kamus

Selasa, 22 April 2014

Selamatkan Negeri, Sebelum Terlambat!


Selamatkan Negeri, Sebelum Terlambat!


Manusia memiliki pengaruh yang besar terhadap ekosistem. Perubahan ekosistem yang telah atau sedang terjadi saat ini, umumnya disebabkan oleh aktivitas manusia. Secara sadar dan tidak, beberapa aktivitas manusia dapat mengganggu kontrol alami terhadap keseimbangan ekosistem. Akibatnya lingkungan menjadi rusak, dan yang lebih parah ialah musnah.

Kerusakan lingkungan, berdampak bagi kelangsungan hidup kelak. Terlebih karena itu ulah dari manusia sendiri yang kurang dan bahkan tidak tahu bagaimana cara merawat serta menjaga kelestarian lingkungan. Contoh nyata yang saat ini dan masih terjadi adalah pengeboran minyak bumi  yang kian meningkat, penggalian batubara, serta pemanasan global. Hal-hal tersebut yang membuat bumi semakin rusak dan alam tak terjaga dengan baik. Secara tidak langsung dapat mematikan rantai kehidupan energi anak cucu kita kelak.

Description: https://encrypted-tbn2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRkEm3Zx6eA5R4apRDmNA24tDhZ0JA587DZDO5rE3pvpPUDf-WeRQ
doc : google

PLTU Pembawa Maut

Seperti yang kita tahu, Indonesia  kaya akan keanekaragaman hayati dan bahan tambang sebagai komoditi andalan negara. Hal tersebut yang membuat investor baik dalam maupun luar negeri berminat menanamkan modal di bidang pertambangan. Bahan galian tambang tersebut seperti minyak bumi, gas alam, batu bara, timah, nikel, besi, bauksit, tembaga, emas dan platina. Dan saat ini, Indonesia merupakan salah satu produsen utama batubara di dunia, serta pengekspor batubara terbesar kedua di dunia setelah Australia.

Manusia, seperti mengalami kecanduan yang tinggi terhadap bahan bakar fosil , terutama terhadap batubara. Lebih dari 90% listrik yang dihasilkan di negeri ini berasal dari bahan bakar fosil. Sepertiganya berasal dari batubara, dan sepertinya pemerintah tidak akan menghentikan ketergantungan yang sangat tinggi terhadap bahan bakar fosil ini dalam waktu dekat.

Description: https://encrypted-tbn1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTiGPDdAFMpJ33Rome3EewnWLye1eScJXBkBabxMbTZdIt6B-Mkiw
doc: google
Pemerintah Indonesia justru menganggap batubara sebagai  “Penyelamat” untuk mengatasi permasalahan energi negeri ini. Hal tersebut terbukti bahwa adanya pembangunan  Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara di seluruh Indonesia dilakukan secara terus menerus.


Pada tahun 2005, pemerintah meluncurkan proyek percepatan pembangunan PLTU 10000 MW Tahap I, yang keseluruhannya merupakan pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar batubara. Tak berhenti sampai disitu, pemerintah menargetkan pada tahun 2030, batubara akan menyumbangkan separuh dari total listrik yang dihasilkan di negeri ini. Selain itu, batubara juga merupakan penyumbang utama gas rumah kaca penyebab pemanasan global di dunia.

            Seperti yang kita tahu, penambangan batubara telah mengakibatkan 10% kerusakan ekosistem baik di darat, air, serta timbulnya masalah sosisal.Sudah banyak daerah yang menjadi korban akibat penambangan batubara untuk pembuatan pembangkit listrik  tenaga uap itu.

Kehidupan yang tragis dialami oleh pendududk di daerah pembangunan PLTU, serta  tentang jejak kehancuran yang disebabkan oleh penambangan batubara. Sejak PLTU dibangun 7 tahun lalu, sejak itu juga kualitas hidup masyarakat yang tinggal disekitar PLTU tersebut memburuk.

Description: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTHnOrd_ZZCXvQ2fljSnjQ30KVJi5NP0duv-cKkEoObzH8PauGt
doc: google

Pada tahun 2009, penelitian kesehatan yang dilakukan oleh Greenpeace terhadap masyarakat yang bermukim disekitar PLTU, mendapatkan hasil yang mengejutkan. Lebih dari 80% masyarakat yang tinggal disekitar PLTU mengidap penyakit-penyakit yang terkait dengan pernafasan mereka, seperti ISPA, sampai ke radang paru-paru akibat menghirup debu batubara.


Yang lebih menyedihkan, bahwa lebih dari 80% balita yang tinggal disekitar PLTU, mengalami keterbelakangan mental dan keterlambatan pertumbuhan. Serta mengalami berbagai penyakit akibat buruknya lingkungan dan rendahnya kualitas udara.

Setelah batu baranya terkuras habis, tentunya pertambangan akan ditutup. Lahan bekas tambang akan menyisakan kawasan gersang yang merana tanpa guna. Tumbuhan akan sulit tumbuh di tempat seperti itu. Kawasan menjadi sangat tidak produktif. Ketika hujan, air tak terserap tanah. Akibatnya, air tanah berkurang. Dalam keadaan seperti itu, erosi tanah juga akan sangat mudah terjadi. Ancaman banjir dan longsor pun terhampar di depan mata.

Rakyat Indonesia juga harus tegak berdiri meminta pemerintah untuk segera melepaskan ketergantungan terhadap bahan bakar terkotor di planet ini. Masa depan yang aman dan sehat jelas hanya tinggal impian, jika pemerintah terus melanjutkan kecanduannya yang berbahaya ini.

Era batubara sudah berakhir, kini saatnya era energi yang tepat untuk peradaban modern, peradaban yang sehat dan bersih,  peradaban yang akan ditenagai oleh energi terbarukan. Dan  masyarakat luas dapat memahami secara komprehensif bahaya batubara yang sesungguhnya. Patut disayangkan, apabila lahan bekas tambang akhirnya justru mendatangkan bencana bagi manusia.

Kesimpulannya, lahan bekas lokasi tambang batu bara tidak boleh ditinggalkan begitu saja setelah batu baranya dikuras. Perlu usaha serius untuk mengembalikan lahan bekas tambang itu seperti sedia kala. Atau paling tidak mendekati keadaan semula.
Ayo Selamatkan Negeri Kita demi Kelangsungan Hidup Anak Cucu! (G.za)


Referensi

:: Dari Berbagai Sumber ::

Tidak ada komentar:

Posting Komentar