kamus

Jumat, 27 Juni 2014

ORIENTASI DAN DIMENSI KEBUDAYAAN DALAM KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA


                                      Pengertian Orientasi dan Dimensi

Sebelum kita membahas orinetasi dan dimensi, ada baiknya kita menyatukan pemahaman mengenai apa yang dimaksud dengan orientasi dan dimensi. Orinetasi adalah posisi seseorang dengan atau terhadap suatu relasi yang menjadi sasaran atau arah, kedekatan dan adaptasi terhadap suatu situasi, lingkungan, obyek atau orang, dalam suatu psikologi, orientasi merupakan kesadaran tentang atau  terhadap waktu, ruang, obyek, orang-orang, atau sebuah periode, proses yang mengantar seseorang untuk melakukan penyesuaian. Dimensi adalah setiap besaran atau derajat yang menunjukkan ukuran jarak, kedalaman, keluasaan, atau cakupan tentang atau terhadap sesuatu yang penting. (Webster’S New World Dictionary).

Sehingga yang dimaksud dengan orientasi dan dimensi komunikasi antar budaya adalah posisi yang diambil oleh setiap individu sebagai anggota budaya ketika dia berhadapan dengan suatu sasaran apakah itu situasi, lingkungan, objek, atau orang.

Dalam proses komuniaksi antar budaya, kebudayaan tidak boleh dilihat hanya sekedar adat istiadat. Kebudayaan patut dipandang meliputi pertukaran persepsi tentang diri sendiri dan orang lain yang menjadi sasaran komunikasi, dan bahkan persepsi sikap terhadap suatu objek apakah itu ruang, waktu, lingkungan, orang, atau relasi dengan orang lain.

(Edward T. Hall, 1977) dalam Beyond Culture  menyatakan sangat penting mempelajari teori kognitif dan implikasinya pada iklim komunikasi karena dari sana dapat diketahui pikiran, perkataan dan perbuatan terhadap suatu objek. Mengacu pada pendapat tersebut, unsur kognitif dari persepsi tentang sesuatu dalam berinteraksi menjadi lebih penting.

                                     Kebudayaan dan World View

Cara pandang setiap orang atau yang sering disebut World View diartikan sebagai sistem kepercayaan yang membentuk keseluruhan sistem berpikir tentang sifat sesuatu secara keseluruhan dan dampaknya terhadap lingkungan. World View merupakan srtuktur cara pandang yang dipengaruhi leh kebudayan. Kemudian menggerakkan atau semacam spirit bagi individu untuk menjelaskan sebuah peristiwa.

Dalam uraian ini kita kana mengenal beberapa variasi konsep orientasi dan dimensi kebudayaan, misalnya menurut Kluckhokn (Stephen Dhal, 1998) yang menyebutkan lima jenis orientasi manusia, yaitu :
a)  Orientasi terhadap manusia
b)  Orientasi terhadap sifat manusia
c)    Orientasi terhadap waktu
d)  Orientasi terhadap aktivitas
e)  Orientasi terhadap relasi.

Atau menurut (Garmon, 1984) ada dua aspek penting yang berkaitan dengan cara pandang atau World View, yakni:
a.   Cara pandang terhadap dunia
b.   Sistem world view

Juga menurut pendapat (Arensberg dan Niehoff, 1964), (Kluchohn dan Strodbeck, 1961), (Rokeach, 1968) dan (Condon Yousef, 1975) yakni World View tentang relasi dengan sesama, yaitu:
a.   Relasi dengan keluarga
b.   Relasi dengan sesama
c.     Relasi dengan masyarakat
d.   Relasi dengan diri sendiri
e.   Relasi dengan binatang


                                                    High ang Low Context Culture

Setiap kebudayaan mengajarkan cara-cara tertentu untuk memproses informasi yang masuk dan keluar dari atau ke lingkungan sekeliling mereka, misalnya mengatur bagaimana setiap anggota budaya memahami cara mengemas informasi kemudian melakukan pertukaran informasi. Sebuah kebudayaan yang mana suatu prosedur pengalihan informasi menjadi lebih sukar dikomunikasikan, kita sebut High Context Culture (HCC).  Sebaliknya kebudayan yang mana suatu prosedur pengalihan informasi menjadi lebih gampang dikomunikasikan, kita sebut Low Context Culture (LCC). Para anggota kebudayaan HCC sangat mengharapkan agar anda menggunakan cara-cara yang lebih praktis yang dapat menolong merek untuk mengakses informasi dalam variasi situasi apapun. Hal ini karena kebudayaanan masyarakat HCC umumnya bersifat implisit, mungkin sekali apa yang hendak anda sampaikan itu sudah ada didalam nilai-nilai, norma-norma, dan sistem kepercayaan mereka.

Kontras dengan kebudayaan HCC maka anggota kebudayaan LCC sangat mengharapkan agar anda tidak perlu menggunakan cara-cara praktis hanya untuk menolong mereka mengakses informasi dalam variasi situasi apapun. Hal ini karena kebudayaan masyarakat LCC umumnya bersifat eksplisit dan banyak informasi yang anda sampaikan mungkin sekali belum atau kurang diperhatikan dalam sistem nilai, norma dan sistem kepercayaan mereka.

Stella Ting Toomey, 1988) telah menampilkan beberapa aplikasi yang berkaitan dengan LCC dan HCC. Pada pengertian High and Low Context Cultures memiliki beberapa persepsi, diantaranya :
a.   Persepsi terhadap isu dan orang yang menyebarkan isu
b.   Persepsi terhadap relasi antarpribadi dalam tugas
c.     Persepsi terhadap kelogisan informasi
d.   Persepsi terhadap gaya komunikasi
e.   Persepsi terhadap pola negosiasi
f.      Persepsi terhadap informasi tentang individu


                                              Dimensi Budaya Menutu Hofstede

Pola –pola budaya yang diajukan oleh Hofstede merupakan sebuah prespektif teoritis berdasarkan studinya tentang perbedaan orientasi nilai yang berkaitan dengan pekerjaan. Untuk mengejukan itu Hofstede telah melakukan penelitian lebih dari 88 ribu pekerja di perusahaan multinasional yang cabangnya ada di 66 negara.

Berdasarkan informasi (Hofstede, 1980) berhasil mengidentifikasi empat dimensi komunikasi antarbudaya yang disebut Powerer Distance. Empat dimensi itu merupakan pola-pola budaya yang dominan, yaitu:
a.   Power distance
b.   Uncertainty avoidance
c.     Individualism-sollectivism
d.   Masculinty-femininity

 
                                                          Orientasi terhadap waktu

Ada dua penjelasan mengenai perbedaan orientasi dan dimensi budaya atas waktu dan kerja, yaitu monokronik dan polikronik. Waktu monokronik adalah individu, kelompok atau masyarakat yang berorientasi. Waktu monokronik berargumentasi bahwa waktu seperti sebuah jalan atau anak tangga sehingga kita tidak boleh melakukan suatu aktivitas secara serampangan. Biasanya untuk melakukan suatu pekerjaan harus mengikuti alur oleh karena itu terikat pada jadwal persetujuan, adanya persetujuan untuk datang, bertemu, berbicara, menarik kesimpilan, dan bertindak.

Sedangkan waktu polikronik adalah penganut waktu yang selalu menekankan bahwa  cara berpikir individu tidak lagi linear tetap simultan.



                                  Peta orientasi budaya menurut Marvin Mayer

Beberapa penulis mengeluarkan pernyataan-pernyataan universal yang tidak menjamin kebenarannya bagi sistem mereka yang lainnya lebih berhati-hati. Suatu pendekatan orientasi nilai dari sudut pandang Kristian adalah model-model nilai dasar Marvin Mayer atas pola-pola perilaku. Model ini diperhalus dan diterapkan dengan berhasil dalam suatu buku karangan Sherwood G Lingenfelter dan Marvin K Mayer yang mendaftarkan dua belas pola perilaku dalam enam pasang kutub, yaitu:
a.   Orientasi waktu dan peristiwa
b.   Pemikiran dikotomis dan holistik
c.     Orientasi kritis dan non kritis
d.   Orientasi tugas dan hubungan manusia
e.   Fokus pada prestasi dan status
f.      Kerentanan diperlihatkan dan disembunyikan
  
  
                                     Peta orienstasi menurut Edward Stewart

Edward Stewart telah mengajukan taksonomi pola-pola kebudayaan berdasarkan tata cara budaya. Melalui tata cara itulah  kebudayaan mengajarkan kepada anggotanya orientasi budaya- mengorientasikan diri.
a.   Self orientation
b.   Activity orientation
c.     In doing culture
d.   Being orientation
e.   Social relation oriented
f.      Orientasi tentang dunia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar