Pengertian Orientasi dan Dimensi
Sebelum kita membahas orinetasi dan
dimensi, ada baiknya kita menyatukan pemahaman mengenai apa yang dimaksud
dengan orientasi dan dimensi. Orinetasi
adalah posisi seseorang dengan atau terhadap suatu relasi yang menjadi sasaran
atau arah, kedekatan dan adaptasi terhadap suatu situasi, lingkungan, obyek
atau orang, dalam suatu psikologi, orientasi merupakan kesadaran tentang
atau terhadap waktu, ruang, obyek,
orang-orang, atau sebuah periode, proses yang mengantar seseorang untuk
melakukan penyesuaian. Dimensi
adalah setiap besaran atau derajat yang menunjukkan ukuran jarak, kedalaman,
keluasaan, atau cakupan tentang atau terhadap sesuatu yang penting. (Webster’S
New World Dictionary).
Sehingga yang dimaksud dengan orientasi
dan dimensi komunikasi antar budaya adalah posisi yang diambil oleh setiap
individu sebagai anggota budaya ketika dia berhadapan dengan suatu sasaran
apakah itu situasi, lingkungan, objek, atau orang.
Dalam proses komuniaksi antar budaya,
kebudayaan tidak boleh dilihat hanya sekedar adat istiadat. Kebudayaan patut
dipandang meliputi pertukaran persepsi tentang diri sendiri dan orang lain yang
menjadi sasaran komunikasi, dan bahkan persepsi sikap terhadap suatu objek
apakah itu ruang, waktu, lingkungan, orang, atau relasi dengan orang lain.
(Edward T. Hall, 1977) dalam Beyond
Culture menyatakan sangat penting
mempelajari teori kognitif dan implikasinya pada iklim komunikasi karena dari
sana dapat diketahui pikiran, perkataan dan perbuatan terhadap suatu objek.
Mengacu pada pendapat tersebut, unsur kognitif dari persepsi tentang sesuatu
dalam berinteraksi menjadi lebih penting.
Kebudayaan dan World View
Cara pandang setiap orang atau yang
sering disebut World View diartikan
sebagai sistem kepercayaan yang membentuk keseluruhan sistem berpikir tentang
sifat sesuatu secara keseluruhan dan dampaknya terhadap lingkungan. World
View merupakan srtuktur cara pandang yang dipengaruhi leh kebudayan.
Kemudian menggerakkan atau semacam spirit bagi individu untuk menjelaskan
sebuah peristiwa.
Dalam uraian ini kita kana mengenal
beberapa variasi konsep orientasi dan dimensi kebudayaan, misalnya menurut
Kluckhokn (Stephen Dhal, 1998) yang menyebutkan lima jenis orientasi manusia,
yaitu :
a) Orientasi terhadap manusia
b) Orientasi terhadap sifat manusia
c)
Orientasi
terhadap waktu
d) Orientasi terhadap aktivitas
e) Orientasi terhadap relasi.
Atau menurut (Garmon, 1984) ada dua
aspek penting yang berkaitan dengan cara pandang atau World View, yakni:
a.
Cara
pandang terhadap dunia
b.
Sistem
world view
Juga menurut pendapat (Arensberg dan
Niehoff, 1964), (Kluchohn dan Strodbeck, 1961), (Rokeach, 1968) dan (Condon
Yousef, 1975) yakni World View tentang relasi dengan sesama, yaitu:
a. Relasi dengan keluarga
b. Relasi dengan sesama
c. Relasi dengan masyarakat
d. Relasi dengan diri sendiri
e. Relasi dengan binatang
High ang Low Context Culture
Setiap kebudayaan mengajarkan cara-cara
tertentu untuk memproses informasi yang masuk dan keluar dari atau ke
lingkungan sekeliling mereka, misalnya mengatur bagaimana setiap anggota budaya
memahami cara mengemas informasi kemudian melakukan pertukaran informasi.
Sebuah kebudayaan yang mana suatu prosedur pengalihan informasi menjadi lebih
sukar dikomunikasikan, kita sebut High Context
Culture (HCC). Sebaliknya kebudayan
yang mana suatu prosedur pengalihan informasi menjadi lebih gampang
dikomunikasikan, kita sebut Low Context
Culture (LCC). Para anggota kebudayaan HCC sangat mengharapkan agar anda
menggunakan cara-cara yang lebih praktis yang dapat menolong merek untuk
mengakses informasi dalam variasi situasi apapun. Hal ini karena kebudayaanan
masyarakat HCC umumnya bersifat implisit, mungkin sekali apa yang hendak anda
sampaikan itu sudah ada didalam nilai-nilai, norma-norma, dan sistem
kepercayaan mereka.
Kontras dengan kebudayaan HCC maka
anggota kebudayaan LCC sangat mengharapkan agar anda tidak perlu menggunakan
cara-cara praktis hanya untuk menolong mereka mengakses informasi dalam variasi
situasi apapun. Hal ini karena kebudayaan masyarakat LCC umumnya bersifat
eksplisit dan banyak informasi yang anda sampaikan mungkin sekali belum atau
kurang diperhatikan dalam sistem nilai, norma dan sistem kepercayaan mereka.
Stella Ting Toomey, 1988) telah
menampilkan beberapa aplikasi yang berkaitan dengan LCC dan HCC. Pada
pengertian High and Low Context Cultures
memiliki beberapa persepsi, diantaranya :
a.
Persepsi
terhadap isu dan orang yang menyebarkan isu
b.
Persepsi
terhadap relasi antarpribadi dalam tugas
c.
Persepsi
terhadap kelogisan informasi
d.
Persepsi
terhadap gaya komunikasi
e.
Persepsi
terhadap pola negosiasi
f.
Persepsi
terhadap informasi tentang individu
Dimensi Budaya Menutu Hofstede
Pola –pola budaya yang diajukan oleh
Hofstede merupakan sebuah prespektif teoritis berdasarkan studinya tentang
perbedaan orientasi nilai yang berkaitan dengan pekerjaan. Untuk mengejukan itu
Hofstede telah melakukan penelitian lebih dari 88 ribu pekerja di perusahaan
multinasional yang cabangnya ada di 66 negara.
Berdasarkan informasi (Hofstede, 1980) berhasil
mengidentifikasi empat dimensi komunikasi antarbudaya yang disebut Powerer Distance. Empat dimensi itu merupakan
pola-pola budaya yang dominan, yaitu:
a.
Power
distance
b.
Uncertainty
avoidance
c.
Individualism-sollectivism
d.
Masculinty-femininity
Orientasi terhadap waktu
Ada dua penjelasan mengenai perbedaan
orientasi dan dimensi budaya atas waktu dan kerja, yaitu monokronik dan
polikronik. Waktu monokronik adalah individu,
kelompok atau masyarakat yang berorientasi. Waktu monokronik berargumentasi
bahwa waktu seperti sebuah jalan atau anak tangga sehingga kita tidak boleh
melakukan suatu aktivitas secara serampangan. Biasanya untuk melakukan suatu pekerjaan
harus mengikuti alur oleh karena itu terikat pada jadwal persetujuan, adanya persetujuan
untuk datang, bertemu, berbicara, menarik kesimpilan, dan bertindak.
Sedangkan waktu polikronik adalah penganut waktu yang selalu menekankan
bahwa cara berpikir individu tidak lagi
linear tetap simultan.
Peta orientasi budaya menurut Marvin
Mayer
Beberapa penulis mengeluarkan
pernyataan-pernyataan universal yang tidak menjamin kebenarannya bagi sistem
mereka yang lainnya lebih berhati-hati. Suatu pendekatan orientasi nilai dari
sudut pandang Kristian adalah model-model nilai dasar Marvin Mayer atas
pola-pola perilaku. Model ini diperhalus dan diterapkan dengan berhasil dalam
suatu buku karangan Sherwood G Lingenfelter dan Marvin K Mayer yang
mendaftarkan dua belas pola perilaku dalam enam pasang kutub, yaitu:
a.
Orientasi
waktu dan peristiwa
b.
Pemikiran
dikotomis dan holistik
c.
Orientasi
kritis dan non kritis
d.
Orientasi
tugas dan hubungan manusia
e.
Fokus
pada prestasi dan status
f.
Kerentanan
diperlihatkan dan disembunyikan
Peta orienstasi menurut Edward Stewart
Edward Stewart telah mengajukan taksonomi
pola-pola kebudayaan berdasarkan tata cara budaya. Melalui tata cara
itulah kebudayaan mengajarkan kepada
anggotanya orientasi budaya- mengorientasikan diri.
a.
Self
orientation
b.
Activity
orientation
c.
In
doing culture
d.
Being
orientation
e.
Social
relation oriented
f.
Orientasi
tentang dunia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar