Selamatkan Negeri, Sebelum Terlambat!
Manusia
memiliki pengaruh yang besar terhadap ekosistem. Perubahan ekosistem yang telah
atau sedang terjadi saat ini, umumnya disebabkan oleh aktivitas manusia. Secara
sadar dan tidak, beberapa aktivitas manusia dapat mengganggu kontrol alami
terhadap keseimbangan ekosistem. Akibatnya lingkungan menjadi rusak, dan yang
lebih parah ialah musnah.
Kerusakan
lingkungan, berdampak bagi kelangsungan hidup kelak. Terlebih karena itu ulah
dari manusia sendiri yang kurang dan bahkan tidak tahu bagaimana cara merawat
serta menjaga kelestarian lingkungan. Contoh nyata yang saat ini dan masih
terjadi adalah pengeboran minyak bumi
yang kian meningkat, penggalian batubara, serta pemanasan global.
Hal-hal tersebut yang membuat bumi semakin rusak dan alam tak terjaga dengan
baik. Secara tidak langsung dapat mematikan rantai kehidupan energi anak cucu
kita kelak.
![]() |
| doc : google |
PLTU Pembawa Maut
Seperti yang kita tahu, Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati dan bahan
tambang sebagai komoditi andalan negara. Hal tersebut yang membuat investor baik dalam maupun
luar negeri berminat menanamkan modal di bidang pertambangan. Bahan galian
tambang tersebut seperti minyak bumi, gas alam, batu bara, timah, nikel, besi,
bauksit, tembaga, emas dan platina. Dan saat ini,
Indonesia merupakan salah satu produsen utama batubara di dunia, serta pengekspor
batubara terbesar kedua di dunia setelah Australia.
Manusia, seperti mengalami
kecanduan yang tinggi terhadap bahan bakar fosil , terutama terhadap batubara.
Lebih dari 90% listrik yang dihasilkan di negeri ini berasal dari bahan bakar
fosil. Sepertiganya berasal dari batubara, dan sepertinya pemerintah tidak akan
menghentikan ketergantungan yang sangat tinggi terhadap bahan bakar fosil ini
dalam waktu dekat.
![]() |
| doc: google |
Pemerintah
Indonesia justru menganggap batubara sebagai “Penyelamat” untuk mengatasi permasalahan energi negeri ini. Hal
tersebut terbukti bahwa adanya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap
(PLTU) batubara di seluruh Indonesia dilakukan secara terus menerus.
Pada tahun 2005, pemerintah meluncurkan proyek
percepatan pembangunan PLTU 10000 MW Tahap I, yang keseluruhannya merupakan
pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar batubara. Tak berhenti sampai
disitu, pemerintah menargetkan pada tahun 2030, batubara akan menyumbangkan
separuh dari total listrik yang dihasilkan di negeri ini. Selain itu, batubara
juga merupakan penyumbang utama gas rumah kaca penyebab pemanasan global di
dunia.
Seperti yang kita tahu, penambangan
batubara telah mengakibatkan 10% kerusakan ekosistem baik di darat, air, serta
timbulnya masalah sosisal.Sudah
banyak daerah yang menjadi korban akibat penambangan batubara untuk pembuatan
pembangkit listrik tenaga uap itu.
Kehidupan yang tragis dialami oleh pendududk di
daerah pembangunan PLTU, serta tentang
jejak kehancuran yang disebabkan oleh penambangan batubara. Sejak PLTU dibangun
7 tahun lalu, sejak itu juga kualitas hidup masyarakat yang tinggal disekitar
PLTU tersebut memburuk.
![]() |
| doc: google |
Pada tahun 2009, penelitian kesehatan yang
dilakukan oleh Greenpeace terhadap masyarakat yang bermukim disekitar PLTU, mendapatkan
hasil yang mengejutkan. Lebih dari 80% masyarakat yang tinggal disekitar PLTU
mengidap penyakit-penyakit yang terkait dengan pernafasan mereka, seperti ISPA,
sampai ke radang paru-paru akibat menghirup debu batubara.
Yang lebih menyedihkan, bahwa lebih dari 80%
balita yang tinggal disekitar PLTU, mengalami keterbelakangan mental dan
keterlambatan pertumbuhan. Serta mengalami berbagai penyakit akibat buruknya lingkungan dan rendahnya kualitas udara.
Setelah batu baranya
terkuras habis, tentunya pertambangan akan ditutup. Lahan bekas tambang akan
menyisakan kawasan gersang yang merana tanpa guna. Tumbuhan akan sulit tumbuh
di tempat seperti itu. Kawasan menjadi sangat tidak produktif. Ketika hujan, air tak terserap tanah.
Akibatnya, air tanah berkurang. Dalam keadaan seperti itu, erosi tanah juga akan sangat mudah terjadi.
Ancaman banjir dan longsor pun
terhampar di depan mata.
Rakyat Indonesia juga harus tegak berdiri meminta
pemerintah untuk segera melepaskan ketergantungan terhadap bahan bakar terkotor
di planet ini. Masa depan yang aman dan sehat jelas hanya tinggal impian, jika pemerintah terus melanjutkan kecanduannya
yang berbahaya ini.
Era batubara sudah berakhir, kini saatnya era energi
yang tepat untuk peradaban modern, peradaban yang sehat dan bersih,
peradaban yang akan ditenagai oleh energi terbarukan. Dan masyarakat luas dapat memahami secara
komprehensif bahaya batubara yang sesungguhnya. Patut disayangkan, apabila lahan
bekas tambang akhirnya justru mendatangkan bencana bagi manusia.
Kesimpulannya, lahan bekas lokasi tambang batu bara tidak boleh
ditinggalkan begitu saja setelah batu baranya dikuras. Perlu usaha serius untuk
mengembalikan lahan bekas tambang itu seperti sedia kala. Atau paling tidak
mendekati keadaan semula.
Ayo Selamatkan Negeri Kita
demi Kelangsungan Hidup Anak Cucu! (G.za)
Referensi
:: Dari Berbagai Sumber ::



Tidak ada komentar:
Posting Komentar