (94,4%), kelompok waria sebanyak 104 orang (87,4%) dan kelompok biseksual sebanyak 43 orang (86%). Apabila data tersebut diakumulasi, sebanyak 89,3% kelompok LGBT di Indonesia mengalami kekerasan karena orientasi seksual, identitas gender, serta ekspresi gender. Kekerasan yang dialami kelompok LGBT ada pada kategori kekerasan psikis dengan prosentase tertinggi sebanyak 79,1%, kekerasan budaya dengan prosentase 63,3%, kekerasan fisik dengan prosentase 46,3%, kekerasan seksual dengan prosentase 45,1%, serta di urutan terakhir adalah kekerasan ekonomi dengan prosentase sebesar 26,3%.
Selain data dari Arus Pelangi, Ardhanary Institute yang dikutip dari CNN Indonesia memberikan data kekerasan yang dialami oleh kelompok LGBT sebanyak 37 kasus kekerasan berbasis orientasi seksual, gender, identitas gender serta ekspresi gender pada tahun 2014 dan 34 kasus kekerasan seksual pada tahun 2015. Gaya Warna Lentera Indonesia (GWL INA) juga memberikan data kekerasan terhadap gay dan transgender yang ditemukan sebanyak 26 kasus di tahun 2015 dan 1 kasus di tahun 2016.
Istilah stigma ganda menyerupai pemahaman beban ganda pada isu-isu feminisme yang melihat eksistensi pada dua domain yakni domestik dan publik. Stigma ganda di sini dimaknai sebagai beban ganda yang disematkan publik kepada kelompok LGBT di tengah upayanya untuk hidup normal laiknya manusia. Ganda bukan soal deret angka antara nol sampai sembilan, melainkan kualitas yang melampaui kuantitas. Stigma terjadi berlapis-lapis dan bertingkat-tingkat yang semuanya menyudutkan LGBT.
Stigma paling awal muncul dari sebuah pertentangan antara yang usual dan unusual atau ‘kodrat’ dan ‘tak kodrat’. Comman sense yang mengambang laiknya buih di atas aliran air ini mudah diomban-ambingkan dengan arus utama sebuah opini yang cenderung menggerus makna manusia. Kodrat manusia dipersipkan pada umumnya sebagaimana dijumpai, dialami dan diyakini tanpa melihat kemungkinan-kemungkinan lain. Sebagai manusia, LGBT, dinilai menyalahi ‘kodrat’ karena dianggap bertentangan dengan ajaran agama apapun, stigma sebagai manusia yang tidak bermoral dan yang lebih menyakitkan kala mereka dianggap sebagai penyebab utama penularan virus HIV/AIDS yang salah satunya pada kategori LSL (lelaki suka lelaki).
Stigma tersebut diyakini hasil dari kontruksi sosial yang berkembang di masyarakat karena berkaitan erat dengan lingkungan serta nilai-nilai yang dianut dalam budaya patriarki yaitu heteronormativitas atau pandangan yang mengharuskan laki-laki dan perempuan tunduk pada aturan heteroseksualitas. Inti dari heteronormativitas adalah fungsi prokreasi seksualitas atau berkembangbiak yang diperjelas dengan dikeluarkannya UU nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Sehingga, bagi siapa saja warga negara yang tidak taat pada budaya heteronormativitas, dianggap sebagai perilaku menyimpang. Pengotakan tersebut yang memunculkan label/stigma negatif yang melekat pada diri mereka juga kian melekat di benak masyarakat.
Seperti yang telah dijelaskan, salah satu stigma negatif masyarakat yang sangat menyakitkan adalah menganggap bahwa kelompok LGBT pada kategori LSL merupakan penyebab utama penyebaran virus HIV/AIDS di Indonesia. Meski kategori LSL juga ikut menyumbang dalam penyebaran virus HIV/AIDS, tidak serta merta masyarakat berargumen bahwa LSL merupakan penyebab utama dari penularan virus mematikan tersebut. Pandangan itu seharusnya disertai dengan berbagai bukti, data, serta penelitian yang valid agar tidak menjadikan kelompok LGBT semakin termarjinalisasi.

Stigma HIV/ADIS
Kita tahu bahwa perkembangan kasus HIV/AIDS di Indonesia cukup cepat yang tidak hanya terjadi di kota-kota besar, namun merambah di seluruh pelosok negeri. Tidak dapat dipungkiri, penyebaran virus tersebut dikarenakan semakin padatnya jumlah penduduk, mobilitas masyarakat yang cukup tinggi, kurangnya informasi akan kesehatan serta lingkungan yang mendorong untuk melakukan hubungan seksual berisiko tinggi (seks bebas). Penyebaran penyakakit HIV/AIDS seperti fenomena gunung es.
Temuan kasus jumlahnya kian meningkat, tetapi masih banyak jumlah ODHA yang belum diketahui. Berbagai cara dan pencegahanpun telah diupayakan Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan serta lembaga-lembaga terkait, namun tetap saja kasus HIV/AIDS masih berada pada titik tertinggi untuk penyakit mematikan. Meskipun telah dilakukan berbagai upaya dari sosialisasi sebagai pencegahan, konseling sebagai pengetahuan kesehatan serta pendampingan sebagai pengobatan dan membangkitkan semangat hidup ODHA, layaknya masih harus dievaluasi kembali mengingat virus HIV/AIDS merupakan penyakit yang mematikan dan selalu menjadi isu nasional yang harus segera di cari solusi terbaik. Solusi tidak hanya berasal dari pemerintah dan dinas-dinas terkait, namun juga peran serta masyarakat yang aktif dalam membantu menanggulangi virus HIV/AIDS.
Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia hingga tahun 2015 menunjukkan, kasus HIV/AIDS di Indonesia semakin meningkat. Temuan kasus HIV/AIDS pada tahun 2015 sebanyak 735.256 orang dengan jumlah infeksi baru sebanyak 85.523 orang. Jumlah angka kumulatif temuan kasus AIDS di Indonesia terbanyak pada kategori laki-laki dengan prosentase sebesar 55%, perempuan sebesar 32% dan tidak melaporkan jenis kelamin sebesar 13% yang jumlahnya meningkat sebanyak 4% pada tahun sebelumnya. Kategori tidak melaporkan jenis kelamin dalam data itu diindikasikan sebagai mereka yang berstatus sebagai transgender terutama laporan terbanyak pada variabel jenis kelamin yang tidak terisi berasal dari Provinsi DKI Jakarta dan Papua Barat sesuai data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Dari data itu, secara gamblang menyebutkan kategori homoseksual menyumbang temuan kasus AIDS sebesar 7,4%. Sedangkan faktor resiko heteroseksual menempati urutan tertinggi di banding dengan yang lain, sebesar 82,8%. Hal tersebut seharusnya dapat menjadi bukti nyata bahwa anggapan masyarakat terkait LSL sebagai penyebab utama penyebaran virus HIV/AIDS adalah tidak benar. Justru kaum heteroseksual sebagai penyumbang tersbesar, namun kelompok ini luput dari stigma masyarakat. Hal ini barangkali bisa diasumsikan tidak adanya sebuah asosiasi kelompok dari kaum heteroseksual yang dapat disalahkan (blaming) dibandingkan kaum LSL yang secara nyata mengukuhkan dirinya sebagai kelompok yang mulai terbuka (coming out).

Tantangan VCT
Stigma negatif terhadap LSL yang dilatarbelakangi oleh keterbukaan setiap individu LGBT mengenai orientasi seksual, dijadikan alasan sebagai penyebab utama penyebaran virus HIV/AIDS yang terlanjur menjamur di masyarakat. Melihat keprihatinan akan peningkatan penderita HIV/AIDS pada kategori LSL, maka individu gay di beberapa kota di Indonesia rutin melakukan tes HIV/AIDS serta konseling yang bertujuan untuk menekan peningkatan penderita HIV/AIDS dan menjaga kesehatan reproduksi meskipun jumlah individu gay yang secara sukareka mengikuti VCT (voluntary counseling and testing) sangat sedikit.
Tes ini dilaksanakan untuk mengatahui, ada atau tidaknya virus HIV/AIDS yang bersemayam dalam diri seseorang dengan cara mengambil sampel darah. LSL merupakan bagian dari kelompok masyarakat yang beresiko tinggi terkena virus ini, sehingga tes merupakan langkah yang wajib dilakukan. Semakin cepat terdeteksi, semakin cepat pula pengobatan dan penanganannya, sehingga seseorang dapat diselamatkan dari virus HIV/AIDS.
Lokasi pemeriksaan bisa bertempat di puskesmas, rumah sakit atau pelayanan kesehatan yang bekerjasama dengan dinas terkait. Fasilitas kesehatan milik pemerintah telah memiliki standar operasional prosedur yang memperlakukan dengan ramah kelompok ini. Misalnya dengan membuat menambah jam pelayanan hingga malam hari dan menambah jam kerja, sehingga memungkinkan kelompok ini dapat dengan mudah mencari waktu yang tepat dan longgar untuk memeriksakan diri setelah selesai dengan rutinitas pekerjaan. Salah satu keberhasilan dari penanganan penyakit menular adalah deteksi dini.
Persoalannya, deteksi dini pada LSL sulit dilakukan, karena sebelum kaki mereka menginjak fasilitas kesehatan, rentetan stigma telah disandang, sehingga untuk membuka diri atau mengakui diri sebagai gay di hadapan sesama gay, misalnya, memerlukan sebuah keberanian. Terlebih mengakui bagian dari LSL di depan dokter atau perawat yang baru dikenalnya. Hal ini merupakan tantangan dalam program VCT. Namun, keberaniannya melaksanakan tes tersebut, memiliki makna luas. Tidak sekadar mengikuti program pemerintah, tetapi juga melawan berbagai stigma yang telah disematkan kepadanya.
Seorang aktivis gay di Kota Semarang, Jawa Tengah, menceritakan upaya mengajak LSL melalui strategi tutor sebaya atau teman sesama gay. Cara ini efektif diterapkan. Dalam waktu beberapa tahun, sudah ada ratusan gay yang terlibat VCT. Namun, diakuinya masih banyak yang enggan yang dipicu antara lain soal stigma yang berdampak pada ketertutupan diri sendiri.
Stigma yang telah melekat pada individu gay menjadikan alasan untuk menutup diri, sehingga tes tersebut tidak dijalankan. Akibatnya, virus HIV/AIDS tak terdeteksi sejak dini. Tes ini juga bukan bermakna setiap orang yang memeriksakan diri adalah terinidikasi virus, tetapi tes sebagai bentuk penyisiran terhadap penyakit menular. Belum adanya keterbukaan diri dalam individu menjadikan jumlah individu gay yang terlibat tergolong sedikit.
Keengganan untuk terlibat VCT, disebabkan adanya beban ganda yang dimiliki individu gay karena pandangan negatif dari masyarakat. Masyarakat meyakini bahwa identitas seksual individu gay mengacu pada perilaku seksual menyimpang yang mengakibatkan penularan virus HIV/AIDS. Stigma yang pertama adalah mereka gay. Stigma tersebut yang pada akhirnya membuat individu gay merasa diberlakukan tidak adil di negara demokrasi ini. Mereka meyakini bahwa tidak mudah untuk hidup dalam orientasi yang berbeda di Indonesia. Permasalahan kemudian muncul ketika individu gay kembali memperoleh stigma sebagai penyebab utama penyebaran serta penularan virus HIV/AIDS bagi masyarakat.
Masyarakat akan memberikan beban ganda karena stigma ganda yang dimunculkan bahwa “sudah gay juga positif HIV/AIDS”, sehingga besar kemungkinan mereka akan terkucilkan dan terisolir dari kehidupan sosial bermasyarakat. Individu gay yang mau melakukan tes serta konseling distigma oleh masyarakat sebagai kaum marjinal (homoseksual) dan stigma ganda akan bertambah ketika mereka juga terkena penyakit HIV/AIDS. Permasalahan tersebut yang menjadikan ketakutan bagi mereka untuk melakukan VCT secara sukarela serta menemukan orang-orang yang positif HIV/AIDS di tengah-tengah masyarakat. Sehingga ketakutan merupakan hambatan terbesar untuk melakukan tes HIV/AIDS. Upaya mengakses fasilitas kesehatan ini sebetulnya membuktikan upaya perlawanan simbolik terhadap stigma yang melekat terkait kaum LSL atau LGBT sebagai saran penyebaran virus HIV/AIDS.
Berbagai cara tentu dilakukan mereka dalam upaya mensosialisasikan serta mengkampanyekan tes kesehatan atau VCT bagi masyarakat khususnya pada kelompok LGBT tersebut. Berbagai faktor penghambat indivdu gay enggan melakukan VCT beragam. Faktor-faktor tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek diantaranya kondisi sosial dan budaya, kondisi keluarga, agama, pendidikan seksualitas, serta biaya.
Kondisi sosial dan budaya di Indonesia yang belum mengakui bahkan tidak menerima adanya kelompok LGBT, menjadikan faktor individu gay tidak mau terbuka akan orientasi seksual serta perilaku seksualnya sehingga mereka enggan melakukan VCT secara sukarela. Penerimaan lingkungan terhadap sikap sosial dan budaya pada individu dengan beragam orientasi seksual, identitas seksual serta ekspresi gender dengan mereka yang heteroseksual pada umumnya berbeda. Mereka yang cenderung menolak keberadaan kelompok LGBT bisa dikatakan adalah mereka yang belum memahami secara mendalam akan perbedaan orientasi seksual, identitas seksual serta ekspresi gender.
Mayoritas masyarakat yang memiliki populasi serta kekuasaan yang besar sesungguhnya terkungkung dalam kontruksi sosial akibat minimnya pengetahuan. Kelompok LGBT adalah manusia yang sama seperti manusia pada umumnya yang membutuhkan kesetaraan hak, perlindungan serta penerimaan lingkungan. Namun hal tersebut hampir atau bahkan mustahil di dapatkan oleh kelompok LGBT terlebih pada lingkungan sosial dan budaya di Indonesia. Faktor tersebut yang membuat kelompok LGBT menutup diri akan orientasi seksual, identitas seksual serta ekspresi gender.
Individu heteroseksual lebih diterima masyarakat karena mengacu pada heteronormativitas, sebaliknya individu dengan beragam orientasi seksual, identitas seksual serta ekspresi gender yang berbeda lebih menonjol dikalangan masyarakat karena dianggap tidak sesuai dengan konformitas yang mengacu pada prokreasi. Banyak orang mengetahui adanya keberadaan kelompok LGBT namun tidak sedikit orang yang mengacuhkan keberadaan mereka. Fakta yang paling menonjol adalah penerimaan seorang waria dilingkungan keluarganya. Banyak dari waria mengaku tidak diterima pihak keluarga atau bahkan diusir karena dianggap membawa aib bagi keluarga.
Berdeda dengan mereka yang cenderung memiliki orientasi seksual lesbian, gay dan biseksual. Masih diterima oleh lingkungan keluarga apabila mereka mengunci rapat apa orientasi seksualnya. Namun ada beberapa keluarga yang mampu menolerir perbedaan orientasi seksual meski penerimaan tersebut masih dalam kategori abu-abu. Artinya adalah mereka diberikan haknya untuk menjalani pilihan sebagai seorang LGBT, tetapi secara kurang rela dan tetap mengharap jika nantinya mereka dapat kembali menjadi seorang heteroseksual.
Secara konseptual, banyak orang Indonesia yang menyatakan bahwa mereka menentang homoseksualitas. Laporan Global Attitudes Project oleh Pew Research yang dikutip dari (Laporan LGBT Nasional Indonesia: Hidup Sehat Sebagai LGBT di Asia. Tinjauan dan Analisa Partisipatif Tentang lingkungan, Hukum dan Sosial Bagi Orang dan Masyarakat Madani Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender menyebutkan, sikap terhadap homoseksualitas menunjukkan adanya penolakan terhadap homoseksualitas oleh 93% responden survei di dalam negeri dan hanya ada 3% yang bersikap menerima.
Namun, dilain sisi seperti beberapa negara yang telah melegalkan pernikahan sesama jenis adalah orang-orang yang bersikap liberal, progresif serta memahami secara mendalam prinsip-prinsip hak asasi manusia tentang keragaman orientasi seksual, identitas seksual serta ekspresi gender pada segala aspek. Apabila pihak keluarga tidak mau menerima orientasi seksual mereka, bagaimana jika pihak keluarga mendapati kenyataan bahwa “sudah gay juga terkena HIV/AIDS”. Tentu hal tersebut yang dapat menjadikan salah satu faktor seorang individu gay enggan coming out, sehingga menjadi penghambat individu gay untuk melakukan VCT secara sukarela.

Agama dan Pendidikan Seksualitas
Keluarga merupakan faktor utama yang berpengaruh besar terhadap kehidupan kelompok LGBT, akan tetapi penerimaan keluarga terhadap orientasi seksual individu gay dibatasi karena tekanan sosial serta budaya yang kuat terlebih karena acuan menjadi heteronormativitas dengan tujuan prokreasi. Faktor lain yang berpengaruh terhadap kelompok LGBT adalah agama. Penduduk Indonesia adalah kumpulan orang beragama, seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Ajaran agama yang ditafsirkan secara konservatif oleh individu-individu religiuslah yang mempengaruhi pandangan masyarakat untuk menolak keberadaan kelompok LGBT. Semakin religius (formalistik) suatu daerah, maka akan semakin besar tantangan yang dihadapi oleh kelompok LGBT, sebab syariat agama akan dibawa untuk dijadikan tameng mendiskriminasi kelompok minoritas tersebut.
Sebagian besar kelompok LGBT yang dibesarkan pada lingkungan yang beragama, pastilah menerima penolakan yang sangat kuat baik pada level keluarga, tempat tinggal maupun lingkungan sekitar yang menginternalisasi homofobia sehingga mereka mengalami kesulitan untuk dapat menerima orientasi seksual, identitas gender serta ekspresi gender mereka sendiri. Mereka seperti di bawah kungkungan dosa karena berbeda seperti orang pada umumnya (straight) terlebih jika para tokoh agama selalu menyuarakan bahwa keberadaan LGBT berlawanan dengan fitrahnya. Seperti yang dikutip pada bukunya Hendri Yulius Coming Out (2015), “Bisakah seorang gay tetap beriman meski melakukan hubungan sesama jenisnya?”.
Pertanyaan tersebut yang sebagian besar menjadi pergulatan batin individu gay untuk mau terbuka akan orientasi seksualnya terlebih bagi mereka yang dinyatakan positif HIV/AIDS. Faktor agama juga diyakini sebagai penghambat individu gay enggan melakukan VCT secara sukarela karena mereka seperti diikuti rasa berdosa dan ketakutan jika nantinya masuk neraka hanya karena orientasi seksual. Perlu diingat bahwa setiap manusia adalah tempatnya salah dan dosa, sehingga bukan berarti karena mereka berbeda dengan orang heteroseksual maka dapat menghakimi kaum homoseksual.
Makna dari pendidikan seksualitas tidak hanya membahas mengenai hubungan intim seseorang saja namun juga persoalan mengenai keragaman gender, orientasi seksual, identitas seksual, ekspresi gender, perilaku seksual, kekerasan seksual, pornografi serta kesehatan reproduksi. Seksualitas merupakan suatu pemahaman diri yang saling berkesinambungan antara isu seksual, politik, kesehatan, sosial, ekonomi, hukum, maupun budaya sehingga jika berbicara mengenai seksualitas, maka tidak dapat berdiri sendiri.
Michel Foucault dalam bukunya La Volonte de Savoir Histoire de la Sexualite (Ingin Tahu Sejarah Seksualitas), menjelaskan sejak abad ke-17, seksualitas kerap diperbincangkan pada berbagai kelas sosial meski secara sembunyi-sembunyi karena saat zaman tersebut membicarakan seksualitas adalah hal yang dilarang. Sejak abad ke-18, seks tidak henti-hentinya menimbulkan semacam dorongan yang semakin besar untuk membentuk wacana oleh karenanya karena dorongan akan wacana seksualitas semakin mengalir yang membuat Foucaultpun akhirnya menulis tentang penyimpangan. Hingga abad ke-18, tiga kode eksplisit digunakan sebagai acuan di samping kebiasaan adat istiadat dan kendala pendapat umum menguasai kegiatan seksual seperti hukum agama, ajaran pastoral kristen dan hukum perdata. Kode yang beragam tersebut tidak memisahkan secara jelas antara pelanggaran atas aturan perkawinan maupun penyimpangan yang bersifat genital. Berbicara mengenai seksualitas juga tidak terlepas dari sosok homoseksual dan lebih merupakan kodrat khasnya daripada kebiasaan yang mengandung dosa. Homoseksualitas diyakini muncul sebagai salah satu perwujudan seksualitas ketika dialihkan dari praktik sodomi menjadi semacam androgini batin maupun hermaphrodisme jiwa (2008: 56-66).
Pendidikan seksualitas juga sebaiknya memberikan pengetahuan serta informasi seputar kesehatan dan kesejahteraan kelompok LGBT di Indonesia terutama yang terkait dengan isu HIV/AIDS dan penyakit menular seksual yang tidak hanya ditujukan bagi mereka yang heteroseksual. Oleh karena itu, kurangnya pendidikan akan seksualitas baik pada kelompok LGBT maupun masyarakat umum dapat menimbulkan pertentangan keberadan kelompok minoritas tersebut. Individu gay juga semakin diliputi rasa tidak percaya diri akan orientasi seksualnya yang berbeda, sehingga dapat menjadikan faktor penghambat individu gay untuk tidak mau melakukan VCT secara sukarela terlebih jika nantinya dinyatakan positif.
Dari penjabaran di atas, individu gay yang mau melakukan VCT secara sukarela terdorong oleh rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri. Individu gay mendapat saran dan dorongan dari teman, keluarga, dan pendamping.  Selain itu, diperlukan upaya terintegrasi antara lain Dinas Kesehatan, LSM, keluarga, teman serta masyarakat, terkait dengan perubahan perilaku seks berisiko. Pada gilirannya, upaya-upaya untuk melawan stigma dilakukan dengan cara-cara yang ditempuh masyarakat pada umumnya. Hal ini membuktikan kelompok ini merupakan individu yang sama dengan lainnya sebagai sesama manusia. Orientasi seksual bukanlah pembeda kedudukan dalam lanskap kemanusiaan. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat serta menjadi salah satu bahan pertimbangan masyarakat untuk tidak bersikap diskriminatif terhadap kelompok minoritas terlebih LGBT apapun alasannya. Karena pada hakikatnya, semua manusia adalah sama. Hapus seluruh stigma, karena mereka bagian dari kita!

*Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Artikel ASEAN Literary Festival 2017 bertema "Keberagaman Gender dan Seksualitas". 

Kamis, 30 Maret 2017

Titip rindu untukmu

Entah, dari mana harus kutulis
Setiap kata yang kurasa
Setiap kalimat yang tak dapat terucap
Dan setiap perasan yang hanya bisa kupendam

Kamu, yang selalu menyambutku ketika ku lelah
Lelah dengan segala masalah
Kamu, yang dengan sabar mendengar ceritaku
Mencoba membantu meringankan bebanku

Masih jelas kuingat, 31 Desember lalu
Untuk pertama kalinya aku menjemputmu
Di ujung jalan itu, kau mengenakan jaket biru
Ahhh....masih jelas di dalam memoriku

Kamu, selalu menemani hari-hariku
Mengantarkan kemanapun aku mau
Menemani ke semua tempat yang kutuju

Pagi, siang, sore dan malampun kita selalu bersama
Merajut cerita pun cia-cita
Seyum itu, tawa itu
ahhhh.....aku tak bisa melupakannya
Helooooow......yahhhh helowwww.....
Dalam tangis, aku selalu tersenyum
Sambil mengingat dan membayangkanmu

Kini, kamu pergi
Meski bukan untuk selamanya
Tapi aku merasa
Aku kehilangan

Mavkan aku jika sering meninggalkanmu sendiri
Kini aku tahu bagaiaman rasanya berteman sepi

Heiii....jangan sedih, tetep terseyum
Jika kamu ingin kembali, pulanglah
Rumah ini selalu terbuka untukmu
Nanti, kita berkumpul lagi
Berbagi cerita berbagi ceria

Ternyata hari ini tanggal 30 Maret
Heiiii sebenarnya aku tak ingin kamu pergi
Tapi, aku tak bisa melarangmu mengejar cita-cita

Jaga diri disana ya.....
Ingat, kami selalu mencintaimu
Ini tulus dariku
Kutitipkan rindu, untukmu

Senin, 01 Februari 2016

10 permainan tak terlupakan anak sembilan puluhan

Jrueng...
sudah lama gak buka blog...
Sudah lama gak nulis di blog...
Tanpa basa basi, penulis mau menyombongkan diri...#uhuuuk

(Np Adelle-Hello)
Hellow.....it's me....
Hellow.....how are you....
I'm anak sembilan puluhan...
Kamu anak berapa puluhan....#badalah

Jadi ceritanya penulis mau nulis sesuatu untuk ditulis...biarpun ceritanya miris tapi romantis...baca aja kalo gak percaya...

Ini cerita tentang pengalaman beberapa permainan anak yang lahir tahun sembilan puluhan...tepatnya sih penulis lahir tahun 1992..cukup keren karna sionya monyet..karena menurut ahli fengsui, monyet itu tipikal yang enerjik tapi licik...waduh....
Tapi jangan salah, orang - orang yang bersio monyet kebanyakan orang yang cerdas, cekatan, pemberani tapi sering patah hati...waduh lagi...

Tapi memang benar...anak sembilan puluhan itu keren...enerjik...cerdas..cekatan...pemberani...
Kalo dari kecil, kehidupan kami anak sembilan puluhan termasuk anak - anak yang luar biasa hebatnya..asiknya..serunya..bahagianya...
Kenapa bisa begitu? Jelas...di masa kecil kami, gak ada tuh istilah galau, gagal move on, baper atau bahkan cabe cabean...

Anak - anak tahun sembilan puluhan itu adalah anak - anak yang lahir dipilih langsung oleh Tuhan buat ngerasain kebahagian yang amat sangat terlalu sekali luar biasa dan maha dasyatnya...halahhh lagi lagi...

Gimana enggak, jaman kami kecil nih banyak permainan dan pengalaman yang tak akan terlupakan..
Contohnya, kami suka memainkan permainan yang konyol dan gak masuk akal...

1.ketika main sepeda, ban belakang akan ditaruh bekas minuman gelasan biar bisa menimbulkan bunyi krek...krek...krek...krek...semakin cepat kami mengayuh semakin keras bunyi yang muncul...yang ada dipikiran kami saat itu seoalah bak pembalap moto gp..padahal ketika kami memainkanya tidak sedikit orang - orang disekitar terganggu dengan suara tersebut..bukan semakin kapok malah kami sering memainkan sepedanya hampir setiap hari..
Beda sama anak jaman sekarang, main sepeda mah cuma buat gaya - gayaan...yuk yuk cfdan, padalan sampai sana cuma mau foto sambil beli jajanan..trus di aplod biar terlihat kekinian...betul tidak?

2.saat bulan ramadhan tiba, sehabis sahur kami tidak pernah tidur..kami selalu berkumpul untuk bermain petasan...biar lebih keren, petasanya dimasukan kedalam botol atau kaleng..kalo tetangga sekitar terganggu dan keluar rumah, kami siap - siap lari kocar kacir dan bersembunyi...tapi habis itu pasti main lagi..beda sama anak jaman sekarang, kalo habis saur biasanya pada nonton acara sinetron religi ataupun musical komedi yang gak bermutu...ujung - ujungnya bakalan nyetatus bak komentator handal tentang acara tipi trus akhirnya tidur lagi...betul tidak?

3.masih edisi bulan puasa...setiap sore dibulan ramadhan, biasanya diperumahan kami ada kajian anak - anak yang notabene pasti sebelum pulang, selesai pengajian, saat maghrib tiba, anak - anak akan diberikan makanan kecil yang biasanya kami sebut dengan jaburan....uniknya anak - anak tahun 90an akan datang jam - jam mepet mau maghrib biar cepet pulang dan bawa jajan...beda banget deh sama anak - anak di atas kami atau dibawah kami..biasanya mereka rajin - rajin kalau datang...hahaha....jadi bisalah dipake buat nandain jam kedatangan anak sembilan puluhan...beda sama anak jaman sekarang yang kalau mau sore mereka pada sibuk janjian buat acara buka puasa bersama, kesinilah, kesitulah...udah kayak pejabat aja tiap hari buber..ujung - ujungnya biar bisa dikatain anak soksialita..padahal mah aslinya gak ada kesibukan lain selain sok - sok an sibuk...betul tidak?

4.masih edisi bulan puasa lagi..setiap mau tarawih, anak sembilan puluhan gak langsung bergegas menuju masjid, tapi kami akan berkumpul dulu untuk berdiskusi masjid bagus mana yang akan kami kunjungi..dengan kriteria masjidnya besar, bagus, dan wangi...tak lupa sebelumnya kami mampir ke warung untuk membeli amunisi seperti chiki dan minuman jelli..takutnya kalau laper di tengah - tengah ibadah, maklum lah kami masih kecil - kecil tapi sudah puaza penuh haha...trus kalo tarawihnya udah mulai, kami ya pasti ikut tarawih, tapi pasti cuma sampai beberapa rakaat aja...selebihnya kami gunakan buat ngobrol dan nyemil jajan sambil dlosoran..kalo ditanya pasti kami bilang "capek ah..istirahat dulu"....bedalah sama anak jaman sekarang yang boro - boro abis buber tarawih bersama, mereka mah abis buber cabut ke tempat kongkow...nongkrong di cafe..biar dikira anak kece..foto selfi, trus di aplod lagi...masih mending anak sembilan puluhankan, dosa sih iya tapi masi lumayan ingat tarawihan..betul tidak?

5.masih edisi bulan puasa lagi lagi..berhubung penulis orang jawa, so di adat kami ada tradisi dugderan..yaitu arak - arakan sebelum bulan ramadhan tiba esok harinya...nah di tradisi dugderan itu ada berbagai acara..mulai dari pasar seni, penjual mainan sampai penjajak makanan..nah biasanya kami anak sembilan puluhan tak pernah luput dari kunjungan tersebut..karena disana seperti surganya mainan..salah satu mainan khas dari anak - anak sembilan puluhan adalah kapal otok - otok..kapal itu ada kapal mainan yang terbuat dari seng dan sudah digambari..biasanya berwarna warni, ada merah, hijau, biru, kuning dan masih banyak lagi..mainnya juga ga sembarangan, ada sumbunya yang berisi minyak tanah sedikit, trus sumbunya dipantik dengan api..kalo api sudah menyala ditaruh di kerongkong kapal..nah kapal akan jalan dengan sendirinya sambil berbunyi...tokkk..otoook..otokkk....biasanya kapalnya ditaruh diatas ember dan akan berjalan mengitari embernya...masi tentang permainan kapal, setiap musim penghujan tiba dan kami melihat ada genangan air, segeralah kami bergegas mengambil kertas dan membuat kapal kertas..kalo udah jadi kapal kertas itu, kami taruh diatas genangan air hujan yang mengalir...sambil bertepuk tangan kami bilang"ayo..ayo..ayo" seraya menyemangati si kapal untuk terus melaju kencang....hummm....seru deh pokonya main kapal - kapalan versi anak sembilan puluhan...anak jaman sekarang mah mungkin ga ngerti betapa serunya sama permainan itu...jangankan main kapal otok -otok..kedugderan saja mungkin tidak...jangankan main kapal kertas, kena air hujan sedikit saja mereka takut sakit..dari pada mainan hal yang ga bermutu gitu, mending mereka main hape..sambil baper mengenang mantan di saat hujan...betul tidak?

6.kalo soal game, anak tahun sembilan puluhan itu masa keemasan dan kejayaan..soalnya kami pernah merasakan main nintendo, video game, sega dan permainan game control sejenisnnya..permainan favorit kami itu super mario bross dengan jamur dan tentara keongnya, sonic sega dengan kumpulan koinnya, atau bahkan game nembak bebek yang aku lupa namanya tapi masi teringat jelas di hati ini..mainya pake senapan bawaan gamenya, nanti bebeknya ditembak kalo pas keluar...dorrrr..dorrrr...dor...menang deh...sekarang mah permainan begituan sudah gak ada lagi..sudah punah digerus jaman..terus ada tamagochi...permainan keren di era kami...mainya tuh kayak melihara binatang kesayangan tapi versi game..so harus di kasih makan, dimandiin, dibersihin pupnya, dan dirawat biar ga sakid...permain - permainan anak jaman sembilan puluhan mah emang asik - asik...beda sama anak jaman sekarang..mereka mah ga kenal main begituan..sekarang jamannya main playstation yang gamenya juga ga seseru permainan jaman dulu..kalo anak jaman dulu mau melihara binatang aja pake game, kalo anak jaman sekarang mah main gaperlu pake game kalo mau main sama binatang peliharan..cukup beli binatangnya, trus dirawat, kalo sakit sampai harus dibawa ke klinik hewan, dikasih makan kalo laper, kalo gamau makan nanti dikasih vitamin biar ga kurusan, habis gitu difoto...di aplod...kalo misal ada yang suka, nanya, terus ditawar, ya di jual deh...kan ya kan, mala dijual akhirnya..kayak kata pepatah, hidup itu ibarat minum air, tapi air sirup..enak kan ya...hahahha....

7.masi tentang permainan anak sembilan puluhan, kalo jaman dulu kami suka sekali main ular tangga...soalnya bisa slonteng - slontengan  sama lawan...kalo mau nyampe ke  angka 100 pasti di slonteng biar melorot ke angka kecil..akhirnya lawan kalah, kami bahagia...terus ada permainan monopoli, main rame - rame biar tambah seru sambil menggebu - gebu bak pengusaha kaya raya yang bangun hotel sana sini..paling seneng kalo ada lawan yang jatuh ke daerah kekuasan kami apalagi sudah dibangun hotel....sambil mata berkaca - kaca bahagia kami akan berkata, "sini ayo bayar..bayar.." dengan ketawa lebar khas anak-anak tahun sembilan puluhan...bedakan sama anak - anak jaman sekarang, mereka gak terlalu bisa merasakan kebahagian permainan semacam itu..mereka mah bisanya main monopoli online atau getr$$h...udah gitu ngabisin kuota lagi..kan boros...apalagi kalo kalah..sedih banget rasanya...kenapa? Ya soalnya gak ada temen yang mau diajak main langsung..maklum pada sibuk nongkrong dan aplod foto norak...so mana bisa mereka berkumpul cuma untuk memainkan permainan konyol begituan...mending kumpul buat nongkrong..betul tidak?

8.kalo sore - sore nih biasanya anak sembilan puluhan pada kumpul depan rumah, sambil main lompat tali, bola bekel, dakonan, toyak rembet, gobak sodor, atau permainan tradisional lainnya..yang paling seru itu main petak umpet, senengnya kalo temen kita yang jadi dan pusing mencari, sedangkan kita asik sembunyi...dan main sepak bola dikala hujan tiba..akan sangat gembira kalo main sepak bola sambil hujan - hujanan..biarpun sampai rumah pasti dimarahi ibu karena basah kuyub
...tapi serunya..yang gabisa dilupakan sampai sekarang...beda banget kan sama anak jaman sekarang...jangankan permainan petak umpet atau dakonan, main sepak bola aja mereka di dalem stadium...udah gitu didalem ruangan pas malem hari..kalo siang kan takut panas..apalagi kalo hujan, itu gamungkin mereka lakukan...kalo males futsalan ya mereka main pes..anggep aja kayak main bola beneran..apalagi pas main game ada suasana hujannya, udah kayak beneran mainnya...hahaha....kalo main lompat tali mereka mah ga jaman..biasanya mereka main angkat barbel biar lebih macho..padahal isinya orang - orang ho**...nah kan salah pergaulan..so mana serunya? Kebablasan iya...betul tidak?

9.anak jaman sembilan puluhan itu anak - anak lucu dan lugu pilihan Tuhan..gimana enggak, anak sembilan puluhan sukanya main pantun kalo ada temen yang ditaksir...misalnya "satu titik dua koma, kamu cantik aku yang punya"...atau paling cuma "ciye ciye dapet salam dari si ciye"..cuma sebatas gitu aja tuh hebohnya sampe sekelas tahu..kalo udah gitu malunya minta ampun...jaman kami gak ada tuh yang namanya pacar - pacaran atau sampai hamil -hamilan...paling cuma sekedar taksir - taksiran yang terpendam...beda kan sama anak jaman sekarang, jangankan main pantun..mereka mainya gombal - gombalan..nanti kalo udah, pasti ada yang php - phpan...trus jadinya baper - baperan..kalo kelewatan udah pacaran juga ujungnya hamil - hamilan, gak ada yang mau tanggung jawab ya jadinya lari - larian...sakit kan.......betul tidak?

10. Dan yang kesepuluh permainan dan pengalaman seru anak sembilan puluhan itu ngumpulin hal - hal gak penting...kayak banyak - banyakan ngumpulin tazoz dari hadiah chiki, banyak - banyakan ngumpulin kelereng buat ditarungin..banyak - banyakan ngumpulin umbul dan punya gacuk kesayangan, banyak - banyakan ngumpulin gambar pasang barbie..dan kalo udah dimainin rame - rame sama lawan..serunya gak ketulungan....kalo kalah emang sakitnya ga nahan..tapi bahagianya luar biasa...bedalah sama anak jaman sekarang yang gabisa ngerasain mainan begituan...mereka mah mainnya kartu..pake uang alias judi...kalo kalah malu sendiri..kalo apes ya ketangkep polisi..terus dimasuki  jeruji besi....betul tidak?

Nah itulah 10 permainan seru dan pengalaman yang tak terlupakan anak tahun sembilan puluhan versi penulis...sebenernya masih banyak sih permainan dan pengalaman seru anak sembilan puluhan...kalo diulas dan ditulis, mungkin bisa jadi satu buku..tapi 10 simpulan ini udah cukup mewakili...tulisan ini cuma buat mengenang masa kecil penulis yang begitu keren dan tak terlupakan...kenangan indah yang gak akan pernah keulang lagi...cuma bisa teringat di dalam memori dan tersimpan didalam hati...
Tulisan ini juga gak ada maksud membandingkan yang kelewatan atau bahkan menghina anak jaman sekarang...bukan lah...ini cuma tulisan kebahagiaan anak jaman sembilan puluhan...kalo ada salah kata mohon dimaavkan....nanti kapan, penulis bakal nulis lagi pengalaman seru anak sembilan puluhan yang gak akan pernah terlupakan..versi lain tentunya....

Salam keren,
Anak SEMBILANPULUHAN :)

Senin, 07 Desember 2015

Menjadi jurnalis itu hina? Kata siapa?

Hmmm...sudah lama ya tidak menulis blog...bukan karena malas, akhir-akhir ini sedang disibukkan dengan studi yang tugasnya hilir mudik setiap hari...datang dan pergi sesusaknya tanpa dosa...yah apa daya seorang mahasiswa demi mengenakan sebuah toga...berat rasanya, tapi harus tetap di jalani untuk menggapai mimpi....

Tanpa disadari pikiran ini sedang berkecamuk tak terarah...bukan karena terkena masalah, tapi memikirkan akankah profesi yang pernah dan akan kujalani menimbulkan masalah....hmmm....bagiku tidak, namun tidak bagimu...

Menulis itu hobi, jurnalis itu profesi...profesi yang tidak semua orang sanggup menjalani...Jurnalis atau yang biasa disebut dengan wartawan...adalah pekerjaan yang mulia menurutku...kenapa tidak, karena melalui tangan terampilnya mengolah kata, kita bisa membaca berita...karena melalui tubuh gesitnya mencari dan mendatangi sebuah peristiwa, kita bisa mendapatkan informasi dengan cepat dan mudahnya...panas terik matahari, dinginnya hujan yang membasahi bumi, tak menyurutkan niat mereka untuk tetap mencari dan mendatangi peristiwa menjadi berita...bahkan tak jarang ancaman dan bahaya yang menghantui setiap saat tak menyurutkan tekat mereka untuk tetap mencari sumber informasi terkini...lalu, mengapa sebagian dari kalian menganggap pekerjaan menjadi seorang wartawan itu hina?
Bukan kami yang membuatnya menjadi hina, mereka para penguasa media, budaya yang menjadi tradisi serta datangnya media-media yang tidak bertanggung jawab!!!

Banyak orang menyalahkan pekerjan sebagai jurnalis yang membuat paradigma serta perilaku masyarakat kita kacau, dan konyol....banyak yang menyalahkan media atas semua tindakan pemikiran akibat mengkonsumsi media...katanya, akibat pemberitaan yang tidak sebenarnya...katanya, akibat pemberitaan yang tidak seharusnya...katanya, akibat pemberitaan yang selalu membesar besarkan peristiwa, memberitakan yang lemah dan menutupi penguasa yang salah...serta masih banyak lagi katanya katanya dan katanya....

Banyak yang berpendapat dan berkata jurnalis atau wartawan sekarang tidak bersikap independen dalam menyuguhkan berita, menyisipkan kata -kata yang tidak seharusnya, hal itu demi mendongkrang popularitas, menaikan target perusahan media tanpa memikirkan akibatnya, berkiblat pada lembaran rupiah dan masih banyak lagi caci maki yang selalu kalian ucapkan setiap hari...

Pernahkah berfikir mengapa hal itu bisa terjadi? Siapa penyebabnya? Dan bagaimana solusinya dari pada kalian harus ribut menyalahkan para wartawan?

Perlu diingat, pekerjaan sebagai seorang pencari berita tidak semudah dan sehina yang kalian kira...pagi jadi malam, malam jadi pagi itu sudah biasa...tanpa kenal lelah kami terus bekerja...dituntut untuk menghasilkan sebuah berita setiap harinya...namun sebelum terjun ke lapangan para wartawan selalu konfirmasi dengan atasan, tentang baik dan buruk, pantas dan tidak peristiwa tersebut layak untuk diberitakan...tak luput dari itu, atasan mendapatkan mandat dan tekanan dari penguasa media untuk dapat memajukan perusahaan...jadilah wartawan yang menjadi sasaran bagaimana cara agar pemberitaan menjadi sebuah godaan untuk dibaca para penikmat media, menjadi sebuah gambaran kejamnya kehidupan, menjadi sebuah lukisan negeri yang seakan-akan begitu menakutkan...

sebelum menjadi jurnalis atau wartawan pada media yang dapat dipercaya, wartawan dibekali kode etik jurnalistik...bisa melewati bangku kuliah selama 3.5 sampai 5 tahun kami para sarjana komunikasi konsentrasi jurnalistik dibekali berbagai ilmu kejurnalistikan...atau berbagai pelatihan kejurnalistikan oleh lembaga-lembaga jurnalistik...hal tersebut diharapkan agar kami menjadi jurnalis yang selalu berpedoman pada pancasila dan undang undang dasar 45...oleh sebab itu, tidak salah jika jurnalistik disebut sebagai pilar keempat sebuah negara...

Hal yang membuat rusaknya dunia jurnalistik adalah pemilik atau penguasa media...pemilik jabatan negara...mengapa begitu? Jelas....pemberitaan menjadi tidak imbang akibat monopoli media...penyuapan demi memperbaiki citra pemberitaan...penguasa atau pemilik media ingin mendongkrak popularitas, menaikan target perusahaan, dan melebarkan sayap perusahan media yang akhirnya membuat tekanan pada karyawan dan bawahan bagaimana misi tersebut bisa terlaksana...akhirnya, jurnalis atau wartawanlah yang menjadi korban.....

Yang kedua adalah budaya...budaya yang dimaksud disini adalah budaya memberikan sejumlah uang agar pemberitaan dapat dikondisikan oleh penguasa...penguasa elit politik terutama...kebanyakan dari pemilik perusahan atau para penguasa elit politik mengucurkan dana segar kepada jurnalis agar tidak memberitakan hal yang tidak perlu diberitakan...memang tidak seberapa jumlahnya, namun uang tersebut yang dapat membelokan pemberitaan...akhirnya pemberitan menjadi tidak berimbang dan tidak layak untuk dikonsumsi...tidak dapat disalahkan juga, bisa jadi karena keminiman upah yang mereka dapatkan yang tidak sesuai dengan jerih payah membuat mereka terpaksa untuk menerimanya...menerima yang seharusnya bukan menjadi haknya...menerima yang jelas-jelas melanggar kode etik jurnalistik...namun bagaimana lagi, budaya tersebut sudah menjadi tradisi bagi media di negeri ini...tradisi yang salah dan mendarah daging...

Dan yang terakhir akibat berdatangnya media yang tidak bertanggung jawab...namanya saja tidak bertanggung jawab, jangankan wartawannya, isi pemberitaanyapun pasti tidak dapat dipertanggung jawabkan pula...kehadiran media yang tidak bertanggung jawab tersebut yang juga merusak citra jurnalis dan jurnalistik negeri ini...mencari berita adalah kedok mereka untuk mencari uang...yah biasanya mereka disebut wartawan bodrek...karena pemberitaan mereka sifatnya memeras...hal terebut melanggar kode etik jurnalistik tentunya...akhirnya orang menjadi tidak percaya dan memberikan stigma yang salah kepada para jurnalis...padahal itu hanya dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, yang mengatasnamakan jurnalis demi kepentingan pribadi atau kelompok!!!

Ingat betul fakta yang terjadi, ketika seorang jurnalis muda wanita di stasiun tivi swasta dengan keindividualisme dan arogansinya menguak sebuah peristiwa, antek negara menjadi tidak terima akhirnya menjebloskanya di ruang perkara...hal tersebut juga dialami oleh teman saya sendiri, seorang jurnalis wanita muda yang dijebloskan di kursi pesakitan hanya karna dia menuliskan sebuah fakta tentang perbuatan yang tidak seharusnya namun disuguhkan versi penguasa negara...
Hal tersebut yang membuat para jurnalis atau wartawan negeri ini menjadi takut, takut menyuguhkan kebenaran, karena tidak adanya keadilan!!!

Sudah sadarkah kalian sekarang? Siapa yang membuat pemberitaan akhirnya menjadi tidak berimbang? Siapa yang membuat paradigma masyarakat kita menjadi konyol dan kacau melihat dna menyikapi sebuah peristiwa? Masihkah kalian penikmat media menyalahkan para jurnalis? Masihkan hina pekerjan menjadi wartawan?
Seharusnya kalian tahu cara menjadi penikmat media yang baik, menyikapi berbagai informasi dan berita dilandasi dengan berbagai sumber kebenaran fakta...tidak hanya semata agar dapat dilihat orang sebagai "yang tahu dan sok berwawasan luas" karena aktif menjadi penikmat media massa...hmmmm...salah besar!!!
Pikirkan hal lain yang masih bermanfat, dan carilah solusi untuk memperbaiki citra media saat ini...berilah masukan yang masuk akal bukan hanya selalu menyalahkan dan menghina pekerjan sebagai penyuguh berita...

Ingat, tanpa jurnalis atau wartawan, kalian tidak akan semudah ini mendapatkan informasi...jadi ubahlah pandangan untuk lebih menghargai profesi ini...karena semua profesi pasti mengandung resiko dan memiliki kesalahan...tidak hanya profesi menjadi jurnalis...ingat...tidak ada profesi dan pekerjan yang sempurna...karena kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta!!!