"Hey kamu pergi sana, anaknya penjahat jangan disini! Bisa bikin rusuh
suasana nanti!" tadi merupakan sepenggal
kalimat yang mungkin pernah kita dengarkan baik di dalam dunia maya ataupun
dunia nyata. kalimat tersebut merupakan stigma yang mungkin tanpa sengaja
dilontarkan oleh seseorang kepada salah satu anak yang bapaknya bekas penjahat
guna memberi peringatan kepada teman-temannya yang lain (menjudge). Sadis yah,
ngeri juga kalo kita yang berada di posisi tersebut. Pastilah batin kita begitu
tersiksa dan harga diri kita begitu terhina.
Seperti yang kita ketahui, banyak istilah yang biasa digunakan untuk
menyebut kondisi diri yang tidak sama dengan orang-orang normal pada
umumnya. Baik sebutan atau perlabelan yang disematkan pada diri orang itu
dengan atau tanpa sengaja. Apa yang mereka lakukan itu merupakan
pemahaman dari stigma.
Stigma adalah tanda atau ciri
yang negatif pada diri seseorang. Biasanya stigma ini diberikan oleh masyarakat
pada seseorang
atau sekelompok orang tertentu.
Lalu stigma berkembang menjadi stereotipe, yakni pelabelan terhadap seseorang
atau sekelompok orang. Stigma berangkat dari dugaan atau prasangka. Kemudian,
dari stigma itu muncullah diskriminasi, yaitu pembedaan perlakuan terhadap
orang yang diberi stigma. Kejam memang kedengarannya, namun hal tersebut saat
ini sudah menjadi hal biasa tanpa berfikir bahwa sesungguhnya manusia itu tidak
sempurna. Menurut teori Erving Goffman, stigma dibagi menjadi 3 yaitu, Abominations of the Body, Blemishes of Individual Character dan Tribal Stigmas.
Sebagai contoh dari Abominations
of the Body. Ada seorang bapak-bapak yang
mengalami kecelakaan. Saat kecelakaan terjadi, dia harus kehilangan satu
kakinya. Yang lebih parah, dia harus dipecat dari pekerjaan yang menghidupinya
selama ini dikarenakan pihak perusahaaan merasa dia sudah tidak dapat bekerja
secara maksimal. Karena kakinya yang pincang itu dia tidak diterima bekerja
dimanapun. Orang-orang merasa tidak percaya bahwa dia dapat hidup layak seperti
orang normal pada umumnya dan dapat menjalankan tugasnya. Untung bapak tadi
tidak putus asa, dia tetap mencari pekerjaan yang sesuai dengan kondisin
fisiknya. Akhirnya dia bekerja sebagai tukang penjual roti keliling dengan
sepeda rakitannnya sendiri. Hal tersebut ternyata membuat orang-orang iba,
namun tidak sedikit juga yang masih memandangnya dengan sebelah mata. Sekarang
dia menjadi orang terkenal dengan sebutan si pincang penjual roti keliling.
Namun hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk tetap mencari rejeki yang halal.
Sebenarnya kita tidak boleh bersikap seperti itu, karena semua yang diciptakan
Tuhan itu sama derajatnya.
Yang kedua masih menurut teori dari Erving Goffman, sebagai
contoh dari Blemishes of Individual Character. Sebagian besar orang menduga bahwa homoseksual adalah
sebuah kelainan. Hal itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik agama, budaya,
dan minimnya pengetahuan. Dugaan itu kemudian memunculkan stereotipe di
masyarakat bahwa kaum homoseksual adalah orang yang sakit. Hal tersebut lantas
menjadi stigma yang diberikan masyarakat terhadap kaum homoseksual sehingga
menyebabkan terjadinya diskriminasi bahkan kekerasan. Perlu diketahui bahwa stigma berakibat negatif terhadap orang
itu karena menyebabkan berkurangnya
rasa percaya diri dan merasa tidak dapat menikmati hidup karena seperti
merasa ada di bawah bayang-bayang
pandangan orang lain jika dia berpenyakit atau dia berdosa dan yang lebih parah itu
menular.
Teman
saya seorang homseksual, dalam keseharian dia memang terlihat seperti lelaki
normal pada umumnya, akan tetapi tutur bahasa dan gaya tubuhnya yang lemah gemulai
membuat laki-laki normal menjauhinya. Tidak terkecuali oleh teman di kantornya.
Dia pernah bercerita ketika di kantornya diadakan gathering dan dianjurkan untuk
menginap, tidak ada satu laki-lakipun yang mau duduk sebelahnya atau sekamar
dengannya. Hal tersebut dikarenakan orang dikantornya tahu kalau dia itu
seorang homoseksual. Orang-orang menyebutnya homo karena dia adalah penyuka
sejenis, sehingga orang-orang menjauhinya. Alasan terbesar dikarenakan takut
tertular menjadi homoseksual. Padahal homo bukan penyakit yang harus dijauhi.
Homo adalah keadaan dimana seseorang mengalami fantasi seksual yang berbeda
dengan orang pada umumnya. Dan tidak semua homo berfikir mesum untuk selalu
berhubungan intim, tetapi mereka akan saling menjaga pasangannya karena rasa
cinta tumbuh dari hati dan mereka tidak akan saling menyakiti sebab homoseksual
termasuk kaum minoritas, jadi tidak perlu dijauhi pungkas sang narasumber.
Dan terakhir yang masih menurut teori stigma dari Erving Goffman, contoh dari Tribal Stigmas yang
terjadi yaitu, dulu ada seorang teman yang berkulit putih, bermata sipit dan
bermulut kecil. Dia adalah seorang anak keturunan Tionghoa. Dalam pergaulan dia
lebih sering menyendiri. Jika saat istirahat tiba, dia lebih sering menyendiri
di dalam kelas. Dia hanya bergaul dengan teman yang berbeda kelas dan memiliki
ciri fisik yang sama dengannya. Entah karena temna-teman yang lain sering
mengejeknya anak cina sehingga membuatnya minder atau karena dia memang merasa
nyaman bergaul dengan teman yang berbeda kelas itu. Di kelas, ada seorang teman
yang memiliki sifat suka mengejek dan ngomong ceplas-ceplos. Jika dia memanggil
si anak tersebut, pasti tidak memakai nama akan tetapi dengan panggilan “no
cino (na cina) yang berarti adalah anak cina”. Hal tersebut membuat teman-teman yang lain juga ikut menyebut si anak
dengan panggilan “no cino” bukan dengan nama sebenarnya. Memang terkesan
mendiskriminasi, namun hal tersebut sering terjadi bahkan tidak hanya sekali
tetapi hampir sering terjadi jika kita memiliki teman yang berkulit putih akan
menyebutnya dengan kata cino (cina), apalagi jika anak tersebut memang berasal dari
keturunan Tionghoa yang notabene masih menurut sebagian orang, suku bangsa ini mulai diasingkan, dengan
alasan banyak menjadi antek-antek penjajah dan menjadi penjajah di negeri kita.
Hidup yang terindah adalah hidup tanpa penghakiman.
Daripada kita terjebak pada sesuatu yang tidak kita pahami jelas kebenarannya,
baik terhadap satu pribadi maupun satu profesi dan satu keadaan, tak ada
salahnya kita lebih mau terbuka untuk semua masukan dan mencari tahu
pengetahuan yang sebenar-benarnya.
Dalam hal ini, kita harus lebih cepat membuka
hati dan pikiran kita dibandingkan membuka mulut kita untuk sesuatu yang berbau
penghakiman, sekalipun itu sudah marak dirana publik. Karena bukan tidak
mungkin apa yang sudah menjadi komsumsi publik pun masih diragukan kebenarannya
atau keakuratan data-data dan pertanggung jawabannya baik secara
scient/pengetahuan maupun secara personal individu. Jangan pernah mendudukkan
seseorang dikursi terdakwa, hanya karena kebenaran-kebenaran pribadi kita yang
kita sadur dari stigma-stigma yang marak di masyarakat, tapi jadilah bijak
dalam segala sikap dan perkataan kita bagi sesama kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar