Studi kasus pada
Organisasi / Perusahaan untuk mengetahui tingkat Stress, Konflik dan Komunikasi
Organisasi
Manusia pada hakekatnya harus berkomunikasi, yang artinya memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok untuk saling berinteraksi dan bekerjasama. Hal ini merupakan suatu hakekat bahwa sebagian besar pribadi manusia terbentuk dari hasil integrasi sosial dengan sesama dalam kelompok dan masyarakat.
Di dalam kelompok/organisasi, terdapat bentuk
kepemimpinan yang merupakan masalah penting untuk kelangsungan hidup kelompok,
yang terdiri dari pemimpin dan bawahan/karyawan.Di antara kedua belah pihak
harus ada komunikasi timbal balik untuk mencapai cita-cita. Baik cita-cita pribadi,
maupun kelompok demi mencapai tujuan
suatu organisasi.
Dalam
suatu organisasi biasanya selalu menekankan pentingnya sebuah komunikasi antar
anggota untuk menekan berbagai bentuk kesalahpahaman yang sering terjadi,
karena di dalam organisasi berisi kumpulan atau system individu yang melalui
suatu jenjang pembagian kerja untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Sehingga
kecil kemungkinan jika suatu organisasi tidak mengalami sebuah konflik yang
mengakibatkan stress yang dikarena
komunikasi perusahaan tersebut tidak
berjalan maksimal.
Kehidupan organisasi tidak mungkin dipisahkan dari
komunikasi efektif.Komunikasi efektif tergantung pada kemampuan menjawab dan
mengantisipasi perubahan lingkungan luar organisasi sesuai dengan perkembangan
internal organisasi itu.Di samping itu, dalam komunikasi didasari beberapa
perspektif dalam pengembangannya sehingga berperanan penting dalam organisasi untuk
memperoleh suatu hasil yang nyata dan dapat memberikan manfaat untuk kehidupan
yang berkelanjutan.
Stress dan Konflik merupakan masalah yang kerap ditemui dimanapun. Terutama dalam bersosialisasi dengan lingkungan juga dalam berorganisasi.Dalam pengembangannya, stress juga bisa disebabkan karena gejala-gejala fisik yang biasanya berlangsung terlalu lama, seperti halnya dalam merespon suatu tantangan dan mengalami perubahan dalam kehidupan sehari-hari.
Seringnya, stress kerap membuat cara bekerja tubuh menjadi tidak baik, dan biasanya stress yang kerap ditemui adalah karena terlalu beratnya beban pikiran yang berasal dari konflik-konflik tertentu yang sedang terjadi atau dialami. Dan umunya Stres dan Konflik yang telah ada di suatu organisasi dapat dengan cepat menimbulkan efek dalam kinerja juga kelangsungan perubahan dari dasar tingkah dan perilaku kita dalam bersosialisasi dengan sesame anggota organisasi lainnya .dan berujung mengalami perasaan-perasaan aneh seperti ketakutan berlebih, kecemasan, perasaan tidak tenang, gelisah tak menentu, galau, dan secara otomatis akan membuat kita menjadi terganggu dalam pekerjaan.
Konflik yang terjadi dan sering muncul seperti :konflik yang terjadi perseorangan, konflik yang timbul karena tuntutan dalam hati harus memenuhi kebutuhan orang lain, Konflik yang munculkarena kesalahan penanggapan presepsi antar sesame anggota organisasi, Konflik antar kelompok dalam membina organisasi dan masih banyak lagi.
Menurut teori Hans Selye (1982) ,‘stress’ adalah reaksi pertahanan tubuh secara keseluruhan terhadap sumber-sumber penyebab stress/stressor yang terbagi atas 3 proses :
1) (The initial alarm reaction) tubuh bereraksi terhadap tantangan/ancaman dari luar.
2) (Resistance Stage) suhu tubuh normal, tetapi adrenalin tetap dikeluarkan (bertahan,berdaptasi) sehingga kondisi fisiologis tetap terjaga.
3) (Exhaustion Stage) masa kelelahan, bila terus berlangsung akan mengakibatkan kematian.
Selain itu menurut Heaney dan Van Ryn (1990) menjelaskan bahwa stress okupasional berkaitan dengan efek-efek jangka pendek seperti kecemasan kerja, ketegangan kerja, dan kepuasan kerja dan efek-efek jangka panjang seperti depresi, borok, penyakit kardiovaskular dan kematian.
Dan menurut Ray (1991) kepustakaan mengenai stress yang berkaitan dengan pekerjaan secara ajeg menunjukkan bahwa stress menimbulkan pengaruh yang merusak dan berbahaya bagi kesehatan jasmani dan rohani pekerja.
Dalam sebuah organisasi kita menjumpai berbagai macam orang dengan karakter yang berbeda, sehingga kita sebagai anggota organisasi harus bisa mengerti dan memahami satu sama lain. Perbedaan itu membuat tanggapan kita mengenai konflik yang berujung menjadi stress ikut berbeda. Contoh kasus dalam suatu organisasi perusahaan yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki tugas berbeda.
Misalnya antara divisi pembelian bahan baku dan divisi keuangan. Divisi pembelian mengganggap akan efektif apabila bahan baku dibeli dalam jumlah besar dibanding sedikit-sedikit tetapi makan waktu berulang-ulang selain itu pekerjaan menjadi lebih cepat selesai dan mungkin keuntungan jauh lebih banyak karena harga beli bahan mentah akan lebih murah. Sementara divisi keuangan menghendaki jumlah yang lebih kecil karena terbatasnya anggaran dan meminimalisir terjadinya kesalahan kerja akibat jumlah stock yang berlebih dibanding dengan biasanya. Selain itu menurut divisi keuangan juga tidak perlu melakukan pekerjaan yang terburu – buru misal memproduksi barang lebih cepat dari waktu yang ditetapkan karena produksi sudah memiliki standar waktu yang ditentukan. Jika perusahaan memproduksi barang lebih banyak maka akan menguras banyak waktu, tenaga dan biaya operasional dari biasanya.
Dari kedua tipe diatas kita dapat mengetahui sifat dan karakter orang dalam organisasi pasti berbeda dilihat dari kepribadian, cara berfikir dan kinerja. Divisi bagian pembelian memiliki karakter yang pekerja keras, hanya memikirkan keutungan dan tidak sabar, sedangkan divisi keuangan memiliki sifat tidak berani berspekulasi, terkesan santai dan menghargai waktu.Kesimpulanya, jika mengalami sebuah problematika divisi pembelian lebih cepat mengalami stress dari pada divisi keuangan.Dari hal kecil itu yang sering menimbulkan konflik.Lalu hal-hal yang akan berdampak pada perusahaan jika terjadi stress dan konflik adalah produktivitas rendah, dapat juga menyebabkan pekerjaan dalam perusahaan terhambat. Sehingga suatu organisasi/perusahaan harus memiliki kiat dan solusi dalam menangani suatu permaslahan agar tidak menimbulkan kerugian baik individu maupun kelompok.
Dari uraian di atas maka pada dasarnya stres bersumber dari beberapa
hal:
- faktor-faktor yang melekat pada pekerjaan
- peranan dalam organisasi
- perkembangan karir
- struktur dan iklim organisasi
- hubungan organisasi dengan pihak luar
- faktor yang berasal dari dalam diri individu
Menurut Cox. T
dalam bukunya Stress “Biltimore University Park Press” (1978) menyatakan bahwa stress diakibatkan sebagai
berikut :
a. efek subyektif
Kecemasan, agresi, apatis, kebosanan, depresi, kelelahan, frustasi, rasa bersalah dan rasa malu, mudah tersinggung, marah dan buruk, moodines, rendah diri, ancaman dan ketegangan, kegugupan, dan kesepian.
b. efek perilaku
Wilayah rawan kecelakaan, penggunaan narkoba, outbrust emosional, makan berlebihan atau kehilangan nafsu makan, minum berlebihan dan merokok, rangsangan, perilaku impulsif, gangguan bicara, tertawa gugup, gelisah, dan gemetar.
c. efek Cognitives
Ketidakmampuan untuk membuat keputusan dan concetrate, sering lupa, hipersensitivitas terhadap kritik, dan blok mental.
d. efek fisiologis
Peningkatan darah dan urin katekolamin dan kortikosteroid, peningkatan kadar glukosa darah, peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, kekeringan pada mulut, berkeringat, dilations murid, kesulitan bernafas, mantra panas dan dingin, benjolan di tenggorokan, mati rasa dan kesemutan di beberapa bagian anggota badan .
e. efek organisasi
Absensi, hubungan industrial miskin dan produktivitas yang buruk, kecelakaan yang tinggi dan turn tenaga kerja selama harga, iklim organisasi miskin, antagonisme di tempat kerja, dan ketidakpuasan kerja.
Kecemasan, agresi, apatis, kebosanan, depresi, kelelahan, frustasi, rasa bersalah dan rasa malu, mudah tersinggung, marah dan buruk, moodines, rendah diri, ancaman dan ketegangan, kegugupan, dan kesepian.
b. efek perilaku
Wilayah rawan kecelakaan, penggunaan narkoba, outbrust emosional, makan berlebihan atau kehilangan nafsu makan, minum berlebihan dan merokok, rangsangan, perilaku impulsif, gangguan bicara, tertawa gugup, gelisah, dan gemetar.
c. efek Cognitives
Ketidakmampuan untuk membuat keputusan dan concetrate, sering lupa, hipersensitivitas terhadap kritik, dan blok mental.
d. efek fisiologis
Peningkatan darah dan urin katekolamin dan kortikosteroid, peningkatan kadar glukosa darah, peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, kekeringan pada mulut, berkeringat, dilations murid, kesulitan bernafas, mantra panas dan dingin, benjolan di tenggorokan, mati rasa dan kesemutan di beberapa bagian anggota badan .
e. efek organisasi
Absensi, hubungan industrial miskin dan produktivitas yang buruk, kecelakaan yang tinggi dan turn tenaga kerja selama harga, iklim organisasi miskin, antagonisme di tempat kerja, dan ketidakpuasan kerja.
Dari contoh kasus tersebut, divisi
pembelian dapat dikategorikan sebagai orang yang ingin segalanya serba cepat, tidak sabaran bergulat keras untuk memikirkan dua
atau tiga hal sekaligus, dan menjadi sukses dengan cara sederhana. Namun watak yang dimilikinya dapat
mengakibatkan kecenderungan stress lebih cepat dan jika hasil pekerjaanya
meleset sesuai perhitungan sehingga mengalami suatu hambatan di tengah jalan
dapat merugikan organisasi/perusahaan.
Divisi pembelian yang ambisius dan
terkesan tidak sabaran biasanya sulit untuk menerima masukan dari anggota
lainnya, karena sifat negatif tersebut yang dapat menyebabkan konflik.Hal
terburuk yang akan terjadi jika divisi pembelian mengalami stress dan kemudian tidak dapat
ataupun tidak mau bekerja dengan yang lain, maka pekerjaan dalam organisasi
tersebut akan terbengkalai dan merugikan banyak pihak. Sehingga sebagai divisi
keuangan yang memegang peranan penting dalam segala operasional perusahaan
harus memiliki sifat yang tegas dan sebaiknya jangan puas dengan hasil yang
biasanya dicapai. Adakalanya bermain spekulasi demi kemajuan suatu organisai
atau perusahaan dengan bantuan dari divisi pembelian dan divisi lainya agar
tidak terjadi kesalahan kerja yang dapat menimbulkan konflik.
Dipandang
sebagai perilaku, konflik merupakan bentuk minteraktif yang terjadi pada
tingkatan individual, interpersonal, kelompok atau pada tingkatan organisasi
(Muchlas, 1999). Konflik ini terutama pada tingkatan individual yang sangat
dekat hubungannya dengan stres.
Ada tiga teori konflik yang menonjol dalam ilmu
social, Pertama adalah teori konflik C. Gerrtz, yaitu tentang primodialisme,
kedua adalah teori konflik Karl. Marx, yaitu tentang pertentangan kelas, dan
ketiga adalah teori konflik James Scott, yaitu tentang Patron Klien.
Konflik dinyatakan dengan berbagai cara, dari verbal, non
verbal, hingga yang bersifat anarki. Didalam suatu konflik perlu adanya manejemen konflik agar konflik yang
terjadi dalam organisasi dapat terpecahkan dan menemui solusi yang tepat tanpa mengesampingkan orang yang
bersangkutan maupun organisasi itu sendiri. Ada beberapa faktor penyebab konflik,
yaitu :
- Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik.Artinya,
setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan
lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang
nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani
hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya.
- Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola
pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang
berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat
memicu konflik.
- Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda.Oleh sebab itu, dalam
waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan
yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi
untuk tujuan yang berbeda-beda.
- Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi,
tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan
tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial.
Selain itu konflik dapat berkembang karena berbagai sebab, antara lain
sebagai berikut:
- Batasan pekerjaan yang tidak jelas
- Hambatan komunikasi
- Tekanan waktu
- Standar, peraturan dan kebijakan yang tidak masuk akal
- Pertikaian antar pribadi
- Perbedaan status
- Harapan yang tidak terwujud
Kita
ambil contoh suatu konflik yang terjadi dalam suatu organisasi misal PSSI.
Kasus tersebut menimbulkan konflik dan
perpecahan suatu organisasi dan berdampak luas bagi anggotanya. Kasus tersebut
mungkin sudah lama terjadi namun sampai sekarang belum juga ada penyelsaian
yang pasti karena lemahnya hukum di negara kita. Kasus tersebut terjadi
disebabkan oleh kurang becusnya ketua seorang Ketua yang memegang peranan dan
wewenang khusus dalam mengelola organisasi itu tersebut.Padahal organisasi yang
sebesar itu yang bernaung langsung dibawah pimpinan pemimpin Indonesia dan
organisasi sepakbola dunia yaitu FIFA (Federation International Football
Asosiation). Akan tetapi PSSI tidak menunjukan kinerja yang baik dimata
masyarakan Indonesia bahkan dimata dunia.
Bukan berbagai prestasi yang diraih,
namun pertikaian antar anggota organisasi bahkan para pemain sering kita
dengar. Hal utama yang menyebabkan organisasi ini gagal dan boleh dibilang kacau
dikarenakan oleh pemimpin organisasi PSSI yaitu Nurdin Khalid yang telah gagal
dalam memimpin dan mengelola organisasi ini. Sudah banyak kasus yang menimpa
ketua umum organisasi ini, yang paling utama adalah kasus korupsi yang Ia
lakukan terhadap dana-dana yang harusnya di alokasikan untuk kemajuan sepakbola
di negeri kita ini , tetapi malah dimasukan dalam rekening gembung miliknya,
dan itu sebagai bukti dia pernah dinyatakan sebagai terpidana atas kasus
korupsi dalam PSSI .
Dan akibat dari kegagalan itu FIFA melayangkan surat
penurunan kepana Nurdin Khalid untuk meninggalkan kursi singgasananya sebagai
ketua PSSI , akan tetapi Nurdin Khalid malah menutupi surat yang
dilayangkan FIFA itu dari publik .Namun pada akhirnya setelah Nurdin Khalid meniggalkan
kekuasaannya , kisruh dalam PSSI tidak selesai sampai disitu saja .Perlu
sekurang lebihnya 5 sampai 7 kali pemilihan ulang ketua umum PSSI. Namun pada
akhirnya Johar Arifin pun menempati posisi yang telah ditinggalkan oleh Nurdin
Khalid organisasi PSSI. Setelah pergantian pemimpin yang baru di dalam
organisasi PSSI, memang kita belum mendengar kabar baik tentang keberhasilan
atau prestasi yang diraih timnas Indonesia, namun setidaknya konflik antar
anggota sudah tidak kita dengar lagi.
Dari
contoh kasus diatas, suatu problema atau konflik dalam organisasi/ perusahaan dapat dicegah atau dikelola dengan berbagai cara,
yaitu:
- Disiplin : Mempertahankan disiplin dapat digunakan untuk mengelola dan mencegah konflik dengan mengetahui dan memahami peraturan-peraturan yang ada dalam organisasi.
- Pertimbangan Pengalaman dalam Tahapan Kehidupan : mencapai tujuan sesuai dengan pengalaman dan tahapan hidupnya. Misalnya :jika salah satu pegawai divisi ada yang berprestasi dapat dipromosikan untuk mengikuti pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, sedangkan bagi pegawai senior yang berprestasi dapat dipromosikan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi tan adanya rasa saling curiga/iri.
- Komunikasi : Komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang terapetik dan kondusif. Suatu upaya yang dapat dilakukan manajer untuk menghindari konflik adalah dengan menerapkan komunikasi yang efektif dalam kegitan sehari-hari yang akhirnya dapat dijadikan sebagai satu carayang dipakai dalam kehidupan sehari – hari para pekerja.
- Mendengarkan secara aktif : Mendengarkan secara aktif merupakan hal penting untuk mengelola konflik.
dan dalam suatu organisasi/perusahaan
harus memiliki Strategi Dalam Menyiasati Konflik, yaitu :
a) Menghindar
b) Mengakomodasi
c) Kompetisi
d) Kompromi atau Negosiasi
e) Memecahkan Masalah atau Kolaborasi
Stress dan konflik dalam
organissasi juga tidak selalu menimbulkan dampak negatif, namun juga memiliki
manfaat dan dampak yang positif yaitu :
(1)
organisasi akan menjadi lebih dinamis
(2)
konflik sebagai suatu peristiwa, dapat dikenang sebagai pengalaman berharga
didalam organisasi.
(3)
stress dan konflik yang ada dan diakibatkan oleh pembuatan kebijakan
mengenai
kesejahteraan atau pengupahan akan menyadarkan pihak pimpinan organisasi untuk
lebih berhati-hati dalam hal pengambilan keputusan
(4) stress
dan konflik yang berhasil diatasi dan memuaskan dua
belah
pihak, akan menciptakan pribadi-pribadi yang kreatif, kritis, dan lebih
inovatif,
(5)
stress dan konflik juga akan menyadarkan semua bagian-bagian dalam organisasi
atas makna sebuah kemajemukan.
kesimpulan
:
Dalam sebuah organisasi atau perusahaan tentu terdapat
berbagai macam dapat kita jumpai karakteristik dan perwatakan yang berbeda beda
namun memiliki tujuan yang sama yaitu demi kelangsungan hidup. Namun kadang
caranyalah yang dianggap oleh sebagian orang salah sehingga menimbulkan
konflik.
Jika dalam suatu perusahaan sering terjadi konflik antar anggota,
dapat menyebabkan suatu keadaan yang dapat mengganggu pikiran, menurunnya
semangat kerja bahkan gairah untuk hidup sudah tidak ada. Hal tersebut yang
sering dinamakan sebagai setress. Menurut pandangan beberapa ahli sudah
dijelaskan apa itu stress, penyebab stress, macam – macam stress dan konflik
dalam suatu perusahaan yang dapat menimbulkan stress. Dan stress yang
berkepanjangan dikarenakan adanya perbedaan pendapat yang berkepanjangan dan
menimbulkan konflik.
Stress dan konflik sangat berhubungan karena dimana timbulnya stress
dapat memunculkan suatu konflik pribadi maupun kelompok didalam organisasi atau perusahaan
tersebut.
Sehingga perlu adanya solusi dan kiat khusus untuk meminimalisir bahkan menyelesaikan
konflik tersebut.Sehingga kinerja para anggota dapat berjalan sesuai dengan
porsinya.
Dan tindakan pencegahan suatu konflik yang dapat dilakukan oleh perusahaan terhadap karyawannya dalam suatu
organisasi adalah terus memonitor dan sesekali mengadakan kumpul-kumpul bersama
berupaya melakukan pencerahan bagi karyawan. Lalu, ubahlah persepsi, dalam arti berilah makna baru terhadap suatu situasi.
Bila seseorang mengalami kegagalan, katakan kepada orang tersebut bahwa ia
masih memiliki kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru, dan bisa mengatasi kegagalan
tersebut kalau masih mau lmelangkah menjadi yang lebih baik.Juga ubahlah perilaku,
maksudnya Bila pekerjaan membuat stress lalu stress itu menimbulkan konflik
terhadap sesame karyawan dan akhirnya dapat menyebabkan perasaan yang tak
nyaman atau tertekan, ubahlah perilaku kerja anda.Terimalah perubahan yang
terjadi, dan beradaptasilah dengan situasi pekerjaan itu.
Referensi :
A.
Judge. Timothy dan Stephen P. Robbins. 2008. Prilaku Organisasi, Edisi 12.
Jakarta: Salemba Empat.
http://www.kemhan.com/2008/07/pengaruh-konflik-stress-terhadap.html( diunduh
tanggal 24 Juni 2013 pukul 22.32 WIB)
http://dhogerz.wordpress.com/2010/10/21/komunikasi-dalam-organisasi/( diunduh tanggal 24 Juni 2013 pukul
22.32 WIB)
http://dhayuachmad.blogspot.com/2011/05/pentingnya-komunikasi-dalam-perusahaan.html( diunduh
tanggal 24 Juni 2013 pukul 22.32 WIB)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar