kamus

Jumat, 09 Maret 2018

Pengayuh Itu Bernama "Mbah Getek"

"Semarang Kaline Banjir"
Merupakan tagline yang sering kita dengar dan tidak asing lagi di telinga kita. Tagline yang memiliki arti "Semarang Sungainya Banjir /Meluap" memang terkesan negatif, akan tetapi tagline tersebut memiliki arti tersendiri bagi warganya. Tidak seperti yang dibayangkan pada tagline tersebut, kini Kota Semarang memiliki sungai yang selalu bersih dan nyaman untuk kita kunjungi seraya menikmati Kota Atlas yang penuh cinta tersebut.

Semarang sendiri memiliki beberapa sungai, salah satu yang terbesar adalah sungai "Banjir Kanal". Oleh sebab itu banjir kanal merupakan sungai yang paling tersohor dibanding yang lain. Banjir kanal sendiri memiliki dua aliran yaitu "Banjir Kanal Barat dan Timur". Dan kali mata saya tertuju pada pemandangan yang tak biasa ketika saya melewati sungai "Banjir Kanal Barat".

Memasuki pintu gerbang daerah Semarang Indah, kita disuguhkan pemandangan sungai di sepanjang kawasan Banjir Kanal Barat. Pepohonan yang tumbuh di sekelilingnya menambah asri suasana. Angin sepoi-sepoi seraya menyapa kita pada suguhan keindahan di salah satu sudut Kota Semarang.

Tak disangka, dari kejuahuan terlihat satu pemandangan unik dan tak biasa. Orang-orang berkerumun di pinggir sungai, mengayun-ayunkan tangannya seraya memanggil perahu kayu untuk segera berlabuh menghampiri. Sebut saja perahu getek. Benar saja, sebuah perahu kayu usang dengan warna cat yang mulai memudar itu menghampiri gerombolan orang di tepi sungai Banjir Kanal Barat. Lucunya, perahu tersebut berjalan sambil ditarik seutas tali tambang dari kiri ke kanan.

Perlahan tapi pasti, perahu mulai melaju mengikuti irama tangan sang nahkoda. Tampak pria setengah baya berkulit coklat gelap menarik-narik tali hingga ke tempat tujuan.
Karena penasaran, saya hidupkan mesin kendaran bermotor dan mencoba mendekati perahu yang dimaksud. Dengan ramah, sang nahkoda mempersilahkan naik dan kamipun berbincang santai di atas perahu kayu tersebut.

Ditemani dengan gemuruh angin kencang, membuat perbincangan kami semakin hangat. Mbah Getek, begitu orang-orang menyebutnya.
Pria yang disapa Sulistyono ini memulai pekerjaan sebagai pengemudi perahu seberang hampir 12 tahun, semenjak tahun 1995 silam. Pria kelahiran Semarang, 6 November 1983 menuturkan, sebelum menggunakan perahu seberang yang ditarik tali, ia terlebih dahulu menggunakan perahu getek. Itu mengapa orang-orang menyebutnya "Mbah Getek" hingga kini.

“Dulu masih perahu yang terbuat dari pring biasanya disebut getek, sekarang terbuat dari kayu terus ditarik tambang”, tuturnya.

Perahu seberang tersebut adalah buah pemikiran lantaran banyak anak sekolah serta para pekerja yang harus berputar dulu untuk sampai ke jalan yang sebelah (kokrosono). Karena tidak tersedianya akses jembatan yang dekat, akhirnya ia berinisiatif menciptakan perahu sebagai transportasi (menyebrang) masyarakat sekitar. Perahu tersebut sengaja dipesannya langsung dari pengrajin di daerah Demak.

Perahu seberang dapat ditemui setiap hari mulai pukul setengah 6 pagi hingga pukul setengah 6 sore dengan tarif sebesar Rp. 1000 untuk anak sekolah dan Rp. 2000 untuk umum. Jika ada barang yang diangkut seperti sepeda, tidak dikenakan biaya tambahan. Perahu dapat mengangkut sedikitnya 15 orang sekali jalan. Masih menurut penuturan sang nahkoda,  Ramaianya penumpang perahu tersebut pada jam-jam tertentu, sekitar jam 6 sampai 8 pagi dan jam 3 sampai 5 sore.

Banyak suka duka yang ia alami selama menjadi pengemudi perahu seberang. Tanpa kenal lelah, Mbah Getek tetap berjuang untuk menghidupi diri dan anak semata wayangnya. Baginya, bekerja adalah sebuah keharusan, meski pasang surut, ia tetap ikhlas dalam menjalaninya.

“Sukanya karena bisa mendapatkan uang. Kerjanya juga santai sambil menikmati pemandangan. Dukanya kalau musim hujan airnya meluap, kalau udah gitu kadang gak narik. Kalau air surut, lumpurnya mengendap di tengah, air tidak bisa mengalir lancar otomatis kapal juga gak bisa jalan", tutur Mbah Getek kepada saya.
Saat sang nahkoda mencoba menceritakan kisahnya selama menjadi penarik perahu seberang, ada semburat kesedihan yang terlihat jelas dari wajah sayunya. Meski tampak tegar saat bercerita, kesedihannya tak dapat tertutupi. Saya memahami getirnya kehidupan yang dialami Mbah Getek, meski tak dapat merasakan kesedihanya.

Sebenarnya, ada perasaan takut ketika saya mencoba menaiki kapal tersebut, karena tidak ada alat pengaman khusus yang digunakan untuk menjaga keselamatan penumpang. Tetapi Mbah Getek dapat menjamin keselamatan penumpangnya selama perjalanan.

“Tidak perlu ada yang ditakutkan karena saya dapat membaca situasi air di sungai ini”, tutur Mbah Getek mencoba meyakinkan.

Mbah Getek juga menjelaskan, jika hujan mulai turun, ia akan menarik perahunya ke pinggir sungai dan menaikkan tali yang menghubungkan antara dua jalan. Hal tersebut sebagai antisipasi jika air meluap, kapalnya tidak hanyut terbawa air.
Ia juga menuturkan bahwa selama ini tidak ada perhatian dari pemerintah. Dengan adanya proyek pelebaran sungai Banjir Kanal Barat serta pembuatan jembatan bagi pejalan kaki di dekat rel kereta api, penghasilannya kini berkurang. Yang semula mencapai Rp. 250.000/ hari kini hanya Rp. 130.000/ hari. Mbah Getek berharap semoga pemerintah memberikan tempat baginya untuk lebih berkreasi, seperti menjadikan Banjir Kanal Barat sebagai objek wisata air.

“Lebih di tata lagi, sampahnya dibersihkan. Selain itu, tepi sungai dipercantik, terus bisa untuk jualan. Tempatnya makin ramai, kan lumayan bisa tambah-tambah penghasilan masyarakat setempat”.

Tak terasa, hari mulai gelap. Sayapun bergegas untuk berpamitan. Dengan mengulas senyum dan melambaikan tangan, saya segera pergi meninggalkan Mbah Getek. Mungkin, itu sebuah pertemuan yang luar biasa. Dimana saya bisa belajar untuk lebih membuka mata, menghargai apa yang saya miliki saat ini dan tak lupa untuk selalu mengucap syukur.

Meski pertemuan saya dengan Mbah Getek tanpa disengaja, tapi saya yakini bahwa ini bukan sebuah kebetulan semata. Ini merupakan cara Tuhan memberikan pemahaman dan nasehat kepada saya melalui Mbah Getek.

Dan sebuah pelajaran yang dapat saya ambil adalah, bagaimanapun kehidupan kita saat ini, tetaplah bersyukur dan jangan berhenti untuk selalu bersyukur. Karena dari rasa syukur tersebut, kita akan mengetahui apa arti ikhlas yang sesungguhnya.

Selasa, 13 Februari 2018

Tangan Terampil, Wadah Berkreasi Masa Kini

Semarang merupakan kota komoditas terbesar karena merupakan Ibukota provinsi Jawa Tengah
Melihat mobilitas yang tinggi, membuat beberapa  UMKM mencoba memanfaatkan peluang tersebut

Salah satu UMKM yang berada di Semarang adalah Tangan Terampil yang merupakan kelompok usaha bersama yang bergerak di bidang pemberdayaan usaha kecil menengah khusunya bagi para pelaku bisnis.

Franssisca Nugraheni yang merupakan Project Officer Komunitas Tangan Terampil menuturkan alasan bergabung dengan komunitas tersebut lantaran tertarik dengan dunia bisnis.

Menurut penuturannya, Tangan Terampil berdiri lantar sang founder Bernadeta Natalia Pujiastuti merasa bahwa Usaha Kecil Menengah (UKM) di Kota Semarang tidak berkembang. Artinya para pelaku bisnis hanya dirumah, menunggu orderan datang. Oleh sebab itu, Tangan Terampil menjembatani mereka dalam upaya mengembangkan hasil produksi tidak hanya berjualan di rumah atau di gerainya saja, tetapi juga muncul di sawalayan, toko oleh-oleh serta melalui media online.

Cara kerja dari Tangan Terampil yaitu, merekrut orang yang mau menjadi member dengan memberikan kontribusi sebesar  Rp. 100.000/orang selama 1 tahun. Tujuan dari kontribusi tersebut sebagai pengikat agar orang tertarik.  Banyak feedback yang di dapatkan, seperti pelatihan, pendampingan, serta mengikutkan bazar-bazar produk member di setiap kegiatan.
Berbagai program ditawarkan oleh Tangan Terampil, diantaranya student preneurship yang merupakan kegiatan semacam ekstrakulikuler dan dilaksanakan pada sekolaha-sekolahan yang ditunjuk. Salah satunya di SMK Ignasius Semarang. Pemilihan dari sekolah tersebut lantaran memiliki jurusan akutansi dan pemasaran, sehingga suatu kesempatan untuk mengajarkan serta mengenalkan dunia bisnis sejak muda, terutama bagi mereka yang pintar membuat produk tetapi tidak pandai memasarkannya.

Program selanjutnya adalah pemberdayaan masyarakat yang mengarah pada wanita. Sasaran dari program tersebut, mereka yang berada di  Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A daerah bulu serta ibu-ibu penggendong barang serta pengupas bawang di Pasar Johar.
“Programnya kayak memberikan pelatihan membuat produk menggunakan limbah kain perca. Setelah memberikan pelatihan, kita tidak meninggalkan begitu saja, kita akan memberikan order kepada mereka untuk menjual. Ibaratnya adalah karyawan lepas dari Tangan Terampil.

Program yang terakhir dari Tangan Terampil yaitu adanya kelompok diskusi (gathering) yang  dilakukan setiap satu bulan sekali di hari Sabtu Legi. Diikuti oleh masyarakat umum dan member. Kegiatan tersebut diisi dengan materi dan evaluasi supaya pelaku bisnis lebih matang dalam berwirausaha.

“Goals dari Tangan Terampil adalah mengurangi jumlah pengangguran di Kota Semarang. Untuk membuktikan  bahwa mereka memiliki kreatifitas yang lebih, bisa menjadi pengusaha, menciptakan lapangan pekerjaan dan itu bisa dimulai sejak muda. Apabila sudah menjadi pebisnis, mereka dapat mengembangkan bisnisnya tidak hanya di Kota Semarang tetapi di seluruh Indonesia, tuturnya.

Sejauh ini, Tangan Terampil memiliki member sebanyak 40 orang yang tersebar di beberapa Kota seperti Semarang, Boyolali, Solo dan Jogjakarta. Untuk hasil binaan dari Tangan Terampilpun sudah menyebar di seluruh outlet-outlet di Indonesia. Tidak hanya di Semarang tetapi juga Jakarta, bali, Surabaya, Kalimantan dan masih banyak lagi.

“Harapan dari Komunitas Tangan Terampil adalah produknya dapat di terima oleh seluruh lapisan masyarakat terutama di Kota Semarang. Selain itu, memberikan dampak positif bagi ibu-ibu rumah rumah tangga, mereka bisa lebih produktif dan bagi anak muda setelah lulus kuliah mereka bisa berwirausaha dan bisa di hasilkan dari kemampuan diri sendiri".

Mimpi Itu Perlu Diperjuangkan Bukan?

Kamu percaya mimpi?
Kamu punya harapan?
Dan kamu perlu memperjuangkan?

Aku percaya dan sangat percaya
Tapi itu dulu..dulu saat aku masih menjadi orang yang kuat dan percaya diri
Dulu sebelum aku mengerti dan memahami apa itu tertekan dan depresi

Aku gak tahu
Kata apa yang tepat untuk menggambarkan jawaban itu sekarang

Mungkin, aku adalah orang yang idealis dan ambisius
Banyak yang mengatakan jika itu positif
Positif saat kita masih mencari jati diri
Tapi bagiku, itu adalah beban

Orang melihat, hidupku baik-baik saja
Selalu ceria, senang, gembira dan aku terlihat menikmatinya

Tapi apakah kamu tahu?
Sejauh mata memandang, ada hati yang selalu gelisah
Gelisah karena apa?
Akupun tidak tahu, apa yang aku khawatirkan sekarang

Masa depan?
Impian?
Cita-cita?
Akupun juga tidak tahu

Mungkin itu bukan pertanyaan dan bukan pula jawaban
Karna akupun tidak tahu apa yang menjadi kegelisahanku

Tapi aku tahu saat ini aku bingung, dan mungkin aku khawatir dengan hidupku
Mungkin juga saat ini, aku berada pada sebuah kulminasi kehidupan
Antara khawatir atau aku harus mencoba keluar dari rasa khawatir itu
Mencoba bangkit dan mencari apa yang harus aku cari
Mencari apa yang harus aku perjuangkan
Dan ya akupun tidak tahu

Aku tidak tahu, kemana lagi Tuhan akan membawa jalan hidupku
Meski Tuhan percaya, aku mampu untuk menempuh jalan itu

Luar biasanya, Tuhan memberikan aku jawaban melalui nang
Sekali lagi, kamu mencoba membawaku untuk menempuh jalan itu
Mencoba membangkitkanku meraih apa yang aku impikan
Mencoba menyadarkanku apa yang seharusnya aku lakukan, menghilangakan semua kegelisahan, ketakutan dan kekhawatiran

Dan sekali lagi, kamu mencoba meyakinkanku untuk terus berusaha, dan berjuang meraih apa yang aku impikan
"Karna proses tidak akan menghianati hasil dan kamu harus nikmati itu"
Sepnggal kata dengan beragam makna dan cerita yang akan selalu membekas

Aku janji, aku akan berjuang bersamamu
Aku janji, aku akan mencoba meraih mimpi itu
Brother.....trimakasih untuk segalanya
Mungkin ini adalah ungkapan terimakasihku yang kesekian kalinya tanpa kamu tahu
Dari lubuk terdalam hatiku, kamu selalu ada.
Karna mimpi perlu diperjuangkan bukan?
Dan sekali lagi, TERIMAKASIH NANG!!!!

Minggu, 16 Juli 2017

Melawan Stigma Ganda Lewat VCT

Oleh: Sheila Giza* 

             Dewasa ini, banyak yang masih menganggap kaum LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender) adalah mereka yang memiliki kelainan seksual dan perilaku. Meski pada 15 Desember 1973 Asosisasi Psikiater Amerika (APA) menghapus homoseksual dari daftar resmi kekacauan jiwa dan emosional. Di tingkat internasional serta para ahli jiwa di Indonesia juga ikut mengeluarkan perilaku homoseksual dari gangguan kejiwaan yang tercantum pada Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III tahun 1993, namun kelompok LGBT masih menuai banyak permasalahan terlebih pada mereka yang homofobia (Arus Pelangi, 2008: 23).
            Tidak sedikit, kelompok minoritas tersebut mengalami stigma, diskriminasi bahkan kekerasan secara simbolik. Media massa memiliki andil mengkonstruksi hal itu. Media menyuguhkan berita mengenai isu LGBT dengan pembahasan permasalahan yang tidak sesuai dengan konteksnya. Menurut riset Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) periode 15 Juli 2015 sampai 20 Agustus 2015 melaporkan, media online menempati urutan tertinggi dalam menyuguhkan pemberitaan terkait isu LGBT yang sering mengupas isu ekonomi serta identitas seksual pada urutan tertinggi dan isu kekerasan seksual kelompok LGBT berada pada urutan terendah. Ini membuktikan bahwa kekerasan seksual yang mengarah pada pelanggaran HAM yang dialami kelompok LGBT terkesan ditutupi dan dibiarkan menguap tanpa adanya penyelesaian yang jelas. Di sisi lain, cara memandang kelompok LGBT tersebut memunculkan ekses berupa mengentalkan kekerasan dalam bentuk lain yang dikenal sebagai stigma ganda.
Data yang diperoleh dari penelitian Arus Pelangi tahun 2013, kelompok LGBT mengaku sering mengalami kekerasan pada tiga tahun terakhir. Kelompok lesbian sebanyak 84 orang (89,4%), kelompok gay sebanyak 68 orang (94,4%), kelompok waria sebanyak 104 orang (87,4%) dan kelompok biseksual sebanyak 43 orang (86%). Apabila data tersebut diakumulasi, sebanyak 89,3% kelompok LGBT di Indonesia mengalami kekerasan karena orientasi seksual, identitas gender, serta ekspresi gender. Kekerasan yang dialami kelompok LGBT ada pada kategori kekerasan psikis dengan prosentase tertinggi sebanyak 79,1%, kekerasan budaya dengan prosentase 63,3%, kekerasan fisik dengan prosentase 46,3%, kekerasan seksual dengan prosentase 45,1%, serta di urutan terakhir adalah kekerasan ekonomi dengan prosentase sebesar 26,3%.
Selain data dari Arus Pelangi, Ardhanary Institute yang dikutip dari CNN Indonesia memberikan data kekerasan yang dialami oleh kelompok LGBT sebanyak 37 kasus kekerasan berbasis orientasi seksual, gender, identitas gender serta ekspresi gender pada tahun 2014 dan 34 kasus kekerasan seksual pada tahun 2015. Gaya Warna Lentera Indonesia (GWL INA) juga memberikan data kekerasan terhadap gay dan transgender yang ditemukan sebanyak 26 kasus di tahun 2015 dan 1 kasus di tahun 2016.
Istilah stigma ganda menyerupai pemahaman beban ganda pada isu-isu feminisme yang melihat eksistensi pada dua domain yakni domestik dan publik. Stigma ganda di sini dimaknai sebagai beban ganda yang disematkan publik kepada kelompok LGBT di tengah upayanya untuk hidup normal laiknya manusia. Ganda bukan soal deret angka antara nol sampai sembilan, melainkan kualitas yang melampaui kuantitas. Stigma terjadi berlapis-lapis dan bertingkat-tingkat yang semuanya menyudutkan LGBT.
Stigma paling awal muncul dari sebuah pertentangan antara yang usual dan unusual atau ‘kodrat’ dan ‘tak kodrat’. Comman sense yang mengambang laiknya buih di atas aliran air ini mudah diomban-ambingkan dengan arus utama sebuah opini yang cenderung menggerus makna manusia. Kodrat manusia dipersipkan pada umumnya sebagaimana dijumpai, dialami dan diyakini tanpa melihat kemungkinan-kemungkinan lain. Sebagai manusia, LGBT, dinilai menyalahi ‘kodrat’ karena dianggap bertentangan dengan ajaran agama apapun, stigma sebagai manusia yang tidak bermoral dan yang lebih menyakitkan kala mereka dianggap sebagai penyebab utama penularan virus HIV/AIDS yang salah satunya pada kategori LSL (lelaki suka lelaki).
Stigma tersebut diyakini hasil dari kontruksi sosial yang berkembang di masyarakat karena berkaitan erat dengan lingkungan serta nilai-nilai yang dianut dalam budaya patriarki yaitu heteronormativitas atau pandangan yang mengharuskan laki-laki dan perempuan tunduk pada aturan heteroseksualitas. Inti dari heteronormativitas adalah fungsi prokreasi seksualitas atau berkembangbiak yang diperjelas dengan dikeluarkannya UU nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Sehingga, bagi siapa saja warga negara yang tidak taat pada budaya heteronormativitas, dianggap sebagai perilaku menyimpang. Pengotakan tersebut yang memunculkan label/stigma negatif yang melekat pada diri mereka juga kian melekat di benak masyarakat.
Seperti yang telah dijelaskan, salah satu stigma negatif masyarakat yang sangat menyakitkan adalah menganggap bahwa kelompok LGBT pada kategori LSL merupakan penyebab utama penyebaran virus HIV/AIDS di Indonesia. Meski kategori LSL juga ikut menyumbang dalam penyebaran virus HIV/AIDS, tidak serta merta masyarakat berargumen bahwa LSL merupakan penyebab utama dari penularan virus mematikan tersebut. Pandangan itu seharusnya disertai dengan berbagai bukti, data, serta penelitian yang valid agar tidak menjadikan kelompok LGBT semakin termarjinalisasi.

Stigma HIV/ADIS
Kita tahu bahwa perkembangan kasus HIV/AIDS di Indonesia cukup cepat yang tidak hanya terjadi di kota-kota besar, namun merambah di seluruh pelosok negeri. Tidak dapat dipungkiri, penyebaran virus tersebut dikarenakan semakin padatnya jumlah penduduk, mobilitas masyarakat yang cukup tinggi, kurangnya informasi akan kesehatan serta lingkungan yang mendorong untuk melakukan hubungan seksual berisiko tinggi (seks bebas). Penyebaran penyakakit HIV/AIDS seperti fenomena gunung es.
Temuan kasus jumlahnya kian meningkat, tetapi masih banyak jumlah ODHA yang belum diketahui. Berbagai cara dan pencegahanpun telah diupayakan Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan serta lembaga-lembaga terkait, namun tetap saja kasus HIV/AIDS masih berada pada titik tertinggi untuk penyakit mematikan. Meskipun telah dilakukan berbagai upaya dari sosialisasi sebagai pencegahan, konseling sebagai pengetahuan kesehatan serta pendampingan sebagai pengobatan dan membangkitkan semangat hidup ODHA, layaknya masih harus dievaluasi kembali mengingat virus HIV/AIDS merupakan penyakit yang mematikan dan selalu menjadi isu nasional yang harus segera di cari solusi terbaik. Solusi tidak hanya berasal dari pemerintah dan dinas-dinas terkait, namun juga peran serta masyarakat yang aktif dalam membantu menanggulangi virus HIV/AIDS.
Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia hingga tahun 2015 menunjukkan, kasus HIV/AIDS di Indonesia semakin meningkat. Temuan kasus HIV/AIDS pada tahun 2015 sebanyak 735.256 orang dengan jumlah infeksi baru sebanyak 85.523 orang. Jumlah angka kumulatif temuan kasus AIDS di Indonesia terbanyak pada kategori laki-laki dengan prosentase sebesar 55%, perempuan sebesar 32% dan tidak melaporkan jenis kelamin sebesar 13% yang jumlahnya meningkat sebanyak 4% pada tahun sebelumnya. Kategori tidak melaporkan jenis kelamin dalam data itu diindikasikan sebagai mereka yang berstatus sebagai transgender terutama laporan terbanyak pada variabel jenis kelamin yang tidak terisi berasal dari Provinsi DKI Jakarta dan Papua Barat sesuai data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Dari data itu, secara gamblang menyebutkan kategori homoseksual menyumbang temuan kasus AIDS sebesar 7,4%. Sedangkan faktor resiko heteroseksual menempati urutan tertinggi di banding dengan yang lain, sebesar 82,8%. Hal tersebut seharusnya dapat menjadi bukti nyata bahwa anggapan masyarakat terkait LSL sebagai penyebab utama penyebaran virus HIV/AIDS adalah tidak benar. Justru kaum heteroseksual sebagai penyumbang tersbesar, namun kelompok ini luput dari stigma masyarakat. Hal ini barangkali bisa diasumsikan tidak adanya sebuah asosiasi kelompok dari kaum heteroseksual yang dapat disalahkan (blaming) dibandingkan kaum LSL yang secara nyata mengukuhkan dirinya sebagai kelompok yang mulai terbuka (coming out).

Tantangan VCT
Stigma negatif terhadap LSL yang dilatarbelakangi oleh keterbukaan setiap individu LGBT mengenai orientasi seksual, dijadikan alasan sebagai penyebab utama penyebaran virus HIV/AIDS yang terlanjur menjamur di masyarakat. Melihat keprihatinan akan peningkatan penderita HIV/AIDS pada kategori LSL, maka individu gay di beberapa kota di Indonesia rutin melakukan tes HIV/AIDS serta konseling yang bertujuan untuk menekan peningkatan penderita HIV/AIDS dan menjaga kesehatan reproduksi meskipun jumlah individu gay yang secara sukareka mengikuti VCT (voluntary counseling and testing) sangat sedikit.
Tes ini dilaksanakan untuk mengatahui, ada atau tidaknya virus HIV/AIDS yang bersemayam dalam diri seseorang dengan cara mengambil sampel darah. LSL merupakan bagian dari kelompok masyarakat yang beresiko tinggi terkena virus ini, sehingga tes merupakan langkah yang wajib dilakukan. Semakin cepat terdeteksi, semakin cepat pula pengobatan dan penanganannya, sehingga seseorang dapat diselamatkan dari virus HIV/AIDS.
Lokasi pemeriksaan bisa bertempat di puskesmas, rumah sakit atau pelayanan kesehatan yang bekerjasama dengan dinas terkait. Fasilitas kesehatan milik pemerintah telah memiliki standar operasional prosedur yang memperlakukan dengan ramah kelompok ini. Misalnya dengan membuat menambah jam pelayanan hingga malam hari dan menambah jam kerja, sehingga memungkinkan kelompok ini dapat dengan mudah mencari waktu yang tepat dan longgar untuk memeriksakan diri setelah selesai dengan rutinitas pekerjaan. Salah satu keberhasilan dari penanganan penyakit menular adalah deteksi dini.
Persoalannya, deteksi dini pada LSL sulit dilakukan, karena sebelum kaki mereka menginjak fasilitas kesehatan, rentetan stigma telah disandang, sehingga untuk membuka diri atau mengakui diri sebagai gay di hadapan sesama gay, misalnya, memerlukan sebuah keberanian. Terlebih mengakui bagian dari LSL di depan dokter atau perawat yang baru dikenalnya. Hal ini merupakan tantangan dalam program VCT. Namun, keberaniannya melaksanakan tes tersebut, memiliki makna luas. Tidak sekadar mengikuti program pemerintah, tetapi juga melawan berbagai stigma yang telah disematkan kepadanya.
Seorang aktivis gay di Kota Semarang, Jawa Tengah, menceritakan upaya mengajak LSL melalui strategi tutor sebaya atau teman sesama gay. Cara ini efektif diterapkan. Dalam waktu beberapa tahun, sudah ada ratusan gay yang terlibat VCT. Namun, diakuinya masih banyak yang enggan yang dipicu antara lain soal stigma yang berdampak pada ketertutupan diri sendiri.
Stigma yang telah melekat pada individu gay menjadikan alasan untuk menutup diri, sehingga tes tersebut tidak dijalankan. Akibatnya, virus HIV/AIDS tak terdeteksi sejak dini. Tes ini juga bukan bermakna setiap orang yang memeriksakan diri adalah terinidikasi virus, tetapi tes sebagai bentuk penyisiran terhadap penyakit menular. Belum adanya keterbukaan diri dalam individu menjadikan jumlah individu gay yang terlibat tergolong sedikit.
Keengganan untuk terlibat VCT, disebabkan adanya beban ganda yang dimiliki individu gay karena pandangan negatif dari masyarakat. Masyarakat meyakini bahwa identitas seksual individu gay mengacu pada perilaku seksual menyimpang yang mengakibatkan penularan virus HIV/AIDS. Stigma yang pertama adalah mereka gay. Stigma tersebut yang pada akhirnya membuat individu gay merasa diberlakukan tidak adil di negara demokrasi ini. Mereka meyakini bahwa tidak mudah untuk hidup dalam orientasi yang berbeda di Indonesia. Permasalahan kemudian muncul ketika individu gay kembali memperoleh stigma sebagai penyebab utama penyebaran serta penularan virus HIV/AIDS bagi masyarakat.
Masyarakat akan memberikan beban ganda karena stigma ganda yang dimunculkan bahwa “sudah gay juga positif HIV/AIDS”, sehingga besar kemungkinan mereka akan terkucilkan dan terisolir dari kehidupan sosial bermasyarakat. Individu gay yang mau melakukan tes serta konseling distigma oleh masyarakat sebagai kaum marjinal (homoseksual) dan stigma ganda akan bertambah ketika mereka juga terkena penyakit HIV/AIDS. Permasalahan tersebut yang menjadikan ketakutan bagi mereka untuk melakukan VCT secara sukarela serta menemukan orang-orang yang positif HIV/AIDS di tengah-tengah masyarakat. Sehingga ketakutan merupakan hambatan terbesar untuk melakukan tes HIV/AIDS. Upaya mengakses fasilitas kesehatan ini sebetulnya membuktikan upaya perlawanan simbolik terhadap stigma yang melekat terkait kaum LSL atau LGBT sebagai saran penyebaran virus HIV/AIDS.
Berbagai cara tentu dilakukan mereka dalam upaya mensosialisasikan serta mengkampanyekan tes kesehatan atau VCT bagi masyarakat khususnya pada kelompok LGBT tersebut. Berbagai faktor penghambat indivdu gay enggan melakukan VCT beragam. Faktor-faktor tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek diantaranya kondisi sosial dan budaya, kondisi keluarga, agama, pendidikan seksualitas, serta biaya.
Kondisi sosial dan budaya di Indonesia yang belum mengakui bahkan tidak menerima adanya kelompok LGBT, menjadikan faktor individu gay tidak mau terbuka akan orientasi seksual serta perilaku seksualnya sehingga mereka enggan melakukan VCT secara sukarela. Penerimaan lingkungan terhadap sikap sosial dan budaya pada individu dengan beragam orientasi seksual, identitas seksual serta ekspresi gender dengan mereka yang heteroseksual pada umumnya berbeda. Mereka yang cenderung menolak keberadaan kelompok LGBT bisa dikatakan adalah mereka yang belum memahami secara mendalam akan perbedaan orientasi seksual, identitas seksual serta ekspresi gender.
Mayoritas masyarakat yang memiliki populasi serta kekuasaan yang besar sesungguhnya terkungkung dalam kontruksi sosial akibat minimnya pengetahuan. Kelompok LGBT adalah manusia yang sama seperti manusia pada umumnya yang membutuhkan kesetaraan hak, perlindungan serta penerimaan lingkungan. Namun hal tersebut hampir atau bahkan mustahil di dapatkan oleh kelompok LGBT terlebih pada lingkungan sosial dan budaya di Indonesia. Faktor tersebut yang membuat kelompok LGBT menutup diri akan orientasi seksual, identitas seksual serta ekspresi gender.
Individu heteroseksual lebih diterima masyarakat karena mengacu pada heteronormativitas, sebaliknya individu dengan beragam orientasi seksual, identitas seksual serta ekspresi gender yang berbeda lebih menonjol dikalangan masyarakat karena dianggap tidak sesuai dengan konformitas yang mengacu pada prokreasi. Banyak orang mengetahui adanya keberadaan kelompok LGBT namun tidak sedikit orang yang mengacuhkan keberadaan mereka. Fakta yang paling menonjol adalah penerimaan seorang waria dilingkungan keluarganya. Banyak dari waria mengaku tidak diterima pihak keluarga atau bahkan diusir karena dianggap membawa aib bagi keluarga.
Berdeda dengan mereka yang cenderung memiliki orientasi seksual lesbian, gay dan biseksual. Masih diterima oleh lingkungan keluarga apabila mereka mengunci rapat apa orientasi seksualnya. Namun ada beberapa keluarga yang mampu menolerir perbedaan orientasi seksual meski penerimaan tersebut masih dalam kategori abu-abu. Artinya adalah mereka diberikan haknya untuk menjalani pilihan sebagai seorang LGBT, tetapi secara kurang rela dan tetap mengharap jika nantinya mereka dapat kembali menjadi seorang heteroseksual.
Secara konseptual, banyak orang Indonesia yang menyatakan bahwa mereka menentang homoseksualitas. Laporan Global Attitudes Project oleh Pew Research yang dikutip dari (Laporan LGBT Nasional Indonesia: Hidup Sehat Sebagai LGBT di Asia. Tinjauan dan Analisa Partisipatif Tentang lingkungan, Hukum dan Sosial Bagi Orang dan Masyarakat Madani Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender menyebutkan, sikap terhadap homoseksualitas menunjukkan adanya penolakan terhadap homoseksualitas oleh 93% responden survei di dalam negeri dan hanya ada 3% yang bersikap menerima.
Namun, dilain sisi seperti beberapa negara yang telah melegalkan pernikahan sesama jenis adalah orang-orang yang bersikap liberal, progresif serta memahami secara mendalam prinsip-prinsip hak asasi manusia tentang keragaman orientasi seksual, identitas seksual serta ekspresi gender pada segala aspek. Apabila pihak keluarga tidak mau menerima orientasi seksual mereka, bagaimana jika pihak keluarga mendapati kenyataan bahwa “sudah gay juga terkena HIV/AIDS”. Tentu hal tersebut yang dapat menjadikan salah satu faktor seorang individu gay enggan coming out, sehingga menjadi penghambat individu gay untuk melakukan VCT secara sukarela.

Agama dan Pendidikan Seksualitas
Keluarga merupakan faktor utama yang berpengaruh besar terhadap kehidupan kelompok LGBT, akan tetapi penerimaan keluarga terhadap orientasi seksual individu gay dibatasi karena tekanan sosial serta budaya yang kuat terlebih karena acuan menjadi heteronormativitas dengan tujuan prokreasi. Faktor lain yang berpengaruh terhadap kelompok LGBT adalah agama. Penduduk Indonesia adalah kumpulan orang beragama, seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Ajaran agama yang ditafsirkan secara konservatif oleh individu-individu religiuslah yang mempengaruhi pandangan masyarakat untuk menolak keberadaan kelompok LGBT. Semakin religius (formalistik) suatu daerah, maka akan semakin besar tantangan yang dihadapi oleh kelompok LGBT, sebab syariat agama akan dibawa untuk dijadikan tameng mendiskriminasi kelompok minoritas tersebut.
Sebagian besar kelompok LGBT yang dibesarkan pada lingkungan yang beragama, pastilah menerima penolakan yang sangat kuat baik pada level keluarga, tempat tinggal maupun lingkungan sekitar yang menginternalisasi homofobia sehingga mereka mengalami kesulitan untuk dapat menerima orientasi seksual, identitas gender serta ekspresi gender mereka sendiri. Mereka seperti di bawah kungkungan dosa karena berbeda seperti orang pada umumnya (straight) terlebih jika para tokoh agama selalu menyuarakan bahwa keberadaan LGBT berlawanan dengan fitrahnya. Seperti yang dikutip pada bukunya Hendri Yulius Coming Out (2015), “Bisakah seorang gay tetap beriman meski melakukan hubungan sesama jenisnya?”.
Pertanyaan tersebut yang sebagian besar menjadi pergulatan batin individu gay untuk mau terbuka akan orientasi seksualnya terlebih bagi mereka yang dinyatakan positif HIV/AIDS. Faktor agama juga diyakini sebagai penghambat individu gay enggan melakukan VCT secara sukarela karena mereka seperti diikuti rasa berdosa dan ketakutan jika nantinya masuk neraka hanya karena orientasi seksual. Perlu diingat bahwa setiap manusia adalah tempatnya salah dan dosa, sehingga bukan berarti karena mereka berbeda dengan orang heteroseksual maka dapat menghakimi kaum homoseksual.
Makna dari pendidikan seksualitas tidak hanya membahas mengenai hubungan intim seseorang saja namun juga persoalan mengenai keragaman gender, orientasi seksual, identitas seksual, ekspresi gender, perilaku seksual, kekerasan seksual, pornografi serta kesehatan reproduksi. Seksualitas merupakan suatu pemahaman diri yang saling berkesinambungan antara isu seksual, politik, kesehatan, sosial, ekonomi, hukum, maupun budaya sehingga jika berbicara mengenai seksualitas, maka tidak dapat berdiri sendiri.
Michel Foucault dalam bukunya La Volonte de Savoir Histoire de la Sexualite (Ingin Tahu Sejarah Seksualitas), menjelaskan sejak abad ke-17, seksualitas kerap diperbincangkan pada berbagai kelas sosial meski secara sembunyi-sembunyi karena saat zaman tersebut membicarakan seksualitas adalah hal yang dilarang. Sejak abad ke-18, seks tidak henti-hentinya menimbulkan semacam dorongan yang semakin besar untuk membentuk wacana oleh karenanya karena dorongan akan wacana seksualitas semakin mengalir yang membuat Foucaultpun akhirnya menulis tentang penyimpangan. Hingga abad ke-18, tiga kode eksplisit digunakan sebagai acuan di samping kebiasaan adat istiadat dan kendala pendapat umum menguasai kegiatan seksual seperti hukum agama, ajaran pastoral kristen dan hukum perdata. Kode yang beragam tersebut tidak memisahkan secara jelas antara pelanggaran atas aturan perkawinan maupun penyimpangan yang bersifat genital. Berbicara mengenai seksualitas juga tidak terlepas dari sosok homoseksual dan lebih merupakan kodrat khasnya daripada kebiasaan yang mengandung dosa. Homoseksualitas diyakini muncul sebagai salah satu perwujudan seksualitas ketika dialihkan dari praktik sodomi menjadi semacam androgini batin maupun hermaphrodisme jiwa (2008: 56-66).
Pendidikan seksualitas juga sebaiknya memberikan pengetahuan serta informasi seputar kesehatan dan kesejahteraan kelompok LGBT di Indonesia terutama yang terkait dengan isu HIV/AIDS dan penyakit menular seksual yang tidak hanya ditujukan bagi mereka yang heteroseksual. Oleh karena itu, kurangnya pendidikan akan seksualitas baik pada kelompok LGBT maupun masyarakat umum dapat menimbulkan pertentangan keberadan kelompok minoritas tersebut. Individu gay juga semakin diliputi rasa tidak percaya diri akan orientasi seksualnya yang berbeda, sehingga dapat menjadikan faktor penghambat individu gay untuk tidak mau melakukan VCT secara sukarela terlebih jika nantinya dinyatakan positif.
Dari penjabaran di atas, individu gay yang mau melakukan VCT secara sukarela terdorong oleh rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri. Individu gay mendapat saran dan dorongan dari teman, keluarga, dan pendamping.  Selain itu, diperlukan upaya terintegrasi antara lain Dinas Kesehatan, LSM, keluarga, teman serta masyarakat, terkait dengan perubahan perilaku seks berisiko. Pada gilirannya, upaya-upaya untuk melawan stigma dilakukan dengan cara-cara yang ditempuh masyarakat pada umumnya. Hal ini membuktikan kelompok ini merupakan individu yang sama dengan lainnya sebagai sesama manusia. Orientasi seksual bukanlah pembeda kedudukan dalam lanskap kemanusiaan. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat serta menjadi salah satu bahan pertimbangan masyarakat untuk tidak bersikap diskriminatif terhadap kelompok minoritas terlebih LGBT apapun alasannya. Karena pada hakikatnya, semua manusia adalah sama. Hapus seluruh stigma, karena mereka bagian dari kita!

*Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Artikel ASEAN Literary Festival 2017 bertema "Keberagaman Gender dan Seksualitas". 

Kamis, 30 Maret 2017

Titip rindu untukmu

Entah, dari mana harus kutulis
Setiap kata yang kurasa
Setiap kalimat yang tak dapat terucap
Dan setiap perasan yang hanya bisa kupendam

Kamu, yang selalu menyambutku ketika ku lelah
Lelah dengan segala masalah
Kamu, yang dengan sabar mendengar ceritaku
Mencoba membantu meringankan bebanku

Masih jelas kuingat, 31 Desember lalu
Untuk pertama kalinya aku menjemputmu
Di ujung jalan itu, kau mengenakan jaket biru
Ahhh....masih jelas di dalam memoriku

Kamu, selalu menemani hari-hariku
Mengantarkan kemanapun aku mau
Menemani ke semua tempat yang kutuju

Pagi, siang, sore dan malampun kita selalu bersama
Merajut cerita pun cia-cita
Seyum itu, tawa itu
ahhhh.....aku tak bisa melupakannya
Helooooow......yahhhh helowwww.....
Dalam tangis, aku selalu tersenyum
Sambil mengingat dan membayangkanmu

Kini, kamu pergi
Meski bukan untuk selamanya
Tapi aku merasa
Aku kehilangan

Mavkan aku jika sering meninggalkanmu sendiri
Kini aku tahu bagaiaman rasanya berteman sepi

Heiii....jangan sedih, tetep terseyum
Jika kamu ingin kembali, pulanglah
Rumah ini selalu terbuka untukmu
Nanti, kita berkumpul lagi
Berbagi cerita berbagi ceria

Ternyata hari ini tanggal 30 Maret
Heiiii sebenarnya aku tak ingin kamu pergi
Tapi, aku tak bisa melarangmu mengejar cita-cita

Jaga diri disana ya.....
Ingat, kami selalu mencintaimu
Ini tulus dariku
Kutitipkan rindu, untukmu

Senin, 01 Februari 2016

10 permainan tak terlupakan anak sembilan puluhan

Jrueng...
sudah lama gak buka blog...
Sudah lama gak nulis di blog...
Tanpa basa basi, penulis mau menyombongkan diri...#uhuuuk

(Np Adelle-Hello)
Hellow.....it's me....
Hellow.....how are you....
I'm anak sembilan puluhan...
Kamu anak berapa puluhan....#badalah

Jadi ceritanya penulis mau nulis sesuatu untuk ditulis...biarpun ceritanya miris tapi romantis...baca aja kalo gak percaya...

Ini cerita tentang pengalaman beberapa permainan anak yang lahir tahun sembilan puluhan...tepatnya sih penulis lahir tahun 1992..cukup keren karna sionya monyet..karena menurut ahli fengsui, monyet itu tipikal yang enerjik tapi licik...waduh....
Tapi jangan salah, orang - orang yang bersio monyet kebanyakan orang yang cerdas, cekatan, pemberani tapi sering patah hati...waduh lagi...

Tapi memang benar...anak sembilan puluhan itu keren...enerjik...cerdas..cekatan...pemberani...
Kalo dari kecil, kehidupan kami anak sembilan puluhan termasuk anak - anak yang luar biasa hebatnya..asiknya..serunya..bahagianya...
Kenapa bisa begitu? Jelas...di masa kecil kami, gak ada tuh istilah galau, gagal move on, baper atau bahkan cabe cabean...

Anak - anak tahun sembilan puluhan itu adalah anak - anak yang lahir dipilih langsung oleh Tuhan buat ngerasain kebahagian yang amat sangat terlalu sekali luar biasa dan maha dasyatnya...halahhh lagi lagi...

Gimana enggak, jaman kami kecil nih banyak permainan dan pengalaman yang tak akan terlupakan..
Contohnya, kami suka memainkan permainan yang konyol dan gak masuk akal...

1.ketika main sepeda, ban belakang akan ditaruh bekas minuman gelasan biar bisa menimbulkan bunyi krek...krek...krek...krek...semakin cepat kami mengayuh semakin keras bunyi yang muncul...yang ada dipikiran kami saat itu seoalah bak pembalap moto gp..padahal ketika kami memainkanya tidak sedikit orang - orang disekitar terganggu dengan suara tersebut..bukan semakin kapok malah kami sering memainkan sepedanya hampir setiap hari..
Beda sama anak jaman sekarang, main sepeda mah cuma buat gaya - gayaan...yuk yuk cfdan, padalan sampai sana cuma mau foto sambil beli jajanan..trus di aplod biar terlihat kekinian...betul tidak?

2.saat bulan ramadhan tiba, sehabis sahur kami tidak pernah tidur..kami selalu berkumpul untuk bermain petasan...biar lebih keren, petasanya dimasukan kedalam botol atau kaleng..kalo tetangga sekitar terganggu dan keluar rumah, kami siap - siap lari kocar kacir dan bersembunyi...tapi habis itu pasti main lagi..beda sama anak jaman sekarang, kalo habis saur biasanya pada nonton acara sinetron religi ataupun musical komedi yang gak bermutu...ujung - ujungnya bakalan nyetatus bak komentator handal tentang acara tipi trus akhirnya tidur lagi...betul tidak?

3.masih edisi bulan puasa...setiap sore dibulan ramadhan, biasanya diperumahan kami ada kajian anak - anak yang notabene pasti sebelum pulang, selesai pengajian, saat maghrib tiba, anak - anak akan diberikan makanan kecil yang biasanya kami sebut dengan jaburan....uniknya anak - anak tahun 90an akan datang jam - jam mepet mau maghrib biar cepet pulang dan bawa jajan...beda banget deh sama anak - anak di atas kami atau dibawah kami..biasanya mereka rajin - rajin kalau datang...hahaha....jadi bisalah dipake buat nandain jam kedatangan anak sembilan puluhan...beda sama anak jaman sekarang yang kalau mau sore mereka pada sibuk janjian buat acara buka puasa bersama, kesinilah, kesitulah...udah kayak pejabat aja tiap hari buber..ujung - ujungnya biar bisa dikatain anak soksialita..padahal mah aslinya gak ada kesibukan lain selain sok - sok an sibuk...betul tidak?

4.masih edisi bulan puasa lagi..setiap mau tarawih, anak sembilan puluhan gak langsung bergegas menuju masjid, tapi kami akan berkumpul dulu untuk berdiskusi masjid bagus mana yang akan kami kunjungi..dengan kriteria masjidnya besar, bagus, dan wangi...tak lupa sebelumnya kami mampir ke warung untuk membeli amunisi seperti chiki dan minuman jelli..takutnya kalau laper di tengah - tengah ibadah, maklum lah kami masih kecil - kecil tapi sudah puaza penuh haha...trus kalo tarawihnya udah mulai, kami ya pasti ikut tarawih, tapi pasti cuma sampai beberapa rakaat aja...selebihnya kami gunakan buat ngobrol dan nyemil jajan sambil dlosoran..kalo ditanya pasti kami bilang "capek ah..istirahat dulu"....bedalah sama anak jaman sekarang yang boro - boro abis buber tarawih bersama, mereka mah abis buber cabut ke tempat kongkow...nongkrong di cafe..biar dikira anak kece..foto selfi, trus di aplod lagi...masih mending anak sembilan puluhankan, dosa sih iya tapi masi lumayan ingat tarawihan..betul tidak?

5.masih edisi bulan puasa lagi lagi..berhubung penulis orang jawa, so di adat kami ada tradisi dugderan..yaitu arak - arakan sebelum bulan ramadhan tiba esok harinya...nah di tradisi dugderan itu ada berbagai acara..mulai dari pasar seni, penjual mainan sampai penjajak makanan..nah biasanya kami anak sembilan puluhan tak pernah luput dari kunjungan tersebut..karena disana seperti surganya mainan..salah satu mainan khas dari anak - anak sembilan puluhan adalah kapal otok - otok..kapal itu ada kapal mainan yang terbuat dari seng dan sudah digambari..biasanya berwarna warni, ada merah, hijau, biru, kuning dan masih banyak lagi..mainnya juga ga sembarangan, ada sumbunya yang berisi minyak tanah sedikit, trus sumbunya dipantik dengan api..kalo api sudah menyala ditaruh di kerongkong kapal..nah kapal akan jalan dengan sendirinya sambil berbunyi...tokkk..otoook..otokkk....biasanya kapalnya ditaruh diatas ember dan akan berjalan mengitari embernya...masi tentang permainan kapal, setiap musim penghujan tiba dan kami melihat ada genangan air, segeralah kami bergegas mengambil kertas dan membuat kapal kertas..kalo udah jadi kapal kertas itu, kami taruh diatas genangan air hujan yang mengalir...sambil bertepuk tangan kami bilang"ayo..ayo..ayo" seraya menyemangati si kapal untuk terus melaju kencang....hummm....seru deh pokonya main kapal - kapalan versi anak sembilan puluhan...anak jaman sekarang mah mungkin ga ngerti betapa serunya sama permainan itu...jangankan main kapal otok -otok..kedugderan saja mungkin tidak...jangankan main kapal kertas, kena air hujan sedikit saja mereka takut sakit..dari pada mainan hal yang ga bermutu gitu, mending mereka main hape..sambil baper mengenang mantan di saat hujan...betul tidak?

6.kalo soal game, anak tahun sembilan puluhan itu masa keemasan dan kejayaan..soalnya kami pernah merasakan main nintendo, video game, sega dan permainan game control sejenisnnya..permainan favorit kami itu super mario bross dengan jamur dan tentara keongnya, sonic sega dengan kumpulan koinnya, atau bahkan game nembak bebek yang aku lupa namanya tapi masi teringat jelas di hati ini..mainya pake senapan bawaan gamenya, nanti bebeknya ditembak kalo pas keluar...dorrrr..dorrrr...dor...menang deh...sekarang mah permainan begituan sudah gak ada lagi..sudah punah digerus jaman..terus ada tamagochi...permainan keren di era kami...mainya tuh kayak melihara binatang kesayangan tapi versi game..so harus di kasih makan, dimandiin, dibersihin pupnya, dan dirawat biar ga sakid...permain - permainan anak jaman sembilan puluhan mah emang asik - asik...beda sama anak jaman sekarang..mereka mah ga kenal main begituan..sekarang jamannya main playstation yang gamenya juga ga seseru permainan jaman dulu..kalo anak jaman dulu mau melihara binatang aja pake game, kalo anak jaman sekarang mah main gaperlu pake game kalo mau main sama binatang peliharan..cukup beli binatangnya, trus dirawat, kalo sakit sampai harus dibawa ke klinik hewan, dikasih makan kalo laper, kalo gamau makan nanti dikasih vitamin biar ga kurusan, habis gitu difoto...di aplod...kalo misal ada yang suka, nanya, terus ditawar, ya di jual deh...kan ya kan, mala dijual akhirnya..kayak kata pepatah, hidup itu ibarat minum air, tapi air sirup..enak kan ya...hahahha....

7.masi tentang permainan anak sembilan puluhan, kalo jaman dulu kami suka sekali main ular tangga...soalnya bisa slonteng - slontengan  sama lawan...kalo mau nyampe ke  angka 100 pasti di slonteng biar melorot ke angka kecil..akhirnya lawan kalah, kami bahagia...terus ada permainan monopoli, main rame - rame biar tambah seru sambil menggebu - gebu bak pengusaha kaya raya yang bangun hotel sana sini..paling seneng kalo ada lawan yang jatuh ke daerah kekuasan kami apalagi sudah dibangun hotel....sambil mata berkaca - kaca bahagia kami akan berkata, "sini ayo bayar..bayar.." dengan ketawa lebar khas anak-anak tahun sembilan puluhan...bedakan sama anak - anak jaman sekarang, mereka gak terlalu bisa merasakan kebahagian permainan semacam itu..mereka mah bisanya main monopoli online atau getr$$h...udah gitu ngabisin kuota lagi..kan boros...apalagi kalo kalah..sedih banget rasanya...kenapa? Ya soalnya gak ada temen yang mau diajak main langsung..maklum pada sibuk nongkrong dan aplod foto norak...so mana bisa mereka berkumpul cuma untuk memainkan permainan konyol begituan...mending kumpul buat nongkrong..betul tidak?

8.kalo sore - sore nih biasanya anak sembilan puluhan pada kumpul depan rumah, sambil main lompat tali, bola bekel, dakonan, toyak rembet, gobak sodor, atau permainan tradisional lainnya..yang paling seru itu main petak umpet, senengnya kalo temen kita yang jadi dan pusing mencari, sedangkan kita asik sembunyi...dan main sepak bola dikala hujan tiba..akan sangat gembira kalo main sepak bola sambil hujan - hujanan..biarpun sampai rumah pasti dimarahi ibu karena basah kuyub
...tapi serunya..yang gabisa dilupakan sampai sekarang...beda banget kan sama anak jaman sekarang...jangankan permainan petak umpet atau dakonan, main sepak bola aja mereka di dalem stadium...udah gitu didalem ruangan pas malem hari..kalo siang kan takut panas..apalagi kalo hujan, itu gamungkin mereka lakukan...kalo males futsalan ya mereka main pes..anggep aja kayak main bola beneran..apalagi pas main game ada suasana hujannya, udah kayak beneran mainnya...hahaha....kalo main lompat tali mereka mah ga jaman..biasanya mereka main angkat barbel biar lebih macho..padahal isinya orang - orang ho**...nah kan salah pergaulan..so mana serunya? Kebablasan iya...betul tidak?

9.anak jaman sembilan puluhan itu anak - anak lucu dan lugu pilihan Tuhan..gimana enggak, anak sembilan puluhan sukanya main pantun kalo ada temen yang ditaksir...misalnya "satu titik dua koma, kamu cantik aku yang punya"...atau paling cuma "ciye ciye dapet salam dari si ciye"..cuma sebatas gitu aja tuh hebohnya sampe sekelas tahu..kalo udah gitu malunya minta ampun...jaman kami gak ada tuh yang namanya pacar - pacaran atau sampai hamil -hamilan...paling cuma sekedar taksir - taksiran yang terpendam...beda kan sama anak jaman sekarang, jangankan main pantun..mereka mainya gombal - gombalan..nanti kalo udah, pasti ada yang php - phpan...trus jadinya baper - baperan..kalo kelewatan udah pacaran juga ujungnya hamil - hamilan, gak ada yang mau tanggung jawab ya jadinya lari - larian...sakit kan.......betul tidak?

10. Dan yang kesepuluh permainan dan pengalaman seru anak sembilan puluhan itu ngumpulin hal - hal gak penting...kayak banyak - banyakan ngumpulin tazoz dari hadiah chiki, banyak - banyakan ngumpulin kelereng buat ditarungin..banyak - banyakan ngumpulin umbul dan punya gacuk kesayangan, banyak - banyakan ngumpulin gambar pasang barbie..dan kalo udah dimainin rame - rame sama lawan..serunya gak ketulungan....kalo kalah emang sakitnya ga nahan..tapi bahagianya luar biasa...bedalah sama anak jaman sekarang yang gabisa ngerasain mainan begituan...mereka mah mainnya kartu..pake uang alias judi...kalo kalah malu sendiri..kalo apes ya ketangkep polisi..terus dimasuki  jeruji besi....betul tidak?

Nah itulah 10 permainan seru dan pengalaman yang tak terlupakan anak tahun sembilan puluhan versi penulis...sebenernya masih banyak sih permainan dan pengalaman seru anak sembilan puluhan...kalo diulas dan ditulis, mungkin bisa jadi satu buku..tapi 10 simpulan ini udah cukup mewakili...tulisan ini cuma buat mengenang masa kecil penulis yang begitu keren dan tak terlupakan...kenangan indah yang gak akan pernah keulang lagi...cuma bisa teringat di dalam memori dan tersimpan didalam hati...
Tulisan ini juga gak ada maksud membandingkan yang kelewatan atau bahkan menghina anak jaman sekarang...bukan lah...ini cuma tulisan kebahagiaan anak jaman sembilan puluhan...kalo ada salah kata mohon dimaavkan....nanti kapan, penulis bakal nulis lagi pengalaman seru anak sembilan puluhan yang gak akan pernah terlupakan..versi lain tentunya....

Salam keren,
Anak SEMBILANPULUHAN :)

Senin, 07 Desember 2015

Menjadi jurnalis itu hina? Kata siapa?

Hmmm...sudah lama ya tidak menulis blog...bukan karena malas, akhir-akhir ini sedang disibukkan dengan studi yang tugasnya hilir mudik setiap hari...datang dan pergi sesusaknya tanpa dosa...yah apa daya seorang mahasiswa demi mengenakan sebuah toga...berat rasanya, tapi harus tetap di jalani untuk menggapai mimpi....

Tanpa disadari pikiran ini sedang berkecamuk tak terarah...bukan karena terkena masalah, tapi memikirkan akankah profesi yang pernah dan akan kujalani menimbulkan masalah....hmmm....bagiku tidak, namun tidak bagimu...

Menulis itu hobi, jurnalis itu profesi...profesi yang tidak semua orang sanggup menjalani...Jurnalis atau yang biasa disebut dengan wartawan...adalah pekerjaan yang mulia menurutku...kenapa tidak, karena melalui tangan terampilnya mengolah kata, kita bisa membaca berita...karena melalui tubuh gesitnya mencari dan mendatangi sebuah peristiwa, kita bisa mendapatkan informasi dengan cepat dan mudahnya...panas terik matahari, dinginnya hujan yang membasahi bumi, tak menyurutkan niat mereka untuk tetap mencari dan mendatangi peristiwa menjadi berita...bahkan tak jarang ancaman dan bahaya yang menghantui setiap saat tak menyurutkan tekat mereka untuk tetap mencari sumber informasi terkini...lalu, mengapa sebagian dari kalian menganggap pekerjaan menjadi seorang wartawan itu hina?
Bukan kami yang membuatnya menjadi hina, mereka para penguasa media, budaya yang menjadi tradisi serta datangnya media-media yang tidak bertanggung jawab!!!

Banyak orang menyalahkan pekerjan sebagai jurnalis yang membuat paradigma serta perilaku masyarakat kita kacau, dan konyol....banyak yang menyalahkan media atas semua tindakan pemikiran akibat mengkonsumsi media...katanya, akibat pemberitaan yang tidak sebenarnya...katanya, akibat pemberitaan yang tidak seharusnya...katanya, akibat pemberitaan yang selalu membesar besarkan peristiwa, memberitakan yang lemah dan menutupi penguasa yang salah...serta masih banyak lagi katanya katanya dan katanya....

Banyak yang berpendapat dan berkata jurnalis atau wartawan sekarang tidak bersikap independen dalam menyuguhkan berita, menyisipkan kata -kata yang tidak seharusnya, hal itu demi mendongkrang popularitas, menaikan target perusahan media tanpa memikirkan akibatnya, berkiblat pada lembaran rupiah dan masih banyak lagi caci maki yang selalu kalian ucapkan setiap hari...

Pernahkah berfikir mengapa hal itu bisa terjadi? Siapa penyebabnya? Dan bagaimana solusinya dari pada kalian harus ribut menyalahkan para wartawan?

Perlu diingat, pekerjaan sebagai seorang pencari berita tidak semudah dan sehina yang kalian kira...pagi jadi malam, malam jadi pagi itu sudah biasa...tanpa kenal lelah kami terus bekerja...dituntut untuk menghasilkan sebuah berita setiap harinya...namun sebelum terjun ke lapangan para wartawan selalu konfirmasi dengan atasan, tentang baik dan buruk, pantas dan tidak peristiwa tersebut layak untuk diberitakan...tak luput dari itu, atasan mendapatkan mandat dan tekanan dari penguasa media untuk dapat memajukan perusahaan...jadilah wartawan yang menjadi sasaran bagaimana cara agar pemberitaan menjadi sebuah godaan untuk dibaca para penikmat media, menjadi sebuah gambaran kejamnya kehidupan, menjadi sebuah lukisan negeri yang seakan-akan begitu menakutkan...

sebelum menjadi jurnalis atau wartawan pada media yang dapat dipercaya, wartawan dibekali kode etik jurnalistik...bisa melewati bangku kuliah selama 3.5 sampai 5 tahun kami para sarjana komunikasi konsentrasi jurnalistik dibekali berbagai ilmu kejurnalistikan...atau berbagai pelatihan kejurnalistikan oleh lembaga-lembaga jurnalistik...hal tersebut diharapkan agar kami menjadi jurnalis yang selalu berpedoman pada pancasila dan undang undang dasar 45...oleh sebab itu, tidak salah jika jurnalistik disebut sebagai pilar keempat sebuah negara...

Hal yang membuat rusaknya dunia jurnalistik adalah pemilik atau penguasa media...pemilik jabatan negara...mengapa begitu? Jelas....pemberitaan menjadi tidak imbang akibat monopoli media...penyuapan demi memperbaiki citra pemberitaan...penguasa atau pemilik media ingin mendongkrak popularitas, menaikan target perusahaan, dan melebarkan sayap perusahan media yang akhirnya membuat tekanan pada karyawan dan bawahan bagaimana misi tersebut bisa terlaksana...akhirnya, jurnalis atau wartawanlah yang menjadi korban.....

Yang kedua adalah budaya...budaya yang dimaksud disini adalah budaya memberikan sejumlah uang agar pemberitaan dapat dikondisikan oleh penguasa...penguasa elit politik terutama...kebanyakan dari pemilik perusahan atau para penguasa elit politik mengucurkan dana segar kepada jurnalis agar tidak memberitakan hal yang tidak perlu diberitakan...memang tidak seberapa jumlahnya, namun uang tersebut yang dapat membelokan pemberitaan...akhirnya pemberitan menjadi tidak berimbang dan tidak layak untuk dikonsumsi...tidak dapat disalahkan juga, bisa jadi karena keminiman upah yang mereka dapatkan yang tidak sesuai dengan jerih payah membuat mereka terpaksa untuk menerimanya...menerima yang seharusnya bukan menjadi haknya...menerima yang jelas-jelas melanggar kode etik jurnalistik...namun bagaimana lagi, budaya tersebut sudah menjadi tradisi bagi media di negeri ini...tradisi yang salah dan mendarah daging...

Dan yang terakhir akibat berdatangnya media yang tidak bertanggung jawab...namanya saja tidak bertanggung jawab, jangankan wartawannya, isi pemberitaanyapun pasti tidak dapat dipertanggung jawabkan pula...kehadiran media yang tidak bertanggung jawab tersebut yang juga merusak citra jurnalis dan jurnalistik negeri ini...mencari berita adalah kedok mereka untuk mencari uang...yah biasanya mereka disebut wartawan bodrek...karena pemberitaan mereka sifatnya memeras...hal terebut melanggar kode etik jurnalistik tentunya...akhirnya orang menjadi tidak percaya dan memberikan stigma yang salah kepada para jurnalis...padahal itu hanya dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, yang mengatasnamakan jurnalis demi kepentingan pribadi atau kelompok!!!

Ingat betul fakta yang terjadi, ketika seorang jurnalis muda wanita di stasiun tivi swasta dengan keindividualisme dan arogansinya menguak sebuah peristiwa, antek negara menjadi tidak terima akhirnya menjebloskanya di ruang perkara...hal tersebut juga dialami oleh teman saya sendiri, seorang jurnalis wanita muda yang dijebloskan di kursi pesakitan hanya karna dia menuliskan sebuah fakta tentang perbuatan yang tidak seharusnya namun disuguhkan versi penguasa negara...
Hal tersebut yang membuat para jurnalis atau wartawan negeri ini menjadi takut, takut menyuguhkan kebenaran, karena tidak adanya keadilan!!!

Sudah sadarkah kalian sekarang? Siapa yang membuat pemberitaan akhirnya menjadi tidak berimbang? Siapa yang membuat paradigma masyarakat kita menjadi konyol dan kacau melihat dna menyikapi sebuah peristiwa? Masihkah kalian penikmat media menyalahkan para jurnalis? Masihkan hina pekerjan menjadi wartawan?
Seharusnya kalian tahu cara menjadi penikmat media yang baik, menyikapi berbagai informasi dan berita dilandasi dengan berbagai sumber kebenaran fakta...tidak hanya semata agar dapat dilihat orang sebagai "yang tahu dan sok berwawasan luas" karena aktif menjadi penikmat media massa...hmmmm...salah besar!!!
Pikirkan hal lain yang masih bermanfat, dan carilah solusi untuk memperbaiki citra media saat ini...berilah masukan yang masuk akal bukan hanya selalu menyalahkan dan menghina pekerjan sebagai penyuguh berita...

Ingat, tanpa jurnalis atau wartawan, kalian tidak akan semudah ini mendapatkan informasi...jadi ubahlah pandangan untuk lebih menghargai profesi ini...karena semua profesi pasti mengandung resiko dan memiliki kesalahan...tidak hanya profesi menjadi jurnalis...ingat...tidak ada profesi dan pekerjan yang sempurna...karena kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta!!!

Sabtu, 13 Juni 2015

Inilah fase - fase terasingkan seumur hidup

Mungkin sebagian dari kita pernah merasa asing
Entah dengan tempat baru, teman baru, barang baru, suasana baru, bahkan hampir segala sesuatu yang berkaitan dengan kata baru
Namun apakah pernah dari kita merasa asing dengan sesuatu hal yang sudah puluhan taun ada dan selalu menemani hampir sebagian hidup kita?
Yah saya, saya sedang mengalami fase itu
Fase dimana saya merasa asing, diasingkan dan terasingkan

Kebimbangan yang melanda karena merasa terasingkan dan itu rasanya sakid
Kemarahan yang selau membawa bencana
Keegoisan yang selalu membuat kecewa
Entah apa dan bagaimana harus berlaku yang semestinya

Dipendam namun membawa kebencian
Diungkapkan namun membawa pertengkaran
Itu semua karena diasingkan dan terasingkan
Janganlah kita sesama manusia berlaku seperti itu
Jika keadaan yang akan membalikan, sudah siapkah kita menerima cobaan?

Tuhan. . .saya percaya engkau ada
Tuhan. . .saya percaya engkau penguasa
Tuhan. . .saya percaya engkaulah maha sempurna
Tapi apakah engkau tau Tuhan disini saya merasa diasingkan dan terasingkan?

Tuhan. . .
Dada ini sesak. . .tubuh ini lemas. .otak ini buntu dan mulut ini kelu
Mata yang sering meneteskan sumber airnya tak pernah dusta
Hati ingin meronta tapi apa bisa dikata
Tak bisa saya berbuat apa apa
Terlihat kecil dibanding lainnya
Merasa kecil dari yang lainnya
Sakit rasanya Tuhan. . .sakid. . .

Tangisku menjadi lelahku
Senyumku menjadi bahagiaku
Dan anganku menjadi doaku

Harapanku cuma satu, jangan lagi ada yang diasingkan atau terasingkan
Cukup aku yang pernah merasakan
Karena sakit rasanya menjadi orang yang tidak ada harganya
Dengan apapun yang kita lakukan pasti tidak ada hasilnya
Sakit. . . Sakit . . .sakit . . .
Belajarlah menjadi orang bijak
Karena semestinya manusia adalah saling mendoa bukan menghina

Senin, 13 April 2015

Ini tentang Indonesiaku

Ini tentang negeriku
Ini tentang bangsaku
Ini tentang asalku
Asal dari segala asal kehidupanku
Ini tentang Indonesiaku

Indonesia negeri tercinta
Tanah tumpah darah para pemuda
Disini aku dilahirkan
Disini aku dibesarkan
Disini aku mengerti arti kehidupan

Kini ku mulai dewasa
Mengerti apa yang harus ku mengerti
Memahami apa yang harus kupahami
Memutuskan apa yang harus ku putuskan
Melakukan apa yang harus kulakukan
Yah, karena kumulai tersadar betapa berharganya langkahku demi kemajuan negeriku
Ini tentang Indonesiaku

Hampir setahun sudah presiden negeriku di periode yang baru
Presiden yang terlahir dari rakyat
Presiden yang seharusnya melayani rakyat
Dan presiden yang akan membawa perubahan untuk rakyat

Berjuta juta rakyat memilihnya
Berjuta juta rakyat mengharapkanya
Berjuta juta rakyat mendukungnya
Berjuta juta rakyat mendoakanya
Semua harapan rakyat untuk kemajuan negeri tercinta
Yah lagi lagi, ini tentang Indonesiaku

Tidak mudah memperbaiki keadaan bangsa yang sudah carut marut
Tidak mudah menstabilan keadaan bangsa dengan waktu yang singkat
Tidak mudah membuat keadaan bangsa menjadi aman tanpa kekerasan serta pertikaian
Jika para pemimpin masih dengan gayanya sok memimpin
Jika para pemimpin masih dengan senyumnya sok berwibawa
Jika para pemimpin masih dengan jabatanya sok berkuasa
Ini bukan mengenai siapa salah siapa benar
Ini tentang Indonesiaku

Lihatlah pendidikan negeri kita yang belum merata
Lihatlah kesehatan negeri kita yang masih dibeda bedakan
Lihatlah keamanan negeri kita yang semakin memburuk
Lihatlah kesejahteraan negeri kita yang dilandasi ketidak adilan karena penguasa
Lalu kepada siapakah rakyat harus percaya?
Jika sudah begini, kemanakah rakyat harus mengadu?
Jangankan presiden, mentri ataupun pejabat dan para antek anteknya
Bahkan walikota sekalipun tidak akan pernah menggubris apa keluh kesah yang saya rasakan
Sesungguhnya ini mengenai keadaan yang saat ini terjadi

Pastilah apa urusan mereka, toh mereka sudah berusaha memperbaiki nasib bangsa
Tetapi.....Bangsa siapa? Bangsa yang mana? Bangsa yang seperti apa? Atau hanya demi memajukan kesejahteraan serta kelangsungan hidup mereka saja?
Entahlah, yang pasti ini tentang Indonesiaku

Bukan saya menyalahkan presiden beserta para pejabat lainnya dengan sikapnya yang seolah olah membela rakyat namun actionya masih belum terasa sampai saat ini
Kebingunganpun baik berupa moril maupu materiil juga sangat kurang rasanya
Melalui berbagai janji manis yang dikemas dalam sebuah kartu dengan tujuan menyehatkan seluruh lapisan masyarakat, mencerdaskan anak anak bangsa, serta mensejahterahkan seluruh rakyat Indonesia
Namun sampai sekarang hal tersebut hanya berada di angan angan saya
Jangankan merasakanya, seperti apa bentuknyapun saya tidak tahu
Karena yang saya miliki saat ini hanyalah kartu tanda penduduk yang dapat digunakan untuk mengurus apa saja asalkan ada uangnya
Bukankah begitu?
Di daerah saya yang cukup maju saja belum adanya sikap serta janji positif yang terlaksana
Apalagi masyarakat pelosok yang berada di ujung pangkal negeri ini
Mungkin mereka tidak akan terjamah karena para pejabat negeri hanya mengurus bagaimana cara mensejahterakan keluarganya demi menjunjung harkat martabatnya
Selain itu, Naik turunya harga bbm mengikuti harga minyak dunia, jelas membuat perekonomian bangsa semakin tidak jelas ujungnya
Coba jika mereka mendengar rintihan para pedagang dengan harga yang tidak jelas kapan naik dan turunya
Lebih lagi rintihan para ibu yang mengurus kehidupan rumah tangga
Harga kebutuhan pun naik turun tapi gaji jarang naik bahkan seringnya turun
Para aparatur pembela negara dengan sikap sok jagoanya menampakan diri siapa mereka sebenarnya
Dorrrr. .adalah sebuah kata terakhir untuk mengakhiri perselisihan tanpa ada titik terangnya, tanpa ada ujungnya
Saling tuding menuding, salah menyalahkan para pembela serta badan hukum negara yang ternyata mereka semua dalangnya
Ulah siapa? Salahkan siapa? Mengadu ke siapa?
Ya bukan saya menyalahkan presiden atau pejabat negeri saat ini, bukan pula saya menjadi profokator di balik memanasnya keadaan negara saat ini
Karena persisnya, saya sebagai rakyat hanya bisa menulis tentang Indonesiaku yang saat ini saya rasakan

Jika para pemimpin tak bisa merubah nasib bangsa, kita sebagai penerus bangsa harus bisa merubahnya
Dengan cara yang sederhana tapi besar manfaatnya
Stop korupsi!!!
Stop gratifikasi!!!
Stop segala bentuk tindakan yang dapat merugikan bangsa, merusak moral para pemuda serta kesenjangan sosial di antara kita!!!
Ini demi cita cita bersama
Ini demi kehidupan bangsa yang semestinya
Ini demi kesejahteraan rakyat yang sesungguhnya
Terimakasih untun Presidenku yang jatuh bangun dengan segala kewibawaanmu menjaga negeriku
Terimakasih untuk para pemimpin dengan segala gagasannya demi memajukan negeriku
Dan terimakasih yang teramat besar untuk semua rakyat yang selalu ikut andil dalam merawat serta membangun negeriku
Negeri tanah airku, negeri tumpah darahku
Karena ini tentang Indonesiaku

Hanya sebuah coretan mengenai muaknya keadaan negeriku
Tanpa bermaksut menghina, menghujat, menjatuhkan, bahkan memperburuk keadaan
Karena kebingungan dengan cara apa dan bagaimana presiden serta para pejabat mengerti keadan yang dialami rakyat kecil seperti sayasaat ini
Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat menjafikan renungan untuk kita semua, amin. . .
Sekali lagi, ini tentang Indonesiaku
Terimakasih Indonesia. . . . .

Kamis, 26 Februari 2015

Ini tentang hari-hariku

Ini semua tentang hari hariku
Hari hari yang kian membosankan
Hari hari yang datar tanpa tindakan
Lelah ini jadi lelahku
Tak ada yang tahu tentang hari hariku

Sendiri aku menjalani
Sendiri menggapai mimpi
Hanya nama ibu, ayah dan adik yang ada di hati
Dan keluarga kecilku yang tetap dipikiran ini

Teman teman ku sangat berharga
Namun tak akan terlihat di depan mata
Mereka hanyalah pelaku sandiwara
Yang sering membuat hati menderita
Menimbulkan problema yang menambah sengsara
Dengan memberi harapan namun berbeda tujuan serta pemikiran

Jika mereka mendekat
Bukan karena maksud
Tapi karena tujuan
Sudah terbiasa aku tetap sendiri
Menikmati setiap detik di hari hariku

Pagi malamku
Siang soreku
Bahagia sedihku
Tetap ku jalani di hari hariku

Tak ada yang indah
Tak ada yang mewah
Hanyalah kesederhanaan sifat
Dengan keseimbangan sikap

Kamu, dia, mereka
Hanyalah pendukung saja
Tetap aku sebagai pemeran utama
Pemeran di hari hariku yang terkadang sendu

Namun apapun yang terjadi
Pahit manisnya hidup ini
Aku akan tetap berdiri
Menatap matahari
Menikmati hari hariku disini
Walau aku sendiri!

Selasa, 24 Februari 2015

Ini semua tentangmu

Lama sudah kulupakanmu
Tak pernah mengingat semua tentangmu
Sedikitpun tak pernah kucoba mengingat masa lalu
Namun kali ini aku mengingatnya
Mengingat kenangan tentang kita
Bukan kita, namun kenangan tentangmu lebih jelasnya

Tepat hari ini ak pernah bahagia
Bersamamu menjalin cerita
Mengukir asa di sudut kota

Kuimpikan bahagia di dalam dada
Kusiapkan mental mendekatinya
Kukumpulkan niat memanjakannya
Namun apa daya hati ini ragu, Mulut ini bisu
Raga ini membeku seakan tak bernyawa

Tak ada nyali ku padamu
Bahkan untuk berkata aku menyukaimu
Aku mengagumimu dan aku menyayangimu

Hingga pada saatnya tiba
Kau pergi tanpa kata
Seakan aku tak percaya kau telah tiada
Bukan meninggalkan dunia tapi meninggalkan kenangan tentang kita
Kita? Kenangan tentangmu untukku tepatnya begitu

Masih teringat jelas dikejauhan aku melihat senyummu
Senyum yang begitu mempesona
Senyum yang begitu istimewa
Inginku mendekatimu, mememlukmu dan membalas senyum indahmu
Namun itu semua hanya hayalku
Dan akan kusimpan tanpa seorangpun yang tahu
Senyum indah itu yang bukan milikku
Tanpa pernah kau tau, aku menyukaimu....

Cinta yang tak berlogika

Kapan jatuh cinta?
Lupa
Pernah merasakan cinta?
Pernah
Sering terluka karena cinta?
Pastinya

Cinta
Lima kata yang begitu bermakna
Lima kata berjuta rasanya
Entah cinta kepada siapa saja
Kata cinta seperti magic world yang membuat semua orang akan jatuh didalamnya dan ikut terhanyut terbawa alur cerita
Tanpa disadari dan tak pernah dipungkiri, cinta terkadang membuat orang menjadi gila
Entah gila-gilaan atau gila sungguhan

Cinta
Memang manifestasi koperatif yang ada di dalam diri manusia untuk mengungkapkan perasaan yang begitu mendalam
Cinta juga merupakan turunan kata yang terbentuk karena perasaan euphoria yang terlalu berlebihan di dalam diri
Dan cinta merupakan ungkapan perasan yang gak tahu kapan dan bagaimana bentuknya tapi kita meyakini keberadaannya
Cinta itu seperti Tuhan
Cinta tidak berkelamin tapi bisa dirasakan
Yah itulah cinta

Cinta membuat orang bahagia
Namun terkadang cinta memang dapat membuat orang terluka
Jika pertama kita jatuh cinta, akan melayang-layang rasanya
Tapi rasakan bagaimana posisi jatuhnya
Jika tidak beraturan, maka akan sakid serta gundah gulana
Bahkan Jika terlalu parah akan membuat kita menderita

Lagi-lagi ini cerita tentang cinta
Bukan hanya rasa seadanya namun rasa yang akan ada hingga membuat kita bertanya, benarkah ini cinta?
Yah itulah cinta yang tak berlogika

Manusia yang sesungguhnya manusia

Manusia adalah mahluk Tuhan paling sempurna
Memiliki rasa, dapat berkata, atapun meraja
Memiliki budi dan pikiran
Membuat manusia lebih hebat dibanding dengan mahluk lain ciptaan Tuhan

Namun mengapa manusia terkadang bersikap semena
Tanpa iba sering membedakan sesama
Entah sesamanyanya ataupun ciptaan lainnya
Meraja atau murka?

Sadarkah wahai manusia kita ini siapa
Sadarkah wahai manusia kita diciptakan untuk apa
Sudah cukup jelas bukan apa yang harus kita lakukan
Sudah cukup jelas bukan apa yang pantas kita lakukan

Janganlah kau menyiakan hidupmu untuk hal yang tidak perlu
Lupakanlah semua yang telah berlalu
Jadilah manusia yang sesungguhnya manusia
Cinta sesama, melindungi mahluk lainnya dan tetap ingat pada ciptaanNYA!
Jadilah manusia yang sesungguhnya manusia

Minggu, 29 Juni 2014

Aku Ingin Hidup, Seribu Tahun Lagi

Sinar surya merangkak naik, seolah bergegas menunjukan keindahan
Udara pagi berhembus, seraya menyapa tubuh ini
Kucium aroma wangi tetesan empun di pagi hari
Kubuka mata, dan kulihat indahnya dunia

Sungguh indah ciptaanMU, sungguh indah kuasaMU
Kuterhanyut dalam lamunan, memikirkan esok masihkah datang
Seraya ku sentuh tangan kecilku, dan kutengadah kedua tanganku

Berharap dan meminta berkah dariMU tuk lewati hari ini

Aku sadar, tubuh ini tak sekuat dulu
Aku sadar, otak ini tak secerdas dulu
Namun ku jarang tersadar sering melupakanmu
Karena nikmatmu yang ku rasa dapat ku ciptakan sendiri

Sungguh ku berdosa, sungguh ku murka
Sesungguhnya aku melupakan siapa penciptaku
Sesungguhnya aku melupakan siapa pemberi rizkiku
Dan sesungguhnya aku lupa bahwa hidup adalah sebuah titipan

Aku malu, aku rapuh
Aku takut, dan aku menyesal
Aku ingin segera memohon ampun kepadamu
dan tanpa tersadar, aku meneteskan air mata
Air mata kesedihan, air mata ketakutanan
Dan air mata penyesalan

Tuhan, Mohon Ampun Aku
Atas segala dosaku
Mohon ampun aku, atas segala lalaiku, atas segala khilafku
Atas segala nafsuku yang tak terbendung, menghadapi dunia

Kini kumulai sadar, dalam kekosongan hidupku
KAU selalu bersamaku
Dalam kemelut batinku, KAU selalu bersamaku

Tuhan, izinkan aku hidup lebih lama
Berilah kesempatan tuk bahagiakan orang tua
Membantu saudara dan menolong sesama
Tak lebih ku meminta, karna ku hanya manusia biasa
Ku berusaha, dan KAU yang mampu mengabulkannya

Tuhan, terimakasih atas kehidupan yang kau berikan kepadaku
Terimakasih atas rizki yang dapat kunikmati hingga detik ini
Walauku sering melupakanmu dalam gelimangan berkah yang kau beri
Namun ENGKAU tetap merengkuh tanganku saatku terjatuh
Saatku hampir melupakanmu karena kemurkaanku menikmati dunia
Terimakasih Tuhan, dan aku ingin hidup seribu tahun lagi

Jumat, 27 Juni 2014

Aku Punya Cinta Untukmu

Belum sempat ku berteduh, namun hujan telah reda
Belum sempat kusiram, namun bunga telah layu
Belum sempat ku petik, namun buah telah jatuh
Dan belum sempat ku berkata, namun cinta telah pergi

Tanpa ragu ku menyimpan rasa itu
Rasa yang bersemayam tanpa ku tanam
Rasa yang ada tanpa ku pernah meminta
Rasa yang datang tanpa ku ingin mengundang
Dan Rasa yang ada yang disebut cinta
Itulah cinta

Memandang wajahmu dikejauhan
Melihat senyummu di persembunyian
Dan mendengar suaramu di setiap hayalku
Membuat semuanya terasa indah, membuat segalanya begitu indah

Kau masuk dalam tubuhku
Kau masuk tanpa logikaku
Dan sekali lagi kau masuk menuju fatamorganaku

Namun kini kau pergi
Tanpa kata, tanpa cinta
Yang ada hanyalah seberkas luka
Tanpa pernah ada kesempatan
Dan tanpa pernah ku mengatakan
Aku punya cinta untukmu. . . .

Sajakku Bernama Aku

Sajakku bernama Aku
Sajakku seperti Aku
dan Sajakku tetaplah Aku

Siang telah berganti malam
Ramai telah berganti sepi
Namun Sajakku tetaplah Aku
Tak ada yang dapat menggantikan sajakku
Disini, disana, dan dimana saja Sajakku tetaplah Aku

Tertuan karena tuannya
Menyerah karena lelahnya
Namun Sajakku tetaplah Aku
Tanpa seorangpun dapat menggangu
Dan tanpa seorangpun dapat merayu
Karena Sajakku Bernama Aku

Tentang Dunia Yang Begitu Fana

Berdiri tetap berdiri, berlari menggapai mimpi
Dalam keriuhan aku sepi, dalam kegaduhan ku tetap sendiri
Tanpa Kusadari, smua telah pergi dan kini hanya aku disini

Tanpa kata ku terdiam, menerawang panjang menuju lorong waktu
Kukayuh semua tenagaku, mengingat masa itu
Masa dimana aku berada, masa dimana aku  berkelana
perlahan namun pasti, kuhempaskan seluruh tubuhku dan kucoba terus menghayal tentang masa lalu

Mengingatnya membuatku merasa sakit, mengingatnya membuatku merasa geram
Yah, aku terluka...Sungguh aku terluka
Tentang dunia yang begitu fana, tentang dunia yang hanya menjanjikan surga
Namun surga tak pernah ada, surga berganti neraka
Yah Terluka, Fana dan Neraka

Hingga kucoba terus berlari, tanpa kudapati seorangpun disini
Aku lelah, aku menyerah yah aku sudah pasrah
Namun aku yakin, gelap akan berganti terang
Neraka akan berganti surga
Namun dunia, akan tetap menjadi fana
Yah inilah dunia, yang begitu fana 

 

SISTEM KEBUDAYAAN DALAM KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA



                     Masyarakat, Komunikasi dan Kebudayaan

Kita telah membahasa arti sebuah kebudayaan dan unsur kebudayaan pada bagian sebelumnya. Menurut Dewey masyarakat tidak hanya berada (eksis) dan berkelanjutan oleh karena transmisis dan komunikasi diantara anggotanya tetapi lebih dari itu masyarakat menjadi ada karena masyarakat ada di dalam transmisis dan komunikasi itu. Dan itu terjadi lebih karena ada pertukaran tanda-tanda verbal dalam kata yang diberi makna oleh komuniatas komunikasi.

Robert E Park, 1938) komunikasi menciptakan atau membuat segala kebimbangan menjadi lebih pasti bahwa sebuah konsensus dan pengertian bersama di antara individu sebagai anggota keolompok sosaial akan mudah menghasilkan tidak saja unit sosial tetapi kultural dalam masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa masyarakat tidak hanya eksis karena anggotanya telah belajar berkomunikasi dengan orang lain. Jelas bagi kita bahwa setiap individu ada di dalam masyarakat dan setiap masyarakat memiliki kebudayaan.

Hubungn antara sistem kebudayaan dengan situasi komunikasi antarbudaya meliputi:
a.   Sistem ekonomi
b.   Sistem keluarga
c.     Sistem politik
d.   Sistem kontrol sosial
e.   Sistem manajemen kesehatan
f.      Sistem pendidikan
g.   Sistem religi


IDENTITAS KEBUDAYAAN DALAM KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

Sistem mako budaya
Kebudayaan kadang melingkupi sebuah area geografis maupun demografis tertentu tanpa memperhatikan batas-batas administrasi negara maupun pemerintahan. Dalam beberapa kasus kita mungkin akan mengatakan bahwa kebiasaana menyanyi dengan perasana gembira merupakan totalistas tampilan orang papua, Ambon, dan Batak yang secara geografis ada di pulau Papua, Maluku dan Sumatera Utara.

Bahkan lebih luas dari itu, para pejabat sering mengungkapkan tanpa dukungan riset ilmiah bahwa kebudayaan orang Indonesia antara lain ramah tamah dan murah senyum. Perbedaan global yang diamati secara geografis ditandai oleh faktor geopolitik sehingga memperkuat komunikasi antaregional bahkan internasional. Oleh karena itu dalam tradisi pembahasan komunikasi antara budaya kita selalu membicarakan kebudayaan yang ditampilkan rata-rata melalui perilaku yang dipraktekkan oleh kebanyakan penduduk dari suatu area geografis, benua maupun negara itu.

Sub kultur dan komunikasi antar budaya 
   Hampir semua orang digolongkan atau menjadi anggota dari sebuah kelompok dan sebagian orang lain mungkin tidak tergolong dalam kelompok tertentu. Kelompok itu kadang terstruktur dan sering dikenal sebagai sub kultur, mikro kultur, atau sebuah kelompok referense yang bermuara pada kelompok mikro budaya.

 
                                     Komunikasi sebagai identitas sosial

Bentuk komunikasi antara lain :
a.   Komunikasi antarbudaya
b.   Komunikasi Antarras
c.     Komunikasi  Intrakeluarga
d.   Komunikasi Kelas sosial
e.   Komunikasi Antaranggota geografis
f.      Komunikasi Antar desa dengan kota
g.   Komunikasi Regional
h.   Komunikasi Gender
i.      Komunikasi Budaya organisasi
j.      Komunikasi  keluarga


KOMUNIKASI ANTARBUDAYA dan PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA

Hakikat perubahan dalam masyarakat
Kemajuan dunia bagaikan kuda balap yang berderap kencang. Apa saja yang tidak dapat mengubah dirinya dengan cekatan dan apa saja yang tidak bisa maju bersama dunia akan disisihkan oleh seleksi alam. Ini adalah bagiaan kata-kata dari Chen Tsu Hsiu kepada para pemuda Cina tahun 1915.

Studi tentang perubahan sosial buaya umumnya merupakan salah satu dari bermacam-macam studi tentang masyarakat. Karena setiap pola kehidupan dapat didentifikasi dan diuji sepanjang waktu. Sementara itu cara individu berinteraksi dengan seseorang dalam kelompok kecil merupakan subjek teori atau studi pada aras mikro. Ada banyak sekali paradigma tentang masyarakat, yaitu : fungsional, konflik dan interaksionisme.
Beberapa sifat perubahan

Dengan memperhatikan model-model perspektif masyarakat yang menjelaskan sistem sosial dan ruang lingkup studi masyarakat tersebut diatas maka para sosiolog maupun antrpolog mulai memfokuskan analisisi studi mereka terhadap komunitas. Sementara itu para sosiolog environmental acap kali mulai memperhatikan kehidupan spesies lain dan sumber daya mineral dalam model mereka yang dikaitkan dengan sistem sosial. Proses internal dari pertumbuhan, evolusi, dan perubahan siklus merupakan sumber perubahan dari pandangan fungsional. Beberapa karakteristik perubahan itu antara lain :
a.   Perubahan struktural
b.   Perubahan dinamika
c.     Progress
d.   Perubahan Revolusioner


                                      Teori –teori perubahan sosial

Kita harus banyak beranjak dari model berpikir bahwa hanya perubahan cara berpikir yang dapat mengubah dan mempengaruhi masyarakat. Oleh karena itu kita membutuhkan seperangkat teori yang lebih fokus dan khusus untuk menggambarkan, meramalkan dan menjelaskan perubahan sosial.  Dalam beberapa teori, individu memainkan peranan penting sebagai sebab dari sebuah perubahan sosial. Di lain pihak, sumber alam atau lingkungan historis dipandang sebagai gagasan penting atau tindakan yang dimainkan oleh seorang individu. Beberapa pandangan klasik tentang perubahan sosial, yaitu :
a.   Pandangan klasik Smith, Mathius dan Darwin
b. Dinamika internal dari kapitalisme dari Marx, Durkheim dan Webber
c. Prespektif kontemporer : tradisi fungsionalist dan pendekatan konflik


                 Pembentukan Budaya dan cara berkomunikasi

Yang dimaksud dengan struktur budaya adalah pola-pola persepsi, berpikir dan perasaan, sedangkan struktur sosial adalah pola perilaku sosial. Yang terpenting bahwa identitas budaya ditentukan oleh struktur budaya sedangkan identitas siosial ditentukan oleh struktur sosial. Oleh karena itu, sangat beralasan bila perubahan struktur budaya dan sosial pada gilirannya akan mengubah identitas individu dan perubahan identitas budaya itu lebih dimaksudkan sebagai perubahan pola persepsi, berpikir, dan perasaan, bukan sekedar perubahan perilaku.

Jika terjadi perubahan cara berpikir, maka disana ada perubahan kebudayaan. Kita akan mempelajarinya dan memahami pelbagai faktor yang membentuk kebudayaan diantaranya :
a.   Faktor internal
b.   Faktor eksternal
c.     Faktor ekosistem
d.   Faktor biologis
e.   Faktor habitat alam
f.      Faktor demografis
g.   Faktor isolasi dan kontak antarbudaya
h.   Faktor historis


                                    Teori perubahan kebudayaan

Taylor seperti dikutip (Kottak, 1991) mengemukakan bahwa kebudayaan adalah seluruh komplek yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan semua daya dukung lain dan kebiasaan yang dilakukan oleh setiap manusia sebagai anggota masyarakat. Proses pergantian kebudayaan itu sendiri dimungkinkan oleh kebudayaan manusia itu meskipun telah memiliki pola tertentu namun akibat hubungan dan komunikasi antar manusia maka seluruh atau sebagian isi daru unsur kebudayaan itu dibagi atau dipertukarkan. Ada beberapa teori yang menggambarkan perubahan kebudayaan yaitu :
a.   Teori kebudayaan pinjaman
b.   Teori krisis kebudayaan
c.     Teori ekologi kebudayaan
d.   Pendekatan tema-tema dominan
e.   Teori fungsional


EFEK KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

Efektifotas komunikasi antar budaya
Komunikasi antarmanusia, termasuk komunikasi antarbudaya, selau mempunyai tujuan tertentu yakni menciptakan komunikasi yang efektif melalui pemaknaan yang sama atas pesan yang dipertukarkan. Tujuan dari komunikasi antar pribadi telihat dari fungsi antar pribadi dan sosial dari komunikasi. Fungsi tersebut meliputi komunikasi untuk menyatakan identitas sosial, intergrasi sosial, mengubah kognitif, dan melepaskan diri dari jalan keluar, sedangkan fungsi sosial dari komunikasi antarpribadi yaitu untuk pengawasan, menjembatani, sosialisasi dan menghibur.

Menurut (William Howel, 1982) setiap individu mempunyai tingkat kesadaran dan kemampuan yang berbeda-beda dalam berkomunikasi antarbudaya.
Aksioma efektifitas komunikasi antarbudaya

Setiap orang yang berkomunikasi antarbudaya menginginkan hasil yang efektif. Harapan dan efektifitas itu tergantung atas sejauh mana orang yang nmemahami aksioma efektifitas komunikasi antarbudaya. Apabila konsep komunikasi antarbudaya digali lebih dalam maka akan menemukan beberapa bentuk atau modus perilaku komunikasi efektif yang relatif konstan, dimana:
a. Efektifitas komunikasi antarbudaya sangat dibutuhkan dalam hubungan antarbudaya
b. Efektifitas komunikasi antarbudaya sangat ditentukan oleh dukungan iklim komunikasi yang positif terkandung didalamnya faktor derajat kognitif, peranan positif serta tindakan yang menunjukkan kemampuan
c. Semua variabel penentu komunikasi antarbadaya harus dapat diidentifikasi
d.   Ketrampilan berkomunikasi dan manusia terisolasi


    Bagaimana budaya menerangkan efektifitas antarbudaya?
Hammer, 1989), (Ruben, 1977), (Olebe dan Koester, 1989), (Wiseman Hammer dan Nishida, 1989), (Dinges dan Lieberman, 1989), (Kealey, 1989) mengemukakan bahwa paling tidak ada dua faktor yang berpengaruh terhadap komuniaksi antar budaya, yakni:
a.   Variabel kognitif
b. Variabel gaya pribadi meliputi Etnosentrisme, Toleransi sikap mendua dan keluesan, Empati, keterbukaan, Kompleksitas kognitif, Kenyamanan antar pribadi, Kontrol pribadi, Kemmapuan innovasi, Harga diri, Keprihatinan dan kecemasan komunikasi
c. Variabel lain yang meliputi faktor keramah tamahan, faktor motivasi, faktor akulturasi, faktor umur, serta faktor pekerjaan


   Adaptasi perilaku komunikasi kedalam afektifitas antar budaya

Paling tidak ada tiga sasaran komunikasi antarbudaya yang selalu dikehendaki dalam proses komunikasi antarbudaya, yakni agar kita berhasil melaksanakan tugas yang berhubungan dengan orang-orang dari latar belakang kebudayaan yang berbeda, agar kita dapat meningkatkan hubungan antarpribadi dalam suasana antarbudaya, dan terakhir agar tercapai penyesuaian antarpribadi.

Salah satu tujuan dalam hidup bersama adalah  berkomunikasi sehingga diantara kita saling mendukung demi pencapaian tugas yang dikehendaki bersama. Keberhasilan dalam tugas dapat didukung oleh komunikasi anatarbudaya yang dilakukan secara terbuka, berpikir positif, saling mendukung, bersikap empati.

Manfaat pada aspek relasi adalah bagaimana orang berkomunikasi dengan anda, dapat mengatakan tentang apa yang anda pikirkan, apa yang anda rasakan dan apa yang anda lakukan. Dampaknya adalah, kita mencapai salah satu tujuan dari studi komunikasi antarbudaya yakni meningkatkan pengertian dan mengurangi ketegangan antra pribadi atau antarbudaya.

Sasaran ketiga yanag perlu dipahami dalam komunikasi antarbudaya adalah terciptanya penyesuaian antarpribadi. Perlu diketahui bahwa karena mereka yang terlibat dalam komunikasi antarbudaya sering bergaul dengan frekuensi yang tinggi maka prasangka budaya yang sebelumnya telah terbentuk perlahan-lahan berkurang. Jadi anda dengan komunikan memulai suatu proses hidup bersama misalnya menyesuaiakan diri antarbudaya, makin terbuka dengan sesama dan masih banyak lagi.