kamus

Rabu, 23 April 2014

media, konglomerasi media, konvergensi media, monopoli media, pengertian dan contoh konglomerasi konvergensi monopoli media

KONGLOMERASI, KONVERGENSI dan MONOPOLI PARA PEMILIK MEDIA

Description: https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSxcWBRkNS6fe6Y-7p_UptPiMcRfPVC9aofhNkco6Fv3eMYBgT4xw
doc : google
Dewasa ini, kebutuhan akan informasi serta perkembangan IPTEK dikalangan masyarakat menjadi sangat penting dan semakin cepat. Dengan perkembangan dan teknologi yang serba canggih, media massa memiliki peranan penting dalam penyediaan kebutuhan akan informasi yang cepat mengenai apa yang terjadi. Media sebagai bagian dari komunikasi massa, memegang posisi penting dalam masyarakat dimana menurut Lasswell dan Wright, komunikasi massa memiliki fungsi sosial sebagai surveillance, korelasi dan interpretasi, transmisi budaya dan sosialisasi serta sebagai media hiburan.

Description: https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR_wbAHGqsLygbGd5rYbBhIyAZTtEYfjYsUeoF9Mwh3bZNTmHvkDQ
doc : google
Peranannya yang penting inilah yang membuat industri media massa berkembang sangat pesat dan membuat media massa tidak hanya sebagai sebuah institusi yang idealis, seperti misalnya sebagai alat sosial, politik, dan budaya, tetapi juga telah berubah menjadi suatu institusi yang sangat mementingkan keuntungan ekonomi. Sebagai institusi ekonomi, media massa hadir menjadi suatu industri yang menjanjikan keuntungan yang besar bagi setiap pemiliknya.

            Seperti yang kita ketahui, banyak elit politik dan penguasa menggunakan kekuasaan media yang dimilikinya sebagai wadah untuk berkompetisi politik pada massa pemilu ini. Hal tersebut yang membuat masyarakat kita merasa jenuh dan bosan melihat janji-janji manis para penguasa yang sepertinya tak memiliki batas untuk bersosialisasi di media.

Ada 3 hal mendasar yang harus kita pahami bersama jika kita terjun di dunia media, dengan selalu memahami kode etik dan ketentuan yang berlaku. Tidak seenaknya saja memberikan suguhan yang tidak layak untuk pemirsa atau penikmat media. Sehingga jargon kebebasan pers yang selalu dikumandangkan oleh para penguasa media, tidak memiliki arti dan hanya dapat dipandang sebagai tulisan.
Description: https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcS3-D_NMwAKa6qoyfmUCU5Q1_P7_OGmn34f6tui88rkrkxYcOOxGw
doc : google

  • .     KONGLOMERASI MEDIA

Konglomerasi Media merupakan penggabungan-penggabungan perusahaan media menjadi perusahaan yang lebih besar yang membawahi banyak media. Konglomerasi ini dilakukan dengan melakukan korporasi dengan perusahaan media lain yang dianggap mempunyai visi serta misi yang sama. Biasanya, pembentukan konglomerasi media memiliki cara tersendiri tergantung kepemilikan saham, joint venture / merger, atau pendirian kartel komunikasi dalam skala besar.

Akibatnya, kepemilikan media hanya berpusat pada segelintir penguasa.
Pada dasarnya, konglomerasi media merupakan usaha pemilik media untuk menerapkan sistem konvergensi media. Dimana sebuah perusahaan media tidak hanya mengandalkan satu channel, satu platform, ataupun satu jenis content saja. Karena bagaimanapun juga, untuk meraih audiens yang maksimum dibutuhkan kesadaran media untuk menyajikan konten-konten yang multi-channel, multi-platform, serta multi-media.

Sebuah perusahaan media tidak akan mampu bertahan selamanya dengan hanya mengandalkan penerbitan satu jenis media massa saja, baik itu koran, televisi, maupun media lainnya.

Sudah banyak  contoh di negeri ini yang menggunakan dan menganut sistem konglomerasi media dan hingga sampai saat ini masih tetap dipertahankan demi berbagai macam alasan dan keuntungan semata.

Seperti contoh, stasiun tv swasta ANTV dan TVONE. Karena kedua stasiun tv itu berada dibawah bendera Bakrie Group dengan bos utama Abu Rizal Bakrie atau pada saat musim kampanye pemilu sekarang disingkat ARB , bagaimana pun tidak akan pernah memunculkan serta mengulas berita dengan topik mengangkat lumpur lapindo dan penderitaan masyarakat yang ada di sana. Bahkan seperti yang kita ketahui sekarang, ARB mala mengajukan diri menjadi calon presiden RI mendatang.

Selain itu ada Metro TV yang sering kali menyiarkan pemberitaan tentang kampanye Partai Nasional Demokrat dengan pemimpinnya Surya Paloh yang menjadi terkenal karena sering muncul di stasiun televisinya sendiri. Jika perhatikan, nilai berita yang di tayangan tidak terlalu tinggi.  Tetapi karena kepentingan pemiliknya yang juga saat ini mencalonkan diri sebagai calon presiden RI mendatang, maka beritanya tersebut sering muncul.
Description: https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQJX8g-imqsm-Yx1xJJRBtA07WcLx3bVmux9jAGKo2_RRy_72qe
doc : google
Contoh yang ketiga adalah MNC Group yang memiliki berbagai media baik cetak maupun elektronik. Seperti RCTI, Global TV, MNC TV, Sindo News Paper, Sindo Trijaya FM, MNC Vision, Tabloid Genie,bahkan saat ini ada MNC Asuransi dan MNC Shop, yang hampir keseluruhannya dimanfaatkan oleh  sang empunya Hari Tanoesodibyo sebagai alat untuk berkampanye pada masa pemilu saat ini. Jika MNC Group tidak melambungkan dan melebarkan sayapnya di bidang lain, tidak heran jika jumlah khalayak penikmatnya menjadi turun atau berpindah ke media kompetitor.

  • .      KONVERGENSI MEDIA

Konvergensi berasal dari bahasa Inggris yang berarti convergence. Kata konvergensi merujuk pada dua hal/benda atau lebih, bertemu dan bersatu dalam suatu titik. Konvergensi media berarti penggabungan atau pengintegrasian media-media yang ada untuk digunakan dan diarahkan ke dalam satu titik tujuan. Istilah konvergensi media biasanya merujuk pada perkembangan teknologi komunikasi digital yang dimungkinkan dengan adanya konvergensi jaringan. Seperti menyatunya saluran-saluran keluar (outlet) komunikasi massa, misal : media cetak, radio, televisi, dan Internet, bersama dengan teknologi-teknologi portabel dan interaktifnya, melalui berbagai platform presentasi digital.  Konvergensi media ini menyatukan ”tiga-C” (computing, communication, dan content). 

Seperti contoh adanya konvergensi media saat ini yang mudah kita lihat, yaitu produk  dari hasil perkembangan terkini pada teknologi mobile, Handphone. Berbagai macam ponsel dengan berbagai kecanggihan yang ditawarkan kepada konsumen. Konvergensi terjadi antara ponsel dan televisi, dimana kita bisa menonton televisi melalui ponsel. Hal ini membuktikan konvergensi media membuat berbagai hal menjadi praktis dalam satu media, bayangkan jika  kita bisa menonton televisi kapan saja dan bisa dibawa kemanapun melalui ponsel tanpa harus duduk diam menonton televisi dirumah.
Description: https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR8iEfYqmGWiU71cnTJ69lDCvUFsklfHIiEZTfhJ3i0qFbugMXv
doc : google
Selain itu tidak hanya digunakan untuk akses informasi  dan mengolah data informasi saja, namun sudah bertumbuh dengan adanya akses internet dan siaran televisi. Konvergensi media mengubah paradigma orang tentang televisi yang dulu beranggapan bahwa televisi itu berbentuk besar, kotak, memiliki antenna dalam dan luar. Namun perkembangan yang terjadi membuat paradigma kita berubah bahwa televisi memiliki berbagai bentuk, mulai dari televisi di ponsel yang berukuran kecil, televisi di komputer sampai layar LCD televisi yang besar.

Contoh yang kedua ialah, ponsel saat ini tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi saja, tapi ada fungsi-fungsi lain sebagai layanan-layanan media didalam ponsel, dan tidak terbatas hanya untuk sms dan telepon. Kamera foto, video, musik atau mp3, televisi, radio, 3G, bahkan akses internet ada dalam satu media ponsel. Hal ini jelas memudahkan dan menguntungkan pengguna ponsel dalam melakukan berbagai aktifitas.

Contoh ketiga adalah Televisi online, dimana teknologi ini adalah penggabungan dari media televisi dan internet. Masyarakat sekarang bisa menonton televisi melalui internet.  Di Indonesia sendiri contoh-contoh televisi online adalah seperti yang dimiliki  TransCorp dengan menggunakan situs MyTrans.Com dan detik.com.

  • .      MONOPOLI MEDIA

Monopoli berasal dari bahasa Yunani, yaitu Monos dan Polein. Monos yang memiliki arti sendiri, sedangkan Polien berarti penjual.  Jika kedua kata tersebut digabung , maka memiliki makna “menjual sendiri” yang berarti bahwa seseorang atau suatu badan/lembaga menjadi penjual tunggal (penguasaan pasar atas penjualan atau penawaran barang ataupun jasa). Monopoli adalah suatu penguasaan pasar yang dilakukan oleh seseorang atau perusahaan atau badan untuk menguasai penawaran pasar (penjualan produk barang dan atau jasa di pasaran) yang ditujukan kepada para pelanggannya.

Monopoli media dan Sistem Pers Indonesia merupakan sisi gelap dari kebebasan pers. Liberalisasi media tak terkendali dan bersinergi dengan pasar bebas akhirnya menciptakan pemusatan kepemilikan media hanya pada segelintir kelompok tertentu yang menguasai modal tanpa memikirkan masyarakat lain dengan modal secukupnya yang juga ingin memiliki bisnis media. Kompetisi untuk terjun di dunia mediapun menjadi lebih sulit. “Pendatang baru” yang tidak memiliki modal yang besar tentu akan berpikir seribu kali untuk memasuki dunia media yang telah termonopoli.

Hambatan ini menyebabkan bisnis media massa tidak akan berkembang karena dikuasai secara tunggal dan celah untuk memasukinya tertutup. Hal ini selanjutnya juga akan merugikan publik karena para “pendatang baru”, yang boleh jadi memiliki visi media yang lebih baik dari “sang konglomerat”, mundur sebelum bertarung. Dengan demikian, diversity konten media menjadi susah terwujud.
Description: https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQcX2MCVzOCHUL5U-OS4ER1XVpvSyMO3_jGcaJcrN5J4Q--Ys3Hww
doc : google
Contoh nyata monopoli media saat ini adalah perusahaan media besar yang sukses berkembang di luar Jakarta. Seperti yang kita tahu, Jawa Pos Group melakukan strategi monopoli untuk mengembangkan bisnisnya dan dapat berpengaruh besar pada media. Jawa Pos Group terkenal dengan Jaringan media lokal yang disebut Jawa Pos News Network (JPNN). Mereka mengangkat kelokalan tiap daerah dengan media yang telah mereka bentuk di tiap daerah tersebut. Jaringan ‘radar’ di tiap daerah berkembang sangat pesat. Jaringan ini adalah rubrik tambahan di tiap kota yang disisipkan di tiap koran Jawa Pos mendampingi berita-berita nasional. Jaringan ini memiliki kantor dan struktur di tiap kota. Dikota Semarang sendiri, berdiri Jateng Pos, Meteor dan Rakyat Jateng yang berdiri dibawah bendera JPNN Group. Setelah jaringan media cetak dengan radarnya kuat di satu kota mereka akan mengembangkan televisi di tiap kota dengan berdasar jaringan ‘radar’ tersebut.

Contoh yang lain ialah Chairul Tanjung yang juga tidak kalah langkah. Ia yang sebelumnya sudah memiliki Trans TV, mengakuisisi TV 7 dan mengubah namanya menjadi Trans 7. Kedua televisi miliknya ini mempunyai konsep hiburan. Keduanya hanya dibedakan oleh bidikan pangsa pasar dan perbedaan program dengan konsep yang khas remaja saat ini.Trans TV mengambil pangsa pasar menengah keatas, sedangkan Trans 7 untuk kalangan menengah kebawah. Selain itu melebarkan sayapnya pada media online dan tv kabel berlangganan.

Pada intinya, kepemilikan media hanya dapat dinikmati segelintir orang saja dan membentuk sebuah gurita media karena satu orang menguasai berbagai media. Mungkin bagi kebanyakan  orang, nampaknya hal ini sah-sah saja. Karena setiap orang pasti akan selalu berusaha untuk mengembangkan usahanya. Tetapi ternyata baik konglomerasi, konvergensi serta monopoli di bidang media, memiliki dampak yang luar biasa berbahaya bagi masyarakat, karena dapat membentuk opini tertentu yang tidak sehat, sterotipe pada suatu hal tertentu dan lain-lain. Jika sudah begitu, kita sendiri yang harus pintar memilih dan bersikap netral (G.za).


Referensi
:: dari berbagai sumber ::


Tidak ada komentar:

Posting Komentar