kamus

Senin, 28 April 2014

propaganda politik, apa itu propaganda, pengertian propaganda politik, bagaimana propaganda politik zaman soeharto, propaganda politik zaman soeharto



PROPAGANDA POLITIK ZAMAN SOEHARTO
https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR1nLWqM2MyP70WbAikgl_TYOItdKzpssL5o_2ly1wBU49ZA_n86g
doc : google
      Negara kita merupakan negara yang memiliki aneka ragam budaya, suku, ras, agama. Sehingga negara kita dikenal dengan negara kesatuan. Selain itu, negara kita dikenal sebagai negara yang demokratis. Namun jauh sebelum kita menjadi negara demokratis, negara kita merupakan contoh negara yang apatis dan komunis. Pemerintahan terkesan tertutup dan hanya dapat dimiliki oleh kalangan menengah keatas.
 
Suara rakyat seolah tak berguna dan tak bermanfaat untuk kemajuan negara. Hal itu karena propaganda politik yang dilakukan ketika pemerintahan Jendral soeharto di Indonesia. Sebelum kita membahas tentang propaganda politik era pemerintahan Jendral Soeharto di Indonesia, alangkah baiknya kita mengerti dan memahami tentang propaganda itu sendiri. 

Kata propaganda berasal dari  bahasa Latin,propagare yang berarti mengembangkan atau memekarkan. Propagare merupakan rangkaian pesan yang bertujuan untuk memengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sekelompok orang, tidak menyampaikan informasi secara obyektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk memengaruhi pihak yang mendengar atau melihatnya. Biasanya propaganda dapat digunakan sebagai  menyampaikan pesan yang benar, namun seringkali menyesatkan dimana umumnya isi propaganda hanya menyampaikan fakta-fakta pilihan yang dapat menghasilkan pengaruh tertentu, atau lebih menghasilkan reaksi emosional daripada reaksi rasional. Tujuannya adalah untuk mengubah pikiran kognitif narasi subjek dalam kelompok sasaran untuk kepentingan tertentu (Wikipedia, 2013).

Propanda adalah suatu jenis komunikasi yang berusaha mempengaruhi pandangan dan reaksi, tanpa mengindahkan tentang nilai benar atau tidak benarnya pesan yang disampaikan.Arti dari propaganda dikemukan sebagai konsep popular yang cenderung menumbuhkam suatu kecurigaan dan rasa takut terhadap kekuatan dipropaganandis (Enclyclopedia International, 2013).

Dan dalam buku yang berjudul Propaganda and Persuasion menyatakan bahwa,Propaganda adalah usaha dengan sengaja dan sistematis, untuk membentuk persepsi, memanipulasi pikiran, dan mengarahkan kelakuan untuk mendapatkan reaksi yang diinginkan penyebar propaganda (G.S. Jowett and V.O'Donnell : 2006).

Dari ketiga pengertian diatas, kita dapat menarik kesimpulan tentang pengertian propaganda yaitu bentuk komunikasi massa yang merupakan usaha untuk merumuskan secara tegar azas-azas penyebaran informasi serta pembentukan opini dan sikap yang semata merujuk pada control opini dengan symbol-simbol penting, atau berbicara secara lebih konkret dan kurang akurat melalui cerita, rumor, berita, gambar, atau bentuk-bentuk komunikasi sosial lainnya dan dapat berubah menjadi gagasan politik yang ditujukan untuk menyesatkan.

Propaganda sebenarnya sering kita bicarakan, karena propaganda memang tumbuh di tengah-tengah masyarakat.Ia menjadi bagian dari alat atau teknik berkomunikasi dan dijadikan sebagai salah satu metode dalam komunikasi. Setelah kita mengerti dan memahami arti dari propaganda itu sendiri, maka kita akan membahas tentang propaganda yang pernah terjadi di Indonesia. Disini kita mengambilcontoh propaganda politik selama kepemimpinan Jendral Soeharto.

Kita sebagai bangsa Indonesia, tak mungkin jika tak mengenal Jendral Soeharto atau yang biasa kita sebut dengan Pak Harto.Seoharto adalah mantan Presiden Republik Indonesia yang kedua setelah Soekarno.Sepak terjang Soeharto ketika masa kepemimpinannya sangat tinggi demi memajukan bangsa Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri. Citra baik dan buruk juga menghiasi pada massa kepemimpinannya selama 32 tahun.

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSIi8XD_wJbrERRnX8EGcK8OyoEZ_C7xzSNSPj2WGiNB5fOYfc08w
Doc : Google

Namun Soeharto harus lengser karena propaganda politik yang ia jalankan sudah tidak sejalan dengan pemikiran masyarakat kita. Dan pada 21 Mei 1998, merupakan hari paling bersejarah karena dapat melengserkanya sebagai presiden karena terjadi krisis ekonomi yang berkepanjangan tanpa adanya penyelesaian.
https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTqcHTGBTmjgX4DSbxyvCz5Cn84HH6jvOPGLdL8uvDHhkwxP04WWA
Doc : Google
 
Seperti yang kita ketahui secara ringkas, pilar penopang kekuasaan Suharto selama beliau berkuasa dapat dibagi menjadi dua.Yang pertama pilar yang bersifat riil.Pilar ini berupa kekuatan nyata yang tidak sekedar melegitimasi kekuasaan tersebut tetapi membelanya jika ada ancaman.Pilar yang bersifat riil sebagai penopang kekuasaan Suharto yang paling utama adalah militer.Militer pendukung utama kekuasaan Suharto adalah Angkatan Darat. Angkatan di mana Suharto pernah berkiprah sebelum ia menjadi presiden. Naiknya Suharto menjadi presiden juga didukung oleh angkatan ini yang memanfaatkan kekisruhan politik tahun 1965 dan tahun-tahun sebelumnya.

Pasca meletusnya peristiwa yang dikenal dengan sebutan Gerakan 30 September 1965 posisi militer di Indonesia terpecah menjadi dua, yaitu mereka yang masih loyal kepada Presiden Sukarno dan mereka yang lebih loyal kepada Jenderal Suharto. Menurut Harold Crouch pembelahan di tubuh militer mulai terlihat jelas pada tahun 1967 di mana kelompok-kelompok yang setia kepada Sukarno yang masih tersisa enggan menerima pendongkelan terhadap presiden.Secara berlahan-lahan Suharto mulai mengkonsolidasikan Angkatan Darat menjadi kekuatan utama di tubuh militer yang loyal kepada dirinya.Ia mulai menempatkan Angkatan Darat sebagai kekuatan utama di tubuh militer melebihi angkatan-angkatan lain, yang dengan kata lain Angkatan Darat mendapat porsi yang lebih istimewa dibandingkan dengan lainnya.

 Dengan strategi ini, Suharto naik menjadi presiden dan ia mendapatkan loyalitas yang melebihi porsinya dari Angkatan Darat. Angkatan Darat menjadi pendukung utama saat Suharto menjadi presiden sampai jatuhnya pada tahun 1998.Para pengamat politik dan para aktifis sering menyebut Indonesia sebagai negara yang militeristik dan fasis.Bahkan menurut beberapa kalangan, jatuhnya Suharto juga tidak bisa dipisahkan dari faktor militer, yaitu terjadinya keretakan hubungan antara Suharto dengan militer atau yang disebutnya sebagai keretakan aliansi strategis Orde Baru.

Kedua adalah pilar yang bersifat simbolik.Pilar ini tidak terlihat atau kasat mata tetapi memiliki efek yang luar biasa untuk mengendalikan rakyat dan menjadi semacam tangan gaib (invisible hand) penguasa untuk menggiring rakyat menuju pada satu kesetiaan tunggal.Pilar riil kedua penopang kekuasaan Suharto adalah Golongan Karya (Golkar) dan partai politik.Dulu sebelum Negara kita menjadi Negara yang demokratis dan memiliki banyak partai politik seperti sekarang, kita hanya mengenal dua partai politik yang sah saat pemerintahan Soekarno. Namun ketika pemerintahan Soeharto, dengan sengaja ia membentuk sebuah partai politik yang anggotanya merupakan golongan menengah kebawah, seperti PNS, pegawai BUMN, Buruh. 

Dari situlah muncul golkar (Golongan Karya) yang seperti kita ketahui saat ini menjadi partai golkar. Golkar sebenarnya bukan suatu partai politik, melainkan sekumpulan golongan yang ia kumpulkan dan ia bentuk menjadi suatu kesatuan demi melakukan propaganda politik yang ia laksanakan. Agar Indonesia dicitrakan sebagai negara yang demokratis maka perlu ada lembaga-lembaga yang berfungsi mirip partai politik.Di Indonesia pada masa kekuasaan Suharto terdapat tiga lembaga yang memerankan diri dengan peran seperti itu yaitu Golongan Karya, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Keberadaan lembaga ini nyaris hanya sebagai simbol dan sebagai stempel demokrasi karena dalam kacamata Barat, negara yang berdemokrasi adalah negara yang mengakomodir kekuatan partai politik. Bahkan keberadaan Golongan Karya pun sebenarnya tidak pernah berfungsi secara riil sebagai penopang kekuasaan Suharto.Tanpa Golongan Karya dan partai politik lainnya Suharto tetap bisa berkuasa sepanjang ia didukung oleh militer. Bahkan Golongan Karya dan partai-partai politik sangat tergantung pada Suharto, terutama dalam menentukan ketua-ketuanya.
https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTEIDkgdFFO5n_OM_KSwTjGx-_XuIAGHCUEx_MK8EcqNblKl84enA
Doc : Google

Ketika Suharto menghendaki agar semua partai politik dan semua organisasi di Indonesia menjadikan Pancasila sebagai asaznya, maka mereka tidak bisa menolaknya.Logika politik di Indonesia pada masa Suharto dibuat jungkir balik olehnya. Golongan Karya pada periode ini memang memiliki tempat yang lebih istimewa dibandingkan dua partai politik yang lain karena Golongan Karyalah yang digunakan oleh Suharto sebagai kendaraan politik, dan lembaga stempel paling loyal tempat ia mendaftarkan diri maju sebagai presiden setiap lima tahun sekali.

Dalam sistem pemerintahan yang militeristik dan terpusat pada satu individu posisi rakyat tidak terlalu penting karena dukungan politik riil bukan dari rakyat.Pada masa pemerintahan Suharto kedudukan politik rakyat amat merana.Bahkan istilah “rakyat” menjadi berkonotasi amat berbahaya dan dijadikan musuh imajiner oleh rezim Suharto. Rakyat, yang sebelumnya dipandang sebagai kekuatan politik terpentingdalam proses kemerdekaan Indonesia, diubah sosoknya menjadi kekuatan politik yang paling berbahaya dalam masyarakat secara imajiner.

Dikatakan secara imajiner karena secara riil dalam pemerintahan yang militeristik rakyat dikontrol amat ketat oleh rezim sehingga nyaris tidak bisa berbuat apa-apa.Bahkan oleh elit politik rakyat sering diidentikan sebagai orang-orang “bodoh” saat mereka berbicara mengenai rakyat.Mereka merasa lebih mengerti keinginan dan kebutuhan rakyat daripada rakyat itu sendiri.Hal ini adalah ciri negara yang merupakan perkawinan antara sistem paternalistik dengan sistem militeristik.

Di samping berdiri di atas penopang riil, kekuasaan Suharto juga ditopang oleh pilar yang bersifat simbolik, yang tidak terlihat oleh mata, namun bisa dirasakan bahwa penopang tersebut berfungsi sangat efektif.
https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTPuVrRbzbu0P9Nl036DD7Tg6qfHiNcYBP2NKrxILKbiJ3gAP-p
Doc : Google
Dari kajian kita diatas, dapat disimpulkan bahwa propaganda politik yang dilakukan Soeharto ketika massa kepemimpinannya sangat jelas dapat kita rasakan.  Bangsa kita terombang ambingkan oleh aturan yang dibuatnya, seolah kita seperti di adu domba oleh Soeharto namun kita tidak menyadarinya karena kepiawaian beliau dalam mempengaruhi masyarakat kita.Kita seakan tak beradaya dibuatnya.Dalam melaksanakan propaganda politiknya, media yang ia gunakan ada dua cara sebagai penopang kekuasaan Soeharto.

Yaitu dengan kekuatan yang bersifat riilatau kekuatan nyata yang tidak sekedar melegitimasi kekuasaan tersebut tetapi membelanya jika ada ancaman (militer) dan kekuatan yang bersifat simbolik tidak terlihat atau kasat mata tetapi memiliki efek yang luar biasa untuk mengendalikan rakyat (Golongan karya / Golkar).Tanpa adanya dua unsur diatas, mustahil jika Soeharto dapat memimpin Negara Indonesia selama 32 tahun.Waktu yang paling lama jika dibandingkan dengan pemimpin Negara Indonesia lainya. Propaganda yang ia lakukan amatlah rapi, sehingga kita tak menyadarinya. Membuat kita terhasut bahkan terpengaruh menguikuti apa yang ia inginkan, dan membuat kita seakan buta dengan politik serta kekuasaan militer di negara kita sendiri. Propaganda yang dilakukan Soeharto menjadikan pelajaran teramat  penting untuk kita agar kita sebagai generasi penerus bangsa tidak melakukan kesalahan yang dapat membuat masyarakat khususnya golongan  menengah kebawah menderita dan bangsa  ini menjadi terpecah belah.

Propaganda biasanya terjadi karna moralitas bangsa yang rendah dan kurangnya kesadaran akan bangsa itu sendiri. Banyak sebagian orang menganggap propaganda itu positif dan lebih banyak yang menganggap propaganda itu negatif karna kebenarannya tidak sesuai.Jika propaganda berdampak negatif dan kita tak ingin propaganda seperti itu berkembang di masyarakat, maka tentu saja harus dilawan.

Usaha melawan propaganda inilah yang dinamakan Counter propaganda.Counter propaganda ini harus dilakukan terus menerus agar tertanam kuat dalam benak orang lain. Atau kalau sudah tertanam kuat keburukan propaganda bisa sedikit banyak mempengaruhi pola pikirnya. Ketika orang tersebut dalam posisi bimbang dan mempertimbangkan setelah sebelumnya mempercayai dan berperilaku propagandis jelek, itu artinya Counter propaganda sudah bisa dikatakan berhasil, meskipun belum sepenuhnya.Counter propaganda harus dilakukan agar dampak negatif atau informasi yang sudah menyebar dan mempengaruhi perilaku masyarakat tidak diteruskan.



REFERENSI

Pradhanawati, Ari., dan Utomo, Tri C. 2008. Pemilu dan Demokrasi.Semarang : Jala Mata dan FISIP Universitas Diponegoro
Jowett, Garth S. dan O'Donnell, Victoria.2006. Propaganda and Persuasion edisi ke-4. London :Thousand Oaks C, Sag
Crouch, Harold. 1999. Militer dan Politik di Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan
 Wikipedia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar