PROPAGANDA
POLITIK ZAMAN SOEHARTO
![]() |
| doc : google |
Negara kita merupakan negara yang memiliki aneka ragam budaya, suku,
ras, agama. Sehingga negara kita dikenal dengan negara kesatuan. Selain itu, negara kita
dikenal sebagai negara yang demokratis. Namun jauh sebelum kita menjadi negara
demokratis, negara kita merupakan contoh negara yang apatis dan komunis.
Pemerintahan terkesan tertutup dan hanya dapat dimiliki oleh kalangan menengah
keatas.
Suara rakyat seolah tak berguna dan tak bermanfaat untuk kemajuan
negara. Hal itu karena propaganda politik yang dilakukan ketika pemerintahan
Jendral soeharto di Indonesia. Sebelum kita membahas tentang propaganda politik
era pemerintahan Jendral Soeharto di Indonesia, alangkah baiknya kita mengerti
dan memahami tentang propaganda itu sendiri.
Kata propaganda berasal dari bahasa Latin,propagare
yang berarti mengembangkan atau memekarkan. Propagare
merupakan rangkaian pesan
yang bertujuan untuk memengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat
atau sekelompok orang, tidak menyampaikan informasi
secara obyektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk memengaruhi
pihak yang mendengar atau melihatnya. Biasanya propaganda dapat digunakan
sebagai menyampaikan pesan yang benar,
namun seringkali menyesatkan dimana umumnya isi propaganda hanya menyampaikan fakta-fakta pilihan yang
dapat menghasilkan pengaruh tertentu, atau lebih menghasilkan reaksi emosional
daripada reaksi rasional.
Tujuannya adalah untuk mengubah pikiran kognitif
narasi subjek dalam kelompok sasaran untuk kepentingan tertentu (Wikipedia, 2013).
Propanda adalah suatu jenis komunikasi yang berusaha mempengaruhi
pandangan dan reaksi, tanpa mengindahkan tentang nilai benar atau tidak
benarnya pesan yang disampaikan.Arti dari propaganda dikemukan sebagai konsep
popular yang cenderung menumbuhkam suatu kecurigaan dan rasa takut terhadap
kekuatan dipropaganandis (Enclyclopedia
International, 2013).
Dan dalam buku yang berjudul Propaganda and Persuasion menyatakan bahwa,Propaganda adalah
usaha dengan sengaja dan sistematis, untuk membentuk persepsi, memanipulasi
pikiran, dan mengarahkan kelakuan untuk mendapatkan reaksi yang diinginkan
penyebar propaganda (G.S. Jowett and V.O'Donnell : 2006).
Dari ketiga pengertian diatas, kita dapat menarik
kesimpulan tentang pengertian propaganda yaitu bentuk
komunikasi massa yang merupakan usaha untuk merumuskan secara tegar azas-azas
penyebaran informasi serta pembentukan opini dan sikap yang semata merujuk pada
control opini dengan symbol-simbol penting, atau berbicara secara lebih konkret
dan kurang akurat melalui cerita, rumor, berita, gambar, atau bentuk-bentuk
komunikasi sosial lainnya dan dapat berubah menjadi gagasan
politik yang ditujukan untuk menyesatkan.
Propaganda sebenarnya sering kita bicarakan, karena
propaganda memang tumbuh di tengah-tengah masyarakat.Ia menjadi bagian dari
alat atau teknik berkomunikasi dan dijadikan sebagai salah satu metode dalam
komunikasi. Setelah kita mengerti dan memahami arti dari propaganda itu
sendiri, maka kita akan membahas tentang propaganda yang pernah terjadi di
Indonesia. Disini kita mengambilcontoh propaganda politik selama kepemimpinan
Jendral Soeharto.
Kita sebagai bangsa Indonesia, tak mungkin jika tak mengenal Jendral
Soeharto atau yang biasa kita sebut dengan Pak Harto.Seoharto adalah mantan
Presiden Republik Indonesia yang kedua setelah Soekarno.Sepak terjang Soeharto
ketika masa kepemimpinannya sangat tinggi demi memajukan bangsa Indonesia, baik
di dalam maupun di luar negeri. Citra baik dan buruk juga menghiasi pada massa
kepemimpinannya selama 32 tahun.
![]() |
| Doc : Google |
Namun Soeharto harus lengser karena propaganda politik yang ia jalankan sudah tidak
sejalan dengan pemikiran masyarakat kita. Dan pada 21 Mei 1998, merupakan hari
paling bersejarah karena dapat melengserkanya sebagai presiden karena terjadi
krisis ekonomi yang berkepanjangan tanpa adanya penyelesaian.
![]() |
| Doc : Google |
Seperti yang kita ketahui
secara ringkas, pilar penopang kekuasaan Suharto selama beliau berkuasa dapat
dibagi menjadi dua.Yang pertama pilar yang bersifat riil.Pilar ini berupa
kekuatan nyata yang tidak sekedar melegitimasi kekuasaan tersebut tetapi
membelanya jika ada ancaman.Pilar yang bersifat riil sebagai penopang kekuasaan
Suharto yang paling utama adalah militer.Militer pendukung utama kekuasaan
Suharto adalah Angkatan Darat. Angkatan di mana Suharto pernah berkiprah
sebelum ia menjadi presiden. Naiknya Suharto menjadi presiden juga didukung
oleh angkatan ini yang memanfaatkan kekisruhan politik tahun 1965 dan
tahun-tahun sebelumnya.
Pasca meletusnya peristiwa yang dikenal dengan sebutan Gerakan 30
September 1965 posisi militer di Indonesia terpecah menjadi dua, yaitu mereka
yang masih loyal kepada Presiden Sukarno dan mereka yang lebih loyal kepada
Jenderal Suharto. Menurut Harold Crouch pembelahan di tubuh militer mulai
terlihat jelas pada tahun 1967 di mana kelompok-kelompok yang setia kepada
Sukarno yang masih tersisa enggan menerima pendongkelan terhadap presiden.Secara
berlahan-lahan Suharto mulai mengkonsolidasikan Angkatan Darat menjadi kekuatan
utama di tubuh militer yang loyal kepada dirinya.Ia
mulai menempatkan Angkatan Darat sebagai kekuatan utama di tubuh militer
melebihi angkatan-angkatan lain, yang dengan kata lain Angkatan Darat mendapat
porsi yang lebih istimewa dibandingkan dengan lainnya.
Dengan strategi ini, Suharto naik menjadi
presiden dan ia
mendapatkan loyalitas yang melebihi porsinya dari Angkatan Darat. Angkatan
Darat menjadi pendukung utama saat Suharto menjadi presiden sampai jatuhnya
pada tahun 1998.Para pengamat politik dan para aktifis sering menyebut
Indonesia sebagai negara yang militeristik dan fasis.Bahkan menurut beberapa
kalangan,
jatuhnya Suharto juga tidak bisa dipisahkan dari faktor militer, yaitu
terjadinya keretakan hubungan antara Suharto dengan militer atau yang
disebutnya sebagai keretakan aliansi strategis Orde Baru.
Kedua adalah pilar yang bersifat simbolik.Pilar ini tidak terlihat
atau kasat mata tetapi memiliki efek yang luar biasa untuk mengendalikan rakyat
dan menjadi semacam tangan gaib (invisible hand) penguasa untuk
menggiring rakyat menuju pada satu kesetiaan tunggal.Pilar riil kedua penopang
kekuasaan Suharto adalah Golongan Karya (Golkar) dan partai politik.Dulu
sebelum Negara kita menjadi Negara yang demokratis dan memiliki banyak partai
politik seperti sekarang, kita hanya mengenal dua partai politik yang sah saat
pemerintahan Soekarno. Namun ketika pemerintahan Soeharto, dengan sengaja ia
membentuk sebuah partai politik yang anggotanya merupakan golongan menengah
kebawah, seperti PNS, pegawai BUMN, Buruh.
Dari situlah muncul golkar (Golongan Karya) yang seperti kita
ketahui saat ini menjadi partai golkar. Golkar sebenarnya bukan suatu partai
politik, melainkan sekumpulan golongan yang ia kumpulkan dan ia bentuk menjadi
suatu kesatuan demi melakukan propaganda politik yang ia laksanakan. Agar
Indonesia dicitrakan sebagai negara yang demokratis maka perlu ada
lembaga-lembaga yang berfungsi mirip partai politik.Di Indonesia pada masa
kekuasaan Suharto terdapat tiga lembaga yang memerankan diri dengan peran
seperti itu yaitu Golongan Karya, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai
Demokrasi Indonesia (PDI).
Keberadaan lembaga ini nyaris hanya sebagai simbol dan sebagai
stempel demokrasi karena dalam kacamata Barat, negara yang berdemokrasi adalah
negara yang mengakomodir kekuatan partai politik. Bahkan keberadaan Golongan
Karya pun sebenarnya tidak pernah berfungsi secara riil sebagai penopang
kekuasaan Suharto.Tanpa Golongan Karya
dan partai politik lainnya Suharto tetap bisa berkuasa sepanjang ia didukung
oleh militer. Bahkan Golongan Karya dan partai-partai politik sangat tergantung
pada Suharto, terutama dalam menentukan ketua-ketuanya.
![]() |
| Doc : Google |
Ketika Suharto menghendaki agar semua partai politik dan semua
organisasi di Indonesia menjadikan Pancasila sebagai asaznya, maka mereka tidak bisa
menolaknya.Logika politik di Indonesia pada masa Suharto dibuat jungkir balik
olehnya. Golongan Karya pada periode ini memang memiliki tempat yang lebih
istimewa dibandingkan dua partai politik yang lain karena Golongan Karyalah
yang digunakan oleh Suharto sebagai kendaraan politik, dan lembaga stempel
paling loyal tempat ia mendaftarkan diri maju sebagai presiden setiap lima
tahun sekali.
Dalam sistem pemerintahan yang militeristik dan terpusat pada satu
individu posisi rakyat tidak terlalu penting karena dukungan politik riil bukan
dari rakyat.Pada masa pemerintahan Suharto kedudukan politik rakyat amat
merana.Bahkan istilah “rakyat” menjadi berkonotasi amat berbahaya dan dijadikan
musuh imajiner oleh rezim Suharto. Rakyat, yang sebelumnya dipandang sebagai
kekuatan politik terpentingdalam proses kemerdekaan Indonesia, diubah sosoknya
menjadi kekuatan politik yang paling berbahaya dalam masyarakat secara
imajiner.
Dikatakan secara imajiner karena secara riil dalam pemerintahan yang
militeristik rakyat dikontrol amat ketat oleh rezim sehingga nyaris tidak bisa
berbuat apa-apa.Bahkan oleh elit politik rakyat sering diidentikan sebagai
orang-orang “bodoh” saat mereka berbicara mengenai rakyat.Mereka merasa lebih
mengerti keinginan dan kebutuhan rakyat daripada rakyat itu sendiri.Hal ini adalah ciri
negara yang merupakan perkawinan antara sistem paternalistik dengan sistem
militeristik.
Di samping berdiri di atas penopang riil, kekuasaan Suharto juga
ditopang oleh pilar yang bersifat simbolik, yang tidak terlihat oleh mata,
namun bisa dirasakan bahwa penopang tersebut berfungsi sangat efektif.
![]() |
| Doc : Google |
Dari kajian kita diatas, dapat disimpulkan bahwa
propaganda politik yang dilakukan Soeharto ketika massa kepemimpinannya sangat
jelas dapat kita rasakan. Bangsa kita
terombang ambingkan oleh aturan yang dibuatnya, seolah kita seperti di adu
domba oleh Soeharto namun kita tidak menyadarinya karena kepiawaian beliau dalam
mempengaruhi masyarakat kita.Kita seakan tak beradaya dibuatnya.Dalam
melaksanakan propaganda politiknya, media yang ia gunakan ada dua cara sebagai
penopang kekuasaan Soeharto.
Yaitu dengan kekuatan yang bersifat riilatau kekuatan nyata yang tidak
sekedar melegitimasi kekuasaan tersebut tetapi membelanya jika ada ancaman (militer)
dan kekuatan yang bersifat simbolik tidak terlihat atau kasat mata tetapi
memiliki efek yang luar biasa untuk mengendalikan rakyat (Golongan karya /
Golkar).Tanpa adanya dua unsur diatas, mustahil jika Soeharto dapat memimpin
Negara Indonesia selama 32 tahun.Waktu yang paling lama jika dibandingkan
dengan pemimpin Negara Indonesia lainya. Propaganda yang ia lakukan amatlah
rapi, sehingga kita tak menyadarinya. Membuat kita terhasut bahkan terpengaruh
menguikuti apa yang ia inginkan, dan membuat kita seakan
buta dengan politik serta kekuasaan militer di negara kita sendiri. Propaganda yang
dilakukan Soeharto menjadikan pelajaran teramat
penting untuk kita agar kita sebagai generasi penerus bangsa tidak
melakukan kesalahan yang dapat membuat masyarakat khususnya golongan menengah kebawah menderita dan bangsa ini menjadi terpecah belah.
Propaganda biasanya terjadi karna moralitas bangsa yang rendah dan
kurangnya kesadaran akan bangsa itu sendiri. Banyak sebagian orang menganggap
propaganda itu positif dan lebih banyak yang menganggap propaganda itu negatif
karna kebenarannya tidak sesuai.Jika propaganda berdampak negatif dan kita tak
ingin propaganda seperti itu berkembang di masyarakat, maka tentu saja harus
dilawan.
Usaha melawan propaganda inilah yang dinamakan Counter propaganda.Counter propaganda ini harus dilakukan terus menerus
agar tertanam kuat dalam benak orang lain. Atau kalau sudah tertanam kuat
keburukan propaganda bisa sedikit banyak mempengaruhi pola pikirnya. Ketika
orang tersebut dalam posisi bimbang dan mempertimbangkan setelah sebelumnya
mempercayai dan berperilaku propagandis jelek, itu artinya Counter propaganda sudah bisa dikatakan berhasil, meskipun belum
sepenuhnya.Counter
propaganda harus dilakukan agar dampak negatif
atau informasi yang sudah menyebar dan mempengaruhi perilaku masyarakat tidak
diteruskan.
REFERENSI
Pradhanawati, Ari., dan Utomo, Tri C. 2008. Pemilu dan Demokrasi.Semarang : Jala Mata dan FISIP Universitas
Diponegoro
Jowett, Garth S. dan O'Donnell, Victoria.2006. Propaganda and
Persuasion edisi ke-4. London :Thousand Oaks C, Sag
Crouch, Harold. 1999. Militer dan Politik di Indonesia.
Jakarta: Sinar Harapan
Wikipedia





Tidak ada komentar:
Posting Komentar