kamus

Jumat, 27 Juni 2014

STIGMA dan CONTOHYA




"Hey kamu pergi sana, anaknya penjahat jangan disini! Bisa bikin rusuh suasana nanti!" tadi merupakan sepenggal kalimat yang mungkin pernah kita dengarkan baik di dalam dunia maya ataupun dunia nyata. kalimat tersebut merupakan stigma yang mungkin tanpa sengaja dilontarkan oleh seseorang kepada salah satu anak yang bapaknya bekas penjahat guna memberi peringatan kepada teman-temannya yang lain (menjudge). Sadis yah, ngeri juga kalo kita yang berada di posisi tersebut. Pastilah batin kita begitu tersiksa dan harga diri kita begitu terhina.

Seperti yang kita ketahui, banyak istilah yang biasa digunakan untuk menyebut kondisi diri yang tidak sama dengan orang-orang normal pada umumnya. Baik sebutan atau perlabelan yang disematkan pada diri orang itu dengan atau tanpa sengaja. Apa yang mereka lakukan itu merupakan pemahaman dari stigma.
  
Stigma adalah tanda atau ciri yang negatif pada diri seseorang. Biasanya stigma ini diberikan oleh masyarakat pada seseorang atau sekelompok orang tertentu. Lalu stigma berkembang menjadi stereotipe, yakni pelabelan terhadap seseorang atau sekelompok orang. Stigma berangkat dari dugaan atau prasangka. Kemudian, dari stigma itu muncullah diskriminasi, yaitu pembedaan perlakuan terhadap orang yang diberi stigma. Kejam memang kedengarannya, namun hal tersebut saat ini sudah menjadi hal biasa tanpa berfikir bahwa sesungguhnya manusia itu tidak sempurna. Menurut teori Erving Goffman, stigma dibagi menjadi 3 yaitu, Abominations of the Body, Blemishes of Individual Character dan Tribal Stigmas.


Sebagai contoh dari Abominations of the Body. Ada seorang bapak-bapak yang mengalami kecelakaan. Saat kecelakaan terjadi, dia harus kehilangan satu kakinya. Yang lebih parah, dia harus dipecat dari pekerjaan yang menghidupinya selama ini dikarenakan pihak perusahaaan merasa dia sudah tidak dapat bekerja secara maksimal. Karena kakinya yang pincang itu dia tidak diterima bekerja dimanapun. Orang-orang merasa tidak percaya bahwa dia dapat hidup layak seperti orang normal pada umumnya dan dapat menjalankan tugasnya. Untung bapak tadi tidak putus asa, dia tetap mencari pekerjaan yang sesuai dengan kondisin fisiknya. Akhirnya dia bekerja sebagai tukang penjual roti keliling dengan sepeda rakitannnya sendiri. Hal tersebut ternyata membuat orang-orang iba, namun tidak sedikit juga yang masih memandangnya dengan sebelah mata. Sekarang dia menjadi orang terkenal dengan sebutan si pincang penjual roti keliling. Namun hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk tetap mencari rejeki yang halal. Sebenarnya kita tidak boleh bersikap seperti itu, karena semua yang diciptakan Tuhan itu sama derajatnya.
           
Yang kedua masih menurut teori dari Erving Goffman, sebagai contoh dari Blemishes of Individual Character. Sebagian besar orang menduga bahwa homoseksual adalah sebuah kelainan. Hal itu dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik agama, budaya, dan minimnya pengetahuan. Dugaan itu kemudian memunculkan stereotipe di masyarakat bahwa kaum homoseksual adalah orang yang sakit. Hal tersebut lantas menjadi stigma yang diberikan masyarakat terhadap kaum homoseksual sehingga menyebabkan terjadinya diskriminasi bahkan kekerasan. Perlu diketahui bahwa stigma berakibat negatif terhadap orang itu karena menyebabkan berkurangnya rasa percaya diri dan merasa tidak dapat menikmati hidup karena seperti merasa ada di bawah bayang-bayang pandangan orang lain jika dia berpenyakit atau dia berdosa dan yang lebih parah itu menular.
Teman saya seorang homseksual, dalam keseharian dia memang terlihat seperti lelaki normal pada umumnya, akan tetapi tutur bahasa dan gaya tubuhnya yang lemah gemulai membuat laki-laki normal menjauhinya. Tidak terkecuali oleh teman di kantornya. Dia pernah bercerita ketika di kantornya diadakan gathering dan dianjurkan untuk menginap, tidak ada satu laki-lakipun yang mau duduk sebelahnya atau sekamar dengannya. Hal tersebut dikarenakan orang dikantornya tahu kalau dia itu seorang homoseksual. Orang-orang menyebutnya homo karena dia adalah penyuka sejenis, sehingga orang-orang menjauhinya. Alasan terbesar dikarenakan takut tertular menjadi homoseksual. Padahal homo bukan penyakit yang harus dijauhi. Homo adalah keadaan dimana seseorang mengalami fantasi seksual yang berbeda dengan orang pada umumnya. Dan tidak semua homo berfikir mesum untuk selalu berhubungan intim, tetapi mereka akan saling menjaga pasangannya karena rasa cinta tumbuh dari hati dan mereka tidak akan saling menyakiti sebab homoseksual termasuk kaum minoritas, jadi tidak perlu dijauhi pungkas sang narasumber.

  Dan terakhir yang masih menurut teori stigma dari Erving Goffman, contoh dari Tribal Stigmas yang terjadi yaitu, dulu ada seorang teman yang berkulit putih, bermata sipit dan bermulut kecil. Dia adalah seorang anak keturunan Tionghoa. Dalam pergaulan dia lebih sering menyendiri. Jika saat istirahat tiba, dia lebih sering menyendiri di dalam kelas. Dia hanya bergaul dengan teman yang berbeda kelas dan memiliki ciri fisik yang sama dengannya. Entah karena temna-teman yang lain sering mengejeknya anak cina sehingga membuatnya minder atau karena dia memang merasa nyaman bergaul dengan teman yang berbeda kelas itu. Di kelas, ada seorang teman yang memiliki sifat suka mengejek dan ngomong ceplas-ceplos. Jika dia memanggil si anak tersebut, pasti tidak memakai nama akan tetapi dengan panggilan “no cino (na cina) yang berarti adalah anak cina”. Hal tersebut membuat teman-teman yang lain juga ikut menyebut si anak dengan panggilan “no cino” bukan dengan nama sebenarnya. Memang terkesan mendiskriminasi, namun hal tersebut sering terjadi bahkan tidak hanya sekali tetapi hampir sering terjadi jika kita memiliki teman yang berkulit putih akan menyebutnya dengan kata cino (cina), apalagi jika anak tersebut memang berasal dari keturunan Tionghoa yang notabene masih menurut sebagian orang, suku bangsa ini mulai diasingkan, dengan alasan banyak menjadi antek-antek penjajah dan menjadi penjajah di negeri kita.

Hidup yang terindah adalah hidup tanpa penghakiman. Daripada kita terjebak pada sesuatu yang tidak kita pahami jelas kebenarannya, baik terhadap satu pribadi maupun satu profesi dan satu keadaan, tak ada salahnya kita lebih mau terbuka untuk semua masukan dan mencari tahu pengetahuan yang sebenar-benarnya. 

Dalam hal ini, kita harus lebih cepat membuka hati dan pikiran kita dibandingkan membuka mulut kita untuk sesuatu yang berbau penghakiman, sekalipun itu sudah marak dirana publik. Karena bukan tidak mungkin apa yang sudah menjadi komsumsi publik pun masih diragukan kebenarannya atau keakuratan data-data dan pertanggung jawabannya baik secara scient/pengetahuan maupun secara personal individu. Jangan pernah mendudukkan seseorang dikursi terdakwa, hanya karena kebenaran-kebenaran pribadi kita yang kita sadur dari stigma-stigma yang marak di masyarakat, tapi jadilah bijak dalam segala sikap dan perkataan kita bagi sesama kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar